Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengaruh Elemen Ruang Luar terhadap Lingkungan Termal pada Ruang Semi Terbuka (Studi Objek: Hava Cafe & Resto, Bintaro) Saputri, Nadira Salsabila Naurah; Wibisono, Iwan
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu solusi mengatasi peningkatan suhu adalah pengaturan ruang terbuka baik yang saat ini banyak diterapkan pada bangunan publik. Elemen ruang luar yang ada pada ruang terbuka dapat menciptakan kondisi termal yang nyaman. Hava Cafe & Resto memiliki ruang semi terbuka yang lebih sering dipilih oleh pengunjung dibandingkan dengan ruang lainnya. Perbedaan elemen ruang luar pada ruang terbuka Hava Cafe & Resto akan menghasilkan lingkungan termal ruang semi terbuka yang berbeda. Metode penelitian ini adalah deskriptif evaluatif dengan menggunakan pengukuran lapangan untuk mengetahui suhu, kelembapan dan kecepatan angin pada ruang semi terbuka dengan jumlah enam titik pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vegetasi merupakan elemen yang paling berpengaruh pada lingkungan termal. Tanaman perdu yang memiliki struktur daun tebal dapat menurunkan suhu udara dan memecah kecepatan angin yang dating, namun akan menaikkan kelembapan udara dengan lebih tinggi.
Perancangan Solo Baru City Sports Clubhouse dengan Penerapan Arsitektur Biofilik Ananta, Eriska Putri; Wibisono, Iwan
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pemerintah Kota Surakarta tengah menggagas pengembangan Solo Sport City sebagai bentuk komitmen terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan fasilitas olahraga. Sebagai kawasan satelit dengan potensi pengembangan kawasan yang tinggi, Solo Baru menjadi lokasi yang strategis untuk menghadirkan fasilitas olahraga berskala kota. Di Solo Baru, saat ini terdapat banyak middle rise hingga high rise building yang minim area terbuka hijau di sekitarnya. Perancangan Solo Baru City Sports Clubhouse bertujuan untuk menciptakan fasilitas yang mendukung rencana pemerintah tersebut, melalui pendekatan Arsitektur Biofilik. Perancangan ini menggunakan metode desain rasionalisme dengan objek studi preseden  SAFRA Choa Chu Kang, Singapura. Langkah-langkah desain melibatkan analisis objek preseden, pengembangan aturan perakitan, dan penerapan konsep Arsitektur Biofilik dalam proses desainnya. Hasil desain merupakan Sports Clubhouse yang mengintegrasikan elemen alami ke dalam lingkungan buatan dengan penerapan 14 prinsip Arsitektur Biofilik. Desain ini diharapkan dapat menjadi prototipe perancangan fasilitas olahraga di kawasan urban yang mendukung visi pemerintah dan memberikan kontribusi nyata bagi kegiatan olahraga dan rekreasi dengan memaksimalkan potensi alam.   Kata kunci: Sports Clubhouse, Arsitektur Biofilik, Metode Rasionalisme, Solo Baru     ABSTRACT The Surakarta City Government is currently initiating the development of Solo Sport City as a form of commitment to improving the quality of life of the community through the provision of sports facilities. As a satellite area with high potential for regional development, Solo Baru is a strategic location to present city-scale sports facilities. In Solo Baru, there are currently many middle rise to high rise buildings with minimal green open areas around them. The design of the Solo Baru City Sports Clubhouse aims to create facilities that support the government's plan, through a Biophilic Architecture approach. This design uses a rationalism design method with the object of the precedent study SAFRA Choa Chu Kang, Singapore. The design steps involve analyzing precedent objects, developing assembly rules, and applying the concept of Biophilic Architecture in the design process. The design result is a Sports Clubhouse that integrates natural elements into the built environment by applying 14 principles of Biophilic Architecture. This design is expected to be a prototype for designing sports facilities in urban areas that support the government's vision and provide real contributions to sports and recreational activities by maximizing natural potential.   Keywords: Sports Clubhouse, Biophilic Architecture, Rationalism Method, Solo Baru
Tingkat dan Jenis Perubahan Fisik Ruang Dalam Pada RumahProduktif (UBR) Perajin Tempe Kampung Sanan, Malang Wibisono, Iwan
RUAS Vol. 11 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2013.011.02.8

Abstract

Rumah di Indonesia yang berangkat dari sistem religi dan budaya, memiliki fungsi dasar yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan segala macam aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Kesetimbangan dalam pengelolaan kegiatan rumah tangga dengan kegiatan produktif sangat diperlukan mengingat pengelolaan kedua kegiatan ini pada intinya sama, yaitu keluarga. Adanya fungsi produktif tersebut membawa dampak yang cukup signifikan terhadap pola tatanan ruang dalamnya. Keberadaan aktivitas produksi yang masuk ke dalam fungsi rumah hunian, maka akan menyebabkan terjadinya konsekuensi-konsekuensi tertentu yang dilakukan penghuni (dalam hal ini perajin tempe) pada ruang dalam rumahnya, apakah itu berupa penambahan jumlah ruang, luas ruang maupun perubahan pada material ruang (hunian dan produksi). Perubahan fisik ruang dalam rumah tersebut dapat dikategorikan ke dalam tiga tingkatan, yaitu perubahan ringan, sedang, maupun berat/total dibandingkan dari bentuk awal bangunan (ataupun dari fungsi rumah hunian jika memungkinkan). Masing-masing dari tingkat tersebut memiliki jenis perubahan yang berbeda. Untuk itu diperlukan identifikasi lebih lanjut tentang perubahan fisik ruang dalam apa saja yang terjadi akibat dari adanya fungsi produktif yang ada di dalam rumah hunian perajin tempe di Kampung Sanan. Setelah itu, kemudian peneliti berdasarkan variabel-variabel tertentu akan dapat dikelompokkan tingkat dan jenis perubahannya. 
Analyzing Land Surface Temperature on Green Open Space at the Brawijaya University Wibisono, Iwan
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol. 17 No. 1 (2026): Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari
Publisher : Graduate School of Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpal.2026.017.01.04

Abstract

The provision of Green Open Space (GOS) in Malang City has not yet fulfilled the minimum proportion mandated by Law Number 26 of 2007 on Spatial Planning. This shortfall has contributed to the emergence of the Urban Heat Island (UHI) phenomenon, which poses increasing environmental and thermal comfort challenges in urban areas. One of the primary drivers of UHI in Malang City is the extensive conversion of green land into built-up areas, particularly for residential development. As urban expansion continues, private residential land holds significant potential to function as supplementary green open space, thereby contributing to urban microclimate regulation. This study aims to analyze differences in land surface temperature across various green open space components by comparing hardscape and softscape elements within three Green Open Spaces located at Universitas Brawijaya. Land surface temperature measurements were conducted over three consecutive days, with observations carried out for 12 hours each day at two-hour intervals. The results indicate a clear distinction between surface temperatures of hardscape and softscape materials. Softscape elements consistently exhibited lower surface temperatures compared to hardscape materials, demonstrating their effectiveness in mitigating heat accumulation. Among the materials analyzed, andesite exhibited the highest surface temperature, reaching up to 37°C, while water bodies, such as ponds, recorded the lowest surface temperature at approximately 23°C. These findings highlight the critical role of softscape components, particularly vegetation and water features, in reducing surface temperatures and mitigating UHI effects. Keywords: Green Open space, Hardscape, Softscape, Surface Temperature