Wiekandini Dyah Pandanwangi
Jenderal Soedirman University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KOMIK WAYANG ANAK PANDAWA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER DI JAMAN KEKINIAN Wiekandini Dyah Pandanwangi; Farida Nuryantiningsih
Journal of Urban Society's Arts Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v5i1.2208

Abstract

ABSTRAK Wayang telah melekat dan menjadi bagian hidup bangsa Indonesia khususnya Jawa. Dalam seni wayang, terdapat kearifan lokal yang bermanfaat untuk membangun karakter dan jati diri bangsa Indonesia yang tergambarkan melalui cerita dan watak para tokohnya. Pembangunan karakter yang berlandaskan kearifan lokal sebagai jati diri bangsa Indonesia bagi generasi muda sangatlah penting untuk mencetak anak bangsa yang cerdas, berkepribadian, dan berahklak mulia. Terlebih lagi jaman sekarang dimana anak-anak Indonesia sudah mulai luntur karakter aseli sebagai bangsa Indonesia karena tergerus globalisasi dan kecanggihan teknologi. Rasa hormat dan sopan santun kepada orang yang tua mulai pudar. Sifat yang individualistis lebih ditonjolkan sehingga terasa tidak humanis lagi kepada sesamanya. Itulah yang disebut sebagai istilah kids jaman now. Melihat hal tersebut, diperlukan media pendidikan karakter yang tepat untuk anak-anak.  Media pendidikan karakter yang diilhami oleh budaya asli bangsa Indonesia seperti komik wayang anak Pandawa. Melalui media komik wayang anak Pandawa, akan dibangun karakter dalam diri anak dengan penanaman nilai-nilai kearifan lokal, yaitu mengenalkan cerita dan tokoh-tokoh wayang Pandawa. Semua tokoh dalam cerita wayang memiliki karakter yang bersumber dari kepribadian asli bangsa lndonesia. Filosofi kehidupan dalam cerita wayang dan karakter tokoh pewayangan perlu untuk dimaknai lebih mendalam karena esensinya sangat berguna bagi kehidupan, terlebih lagi untuk disampaikan pada generasi muda. Oleh sebab itu, komik wayang anak Pandawa diperlukan sebagai media untuk memahami filosofi kehidupan dalam cerita wayang dan karakter tokoh pewayangan sehingga mampu diserap dengan mudah oleh anak-anak. AbstractWayang have been embodied and become part of the life of the Indonesian people, especially Java. In the art of wayang, there is a local wisdom that is useful to build the character and identity of the Indonesian people which is depicted through the stories and character of the characters. Character building based on local wisdom as the identity of the Indonesian people for the younger generation is very important to create intelligent, personality, and noble children of the nation. Even more so today, where Indonesian children have begun to wear off their original character as Indonesians because of the erosion of globalization and technological sophistication. Respect and courtesy to old people are fading. The individualistic nature is more highlighted so that it feels no longer humanistic to others. That is what is called the term kids today.Seeing this, the right character education media for children is needed. Media of character education inspired by the indigenous culture of the Indonesian people such as the Pandawa puppet comics. Through the Pandawa puppet comic media, characters will be built in the child by planting the values of local wisdom, namely introducing stories and figures of the Pandawa puppets. All characters in wayang stories have characters derived from the original personality of the Indonesian nation. The philosophy of life in wayang stories and puppet character needs to be interpreted more deeply because its essence is very useful for life, moreover to be conveyed to the younger generation. Therefore, the Pandawa puppet comics are needed as a medium to understand the philosophy of life in wayang stories and puppet characters so that they can be absorbed easily by children. 
Penerapan Komik Berbahasa Jawa sebagai Media Pembelajaran Bahasa Jawa di SD Wilayah UPK Sumbang Farida Nuryantiningsih; Wiekandini Dyah Pandanwangi
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i2.15951

Abstract

Pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemampuan siswa sekolah dasar dalam memahami dan menggunakan undha-usuk bahasa Jawa secara tepat melalui media komik berbahasa Jawa. Latar belakang kegiatan adalah rendahnya penguasaan tingkat tutur bahasa Jawa akibat dominasi bahasa Indonesia dan metode pengajaran yang monoton. Kegiatan dilakukan selama dua tahun: tahun pertama difokuskan pada pelatihan guru dan pengembangan komik, sedangkan tahun kedua pada implementasi di kelas dan evaluasi. Pendekatan partisipatif berbasis riset melibatkan guru dalam seluruh proses. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa media komik meningkatkan antusiasme siswa dan memudahkan pemahaman ragam krama lugu dan krama inggil. Guru juga menilai pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan. Komik yang telah dikembangkan dibukukan sebagai modul pembelajaran dan didistribusikan ke sekolah mitra dan disarankan agar komik bahasa Jawa dijadikan alternatif media pembelajaran bahasa daerah, dan lembaga terkait turut mendukung pelatihan serta pengembangan bahan ajar berbasis kearifan lokal. This community service aims to improve the ability of elementary school students to comprehend and speak Javanese undha-usuk appropriately through Javanese comic media. The background of the activity is the low level of Javanese language mastery due to the dominance of Indonesian and monotonous teaching methods. The activity was carried out in two years. The first year focused on teacher training and comic development and the second year was on classroom implementation and evaluation. The participatory research-based approach involved teachers in every step of the process. The results showed that comic increases student enthusiasm and provides understanding of the various krama lugu and krama inggil - the higher level of Javanese language. Teachers also considered that learning process become more effective and enjoyable. The comics that have been developed are published as learning modules and distributed to participated schools. It is recommended that Javanese comics be utilized as an alternative medium for learning regional languages, and related institutions also support the training and development of teaching materials based on local wisdom.