Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

TINJAUAN KUAT GESER DAN KUAT LENTUR BALOK BETON ABU KETEL MUTU TINGGI DENGAN TAMBAHAN ACCELERATOR Laksmi Irianti
Rekayasa : Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol 13, No 2 (2009): Edisi Agustus Tahun 2009
Publisher : UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran kuat geser dan kuat lentur balok beton bertulangmutu tinggi dengan menggunakan abu ketel 10% dari berat semen sebagai penganti sebagian darisemen dan penambahan accelerator 10% dari berat air yang berfungsi untuk mempercepat lajupengerasan beton abu ketel. Penelitian mengunakan benda uji silinder dengan diameter 100 mmtinggi 200 mm sebanyak 6 buah untuk pengujian kuat tekan beton dan benda uji balok betonbertulang dengan ukuran 125 x 185 x 1000 mm sebanyak 8 buah untuk uji kuat geser dan uji kuatlentur, 4 buah balok tanpa accelerator dan 4buah balok menggunakan acelerator. Pada pengujiankuat geser pada balok dengan penambahan accelerator terjadi sedikit peningkatan biladibandingkan dengan balok tanpa penambahan accelerator, pada uji kuat lentur dapat dikatakanbahwa beban maksimum yang dapat ditahan oleh beton bertulang abuketel yang menggunakanaccelerator sedikt lebih besar bila dibandingkan balok beton tanpa accelerator, Besarnya energiyang diserap balok untuk menahan beban pada beton bertulang abu ketel yang menggunakanaccelerator lebih besar dibanding dengan energi yang diserap oleh balok beton tanpa accelerator.
PENGGUNAAN ACCELERATOR PADA BETON ABU KETEL SEBAGAI UPAYA MEMPERCEPAT LAJU PENGERASAN1 (The use of accelerator in Kettle-ash concrete as the effort of hardening accelerate) Laksmi Irianti; Eddy Purwanto
Rekayasa : Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol 13, No 1 (2009): Edisi April Tahun 2009
Publisher : UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek variasi dosis accelerator sebanyak 0%, 5%,10%, 15% dan 20% dari berat air yang ditambahkan pada campuran beton mutu tinggi yangmenggunakan abu ketel sebanyak 10% dari berat semen terhadap laju peningkatan kuat tekan dankuat tarik beton. Penelitian ini menggunakan 120 buah sampel benda uji silinder berukurandiameter 10 cm dan tinggi 20 cm dengan umur pengujian 3,7,14 dan 28 hari. Perancangancampuran (mix design) menggunakan metode ACI 2.1.1.4R-93 , Pembuatan, perawatan danpengujian benda uji dilakukan berdasarkan standar ASTM. Hasil penelitian menunjukkan, seiringmeningkatnya persentase accelerator yang ditambahkan kedalam adukan beton :(1) Nilai slumpsemakin besar. (2) Waktu pengikatan awal dan akhir beton semakin cepat. (3) Walaupun tidaksignifikan, nilai kuat tekan, dan kuat tarik beton yang diperoleh menjadi lebih besar dan yangmaksimum didapat dari persentase penambahan accelerator sebesar 20 %.
KAPASITAS ULTIMIT DAN KAPASITAS GESER BALOK BETON BERTULANG MUTU TINGGI BERAGREGAT BATU PUTIH Laksmi Irianti
Rekayasa : Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol 14, No 1 (2010): Edisi April Tahun 2010
Publisher : UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limitation of concrete constituent’s reserve, especially coarse aggregate cause need coarseaggregate taken from others region, so that it will increase price and economy value the coarseaggregate. Therefore, several researches are done to get a cheap building material but satisfyrequirements. Purposes of the research are to know flexural strength and shear strength of highstrength reinforced concrete beam that uses white stone with compression strength of 50 Mpa.White stones are taken from hill around Bandar Lampung used to replace coarse aggregate arecommonly used as