Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PERANAN MANTHUQ DAN MAFHUM DALAM MENETAPKAN HUKUM DARI AL- QUR’AN DAN SUNNAH Ahmad Atabik
YUDISIA : Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Vol 6, No 1 (2015): YUDISIA
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/yudisia.v6i1.1478

Abstract

The article discusses mantuq and mafhum in drawing the laws from Qur’an and Sunnah. The author begins with the understanding of manthuq and mafhum. According to Al-Qatthan (2002: 358) manthuq is a meaning that is indicated by lafadh according to its words, the meaning is based on the spoken letters. On the other hand, mafhum is meaning indicated by lafadh based on other than its sound. The ushuliyyin differentiates mafhum into two kinds, namely: a) mafhum muwafaqah or dilalah nash, meaning the law in accordance with manthuq, and b) mafhum mukhalafah means unspoken meaning which is drawn from manthuq but the opposite. There are dispute among scholars over manthuq and mafhum. Scholars agree on using manthuq as hujjah (proof), but most of them have different opinions about using mafhum as hujjah. They agree on the validity of mafhum muwafaqah as proof (hujjah) except Zahiri schools. However, mafhum mukhalafah is allowed and recognized only by Maliki, Shafi’i and Hanbali. While the Hanafi and his companions refused it
MANAGEMEN DAKWAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN Ahmad Atabik
TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah Vol 1, No 1 (2016): Tadbir Jurnal Manajemen Dakwah
Publisher : TADBIR : Jurnal Manajemen Dakwah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam artikel ini, penulis memaparkan kajian tentang manajemendakwah al-Qur’an. Kajian yang dibahas adalah tentang pengertianmanajemen dakwah; pada kesempat ini akan dibahas pulabagaimana al-Qur’an juga secara implisit telah membicarakantentang menajemen dakwah ini. Selain pengertian manajemendakwah, akan pula dipaparkan tentang lembaga dakwah dalamal-Qur’an, gaya Bahasa al-Qur’an dalam berdakwah dan lainnya.Manajemen dakwah merupakan proses perencanaan tugas,mengelompokkan tugas, menghimpun dan menempatkan tugasdan kemudian menggerakkan kearah pencapaian tujuan dakwah, yaitu kebahagiaan dunia akhirat. Dengan adanya perencaan dalam berdakwah ini, maka dakwah tidak dipandang dalam objekubudiyyah semata, namun juga merupakan bentuk implementasidari berbagai macam profesi.
THE LIVING QUR'AN: POTRET BUDAYA TAHFIZ AL-QUR'AN DI NUSANTARA Ahmad Atabik
Jurnal Penelitian Vol 8, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v8i1.1346

Abstract

The Living Qur’an:  nusanTara Qur’an Tahfiz cuLTure porTraiT. The study of the living Qur’an is the study of a variety of social events related to the presence of the Qur’an or the existence of the Qur’an in certain a Moslem community. Based on it, it will seem the social response (reality) of the Moslem community to make a living and turn on the Qur’an through a continuous interaction. The living Qur’an actually originated from the Qur’an phenomena in everyday life, that is, the meaning and function of the Qur’an that real are understood and experienced by the Moslem community. among the living Qur’an found on the archipelago’s Moslem community is culturally or memorize (tahfiz) of the Qur’an. This tradition is one of the many phenomenon of Moslem in turn or present the Qur’an in everyday life by means of read through it entirely. This tradition is widespread in some indonesian islamic community, especially among the students of boarding school (santri), as a result it form an entity of local culture.
ANALISIS HISTORIS PERKEMBANGAN BANK SYARIAH Ahmad Atabik
IQTISHADIA Vol 6, No 2 (2013): IQTISHADIA
Publisher : Ekonomi Syariah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/iqtishadia.v6i2.1109

