D.I. Ansusa Putra
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSEP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Dahliana Sukmasari; D.I. Ansusa Putra
At-Tibyan Vol 3 No 1 (2020): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v3i1.15

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh realitas yang memprihatinkan dan memerlukan perhahian yaitu cara pandang masyarakat terhadap pencapaian kesejahteraan yang terlalu materialistik. Hal ini mendorong penulis untuk menganalisis kembali konsep kesejahteraan masyarakat yang termuat dalam al-Qur’an yang dijabarkan oleh para mufassirin melalui tulisan-tulisannya. khususnya pada kitab tafsir tahlili corak adabul ijtima’I karya M. Quraish Shihab, Ahmad Musthafa Al-Maraghi dan Buya Hamka. Pendekatan penelitian yang penulis gunakan adalah (library research) dalam teknis deskriptif kualitatif eksploratif dengan menekankan pada sumber tertulis terutama karya tafsir M. Quraish Shihab, Ahmad Musthafa Al-Maraghi dan Buya Hamka (Tafsir Al-Mishbah, Tafsir Al-Maraghi dan Tafsir Al-Azhar). dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik penelusuran yakni menelusuri kata kesejahteraan masyarakat yang terdapat dalam buku-buku perpustakaan, jurnal-jurnal maupun web-site. Hasilnya penulis menemukan bahwa hakikat kesejahteraan itu dapat diperoleh apabila masyarakat terbebas dari jeratan kekufuran, kemiskinan, kebodohan dan rasa takut. dan hal ini didapatkan apabila masyarakat memperkukuh keimanan dan tidak mencampurkannya dengan segala bentuk kezhaliman lalu kemudian direalisasikan melalui amal saleh atau amal kebajikan.. Akhirnya penulis merekomendasikan kepada umat Islam untuk dapat menambah keimanan dengan cara lebih mengenal Allah sehingga dapat menarik perhatian-Nya untuk memberikan anugerah kesejahteran.
BATASAN SEKSUALITAS DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PRAKTIK SEKSUAL KONTEMPORER: ANALISIS TAFSIR MAQĀṢIDĪ ATAS QS. AL-MU’MINŪN [23]: 5–7 Yuliani; D.I. Ansusa Putra; Nurfazillah
At-Tibyan Vol 9 No 1 (2026): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/nq6z5646

Abstract

The development of contemporary sexual practices has given rise to various forms of sexual relationships that depart from the normative boundaries traditionally recognized in Islamic teachings. This phenomenon calls for a comprehensive understanding of the Qur’anic concept of sexuality to ensure that its underlying values remain relevant to the challenges of modern society. This study aims to analyze the boundaries of sexuality in the Qur’an based on Qur’an 23:5–7 and to examine their relevance to contemporary sexual practices through a maqāṣidī approach to Qur’anic exegesis. Employing a qualitative method and a library research design, this study draws primarily on the Qur’an and relevant exegetical works as its principal sources. The primary data consist of Qur’an 23:5–7 and relevant works of Qur’anic exegesis, while secondary data are derived from books, journal articles, and scholarly literature addressing sexuality in Islam, including Abdul Mustaqim’s Tafsir Maqāṣidī. The findings demonstrate that Qur’an 23:5–7 remains highly relevant to contemporary forms of sexual transgression within marriage. These verses emphasize the obligation to safeguard sexual dignity and confine sexual relations to a lawful marital bond. From the perspective of maqāṣidī exegesis, practices such as open marriage and swinging have the potential to undermine the fundamental objectives (maqāṣid) of Islamic law. Accordingly, this study underscores the importance of strengthening the understanding of Islamic sexual norms to ensure that marital relationships remain within the framework of Islamic law and that human well-being (maṣlaḥah) is preserved.