concrete coarse aggregate in concrete. Sample of the research consist of threecylinders concrete (d = 150 mm and h = 300 mm) for compressive strength test concrete, 3concrete beams (b = 100 mm, h = 100 mm and L = 300 mm) for concrete flexural strength test 3beams double L for shear strength test concrete, 3 reinforced concrete beams (b = 120 mm, h =185 mm and l = 1350 mm) for beam bent strong test and 3 reinforced concrete beams (b = 120mm, h = 200 mm and L = 800 mm) for shear strength test beam. This watchfulness test thingconsists of: 3 concrete cylinders (d = 150 mm and h = 300 mm) for compressive strength testconcrete, 3 concrete beams (b = 100 mm, h = 100 mm and l = 300 mm) for concrete flexuralstrength test, 3 beams double L for shear strength test concrete, 3 reinforced concrete beams (b= 120 mm, h = 185 mm and l = 1350 mm) for beam bent strong test and 3 reinforced concretebeams (b = 120 mm, h = 200 mm and l = 800 mm) for shear strength test beam. From beamflexural testing result that have been done, that white stone use as concrete aggregate in Highstrength reinforced concrete beam gave ultimate capacity of 12,375.106 Nmm or 4,3603 % higherthan nominal ultimate capacity (beam nominal capacity). Therefore, white stone can be used asconcrete coarse aggregate in reinforced concrete beam element. From shear testing result hasbeen done, it can be seen that shear strength obtain from testing are slightly different from shearstrength predictions referrer to SK SNI T-15-1991-03, ACI 318-83 M and zsutty equation; thedifferences are only 0,7 % - 28,9 %. Therefore, white stone can be used as concrete coarseaggregate in reinforced concrete beam structure element.
Usaha Mempercepat Penyelesaian Proses Hidrasi dengan Steam Curing pada Beton Agregat Kasar Batu Putih Laksmi Irianti; M. Helmi; Suyadi; Yuda Romdania; W. Yosep
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 8 (2025): Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industri (SINTA) 2025
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan agregat konstruksi yang terus meningkat mendorong pemanfaatan material alternatif seperti batu putih yang tersedia melimpah dan memiliki karakteristik fisik serta kimia yang mendukung penggunaannya sebagai agregat beton. Dalam industri beton pracetak, percepatan perkembangan kekuatan awal menjadi aspek penting untuk meningkatkan efisiensi produksi, sehingga diperlukan metode perawatan yang mampu mempercepat hidrasi semen, salah satunya steam curing. Steam curing merupakan proses perawatan beton menggunakan uap panas untuk mempercepat reaksi hidrasi sehingga beton dapat mencapai kekuatan awal lebih cepat dibanding metode konvensional. Penelitian ini menganalisis pengaruh variasi durasi steam curing terhadap kuat tekan beton beragregat kasar batu putih pada umur 1, 2, dan 3 hari dengan perlakuan uap panas bersuhu 90°C selama 2, 4, dan 6 jam. Beton tanpa steam menghasilkan kuat tekan 4,31–7,65 MPa, sementara perlakuan steam 2 jam memberikan 5,23–7,68 MPa, durasi 4 jam menghasilkan 5,84–7,79 MPa, dan durasi 6 jam memberikan nilai tertinggi 7,74–8,12 MPa. Konversi kuat tekan ke umur 28 hari berada pada rentang 19,13–20,30 MPa, menunjukkan bahwa steam curing mempercepat perkembangan kekuatan awal tanpa menurunkan mutu jangka panjang.
Pemanfaatan Limbah Industri Berupa Abu Ketel dan Silica Fume Untuk Peningkatan Kuat Tekan Beton Laksmi Irianti; Masdar Helmi; Ratna Widyawati; Habib Ilham Abdullah; Hadi Hidayatullah
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 2 (2025): Teras Jurnal (September)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v15i2.1247