Abstract

 Artikel ini mengeksplorasi tentang ; a) sisi historitas munculnya bank syariah,  terkait  dengan  konsep ekonomi syariah,  yang awalnya  telah  ada pada zaman Rasulullah; b) penulis  juga menyuguhkan   latar belakang  yang menyebabkan   berdirinya bank syariah, yang tiada lain karena mencari solusi atas sistem perbankan yang disinyalir menggunakan sistem bunga (riba); c) tulisan ini juga mendiskripsikan kebutuhan mendesak umat Islam terhadap adanya bank syariah, tujuan didirikannya bank syariah (menyediakan fasilitas keuangan dengan cara mengupayakan instrumen-instrumen   keuangan  yang sesuai dengan  ketentuan- ketentuan dan norma-norma syariah. Selain itu, diambil juga dari nilai-nilai Islam  dan dapat diwujudkan dalam masing-masing kegiatan operasionalnya), d) serta hal-hal yang terkait  dengan sistem-sistem yang telah ada dalam fiqih mu’amalat yang dapat diaplikasikan dalam sistem ekonomi dan perbankan syariah. Kata kunci: historitas, bank, musyarakah, mudarabahHISTRICAL ANALYSIS OF ISLAMIC BANKING This article explore about; a) historitas side of the emergence of Islamic banking , related  to the concept of sharia economy, originally was at the time of the Messenger of Allah; b) The author also presents the background cause the establishment of sharia banks, which no other because of the search for the solution of the banking system which is possibly using the system of interest (usury); c) this article also define ecological urgent need of Islam against the sharia banks, purpose built sharia banks (provide financial facility with how to seek financial instruments  in accordance with the terms of the terms and norms of the shari’a. In addition, taken also from the values of Islam and can be realized in each operational activities), d) and the things that are associated with the systems that have been there in fiqh mu’amalat that can be applied in the economic system and Islamic banking. Keywords: historical, banking , musyarakah, mudarabah
Harmonisasi Kerukunan Antar Etnis dan Penganut Agama di Lasem Ahmad Atabik
FIKRAH Vol 4, No 1 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.138 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v4i1.1511

Abstract

Artikel ini mengeksplorasikan tentang kerukunan antar etnis dan antar umat beragama di Lasem. Dalam sejarahnya, interaksi sosial yang terjadi antara masyarakat Lasem pribumi dengan etnis Cina, sejak abad 14 hingga abad 16. Meskipun interaksi kedua etnis tersebut mengalami pasang surut, namun harmoni dan toleransi itu senantiasa berjalan dengan baik. Kedatangan etnis Cina di Lasem melahirkan kebudayaan dan pluralitas dalam masyarakat. Pluralitas itu membentuk sebuah harmonisasi kerukunan dalam beragama dan bersosial. Hubungan yang harmonis antara kedua etnis tersebut terutama ketika bersama-sama melawan penjajah Belanda di bumi Lasem. Harmoni dan toleransi masyarakat muslim Lasem juga dapat lihat dari interaksi penduduk asli secara baik dengan para pendatang, baik yang beragama muslim maupun non muslim yang kebanyakan dari etnis Cina. Dalam kehidupan sehari-hari, harmoni terjaga karena beberapa faktor, yakni perkawinan silang, perasaan bersaudara antarwarga, hingga terbukannya ruang-ruang sosial. Perkawinan silang antarwarga lintas etnik yang terdiri dari orang Tionghoa, pribumi Jawa dan santri, terjadi sejak hadirnya orang Tionghoa di Lasem. Dari sini nampak jelas adanya harmonisasi antar entis dan umat beragama di Lasem sejak zaman jauh sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang ini.
Corak Tafsir Aqidah (Kajian Komparatif Penafsiran Ayat-ayat Aqidah) Ahmad Atabik
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v17i2.1288

Abstract

This article seeks to describe the theological genre of Qur’anic exegesis with special reference to the comparative sudy on various Qur’anic exegesis towards theological verses. In the course of kalām (theology), there are plenty of  Islamic sects, those who involved in the debate of disputed theological issues, most notable of them are the Ash’arite and the Mu’tazilite. Their contention concerning theological issues has also affected the mufassir (Qur’anic exegetes), those who interpret the Qur’anic verses. Some problems which are previously not taken into consideration, gradually systematized, conceived, polarized, and even cause the contention among Islamic community. In this paper, i describe and analyze two issues on kalām discourse; the word of God (kalām Allāh) and ru’yatullāh (seeing God in heaven). In the disputes on both issues, i also provide the Qur’anic exegesis from Mu’tazilite, Asy’arite, and Salafi-Wahabi.[Artikel ini akan memaparkan tentang cora tafsir akidah dengan kajian spesifiknya komparasi penafsiran terhadap ayat- ayat akidah. Dalam kajian ilmu kalam (teologi), terdapat beberapa sekte yang banyak melakukan perdebatan dalam permasalahan kalam, yaitu Kaum Mu’tazilah dan Asyr’ariyyah. Pemikiran kedua sekte ini mengimbas kepada para mufassir (ahli tafsir) yang menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Masalah-masalah yang dulunya tidak terfikiran, secara berangsur menjadi terfikirkan, tersistematisasi, terkonsepsi, dan terpolarisasi, bahkan acap kali berimplikasi pada pertengkaran antar umat Islam. Pada kajian ini, penulis setidaknya mendeskripsikan sealigus menganalisa dua tema perdebatan kalam, yaitu permaslahan kalam Allah dan ru’yatullāh (melihat Allah). Dalam perdebatan terhadap dua tema tersebut, penulis juga menyuguhan penafsiran dari sekte Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Salafi-Wahabi.]