Abstract

Abstrak Pembangunan infrastruktur di Indonesia mengalami kemajuan signifikan. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan abu ketel dan silica fume dalam beton sebagai alternatif berkelanjutan. Variasi percobaan mencakup penambahan dan penggantian sebagian semen dengan abu ketel dan silica fume. Hasil menunjukkan bahwa campuran dengan kandungan abu ketel dan silica fume memiliki slump yang lebih rendah, namun meningkatkan kuat tekan pada umur 28 dan 56 hari. Proporsi optimum sebagai bahan tambah adalah 5% abu ketel dan 5% silica fume dengan peningkatan kuat tekan dari 28 hari ke 56 hari sebesar 9,42 MPa sedangkan sebagai bahan pengganti sebagian semen adalah 85% semen, 5% abu ketel, dan 10% silica fume, mencapai kuat tekan beton kubus sebesar 28,93 MPa pada umur 28 hari dan 30,67 MPa pada umur 56 hari. Penelitian ini memberikan wawasan tentang potensi penggunaan limbah kelapa sawit dan sisa industri sebagai bahan tambahan dalam industri konstruksi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.   Kata kunci: Abu Ketel, Silica Fume, Kuat Tekan Beton   Abstract Infrastructure development in Indonesia has experienced significant progress. This research explores the use of palm kettle ash and silica fume in concrete as a sustainable alternative. Experimental variations include adding and replacing some of the cement with palm kettle ash and silica fume. The results showed that the mixture containing palm kettle ash and silica fume had a lower slump, but increased compressive strength at the ages of 28 and 56 days. The optimum proportion as an additive is 5% palm kettle ash and 5% silica fume with an increase in compressive strength from 28 days to 56 days of 9.42 MPa while as a partial replacement material for cement it is 85% cement, 5% palm kettle ash and 10% silica fume, reaching a compressive strength of cube concrete of 28.93 MPa at 28 days and 30.67 MPa at 56 days. This research provides insight into the potential for using palm oil waste and industrial residue as additional materials in the construction industry to support sustainable development.   Keywords: Palm Kernel Ash, Silica Fume, Compressive Strength of Concrete
Pengaruh Substitusi Bahan Penyusun Beton Menggunakan Abu Ketel dan Limbah Genteng Terhadap Kuat Tekan Beton Azka Muhammad Safari; Laksmi Irianti; Masdar Helmi; Hasti Riakara Husni
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 1 (2025): Volume 15 Nomor 1, Maret 2025
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v15i1.1198

Abstract

Abstrak Hasil dari pembakaran limbah kelapa sawit menghasilkan abu ketel yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pozzolan. Limbah genteng juga dimanfaatkan sebagai substitusi dari agregat kasar. Pembuatan benda uji kubus 15cm x 15cm x 15cm untuk diuji kuat tekan pada umur 3, 7, 14, dan 28 hari, dengan variasi pada bahan penyusunnya 5% abu ketel terhadap berat semen dan 5%, 10%, 15%, dan 20% limbah genteng terhadap berat agregat kasar. Kuat tekan terbesar pada umur 28 hari untuk beton dengan substitusi hanya limbah genteng terdapat pada variasi 5% (G5) dengan kuat tekan 34,86 MPa. Substitusi 5% abu ketel untuk semen pada G5, kuat tekan beton mengalami peningkatan yang cukup signifikan menjadi 37,45 MPa. Hasil kuat tekan pada benda uji dengan kadar limbah genteng lain seluruhnya mengalami peningkatan kuat tekan setelah dilakukan substitusi 5% abu ketel pada semen. Sehingga subtitusi 5% abu ketel dapat meningkatkan kuat tekan pada beton dengan substitusi limbah genteng. Kata kunci: Abu ketel, limbah genteng, kuat tekan Abstract The combustion of palm oil waste produces boiler ash, which can be used as pozzolanic material. Tile waste is also used as a substitute for coarse aggregate. A 15cm x 15cm x 15cm cube specimen was produced to test the compressive strength at 3, 7, 14 and 28 days with variations in the constituents 5% boiler ash by weight of cement and 5%, 10%, 15% and 20% tile waste by weight of coarse aggregate. The highest compressive strength at 28 days for concrete with only tile waste substitution found in the 5% variation (G5) with a compressive strength of 34.86 MPa. Substituting 5% boiler ash for cement in G5, the compressive strength increased to 37,45 MPa. The compressive strength of other variations of tile waste increased after 5% substitution of boiler ash in cement. Therefore, 5% boiler ash substitution can increase the compressive strength of concrete with tile waste substitution. Keywords: boiler ash, tile waste, compressive strength
Pemanfaatan Limbah Industri Berupa Abu Ketel dan Silica Fume Untuk Peningkatan Kuat Tekan Beton Laksmi Irianti; Masdar Helmi; Ratna Widyawati; Habib Ilham Abdullah; Hadi Hidayatullah
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 2 (2025): Teras Jurnal (September)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v15i2.1247

Abstract

Abstrak Pembangunan infrastruktur di Indonesia mengalami kemajuan signifikan. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan abu ketel dan silica fume dalam beton sebagai alternatif berkelanjutan. Variasi percobaan mencakup penambahan dan penggantian sebagian semen dengan abu ketel dan silica fume. Hasil menunjukkan bahwa campuran dengan kandungan abu ketel dan silica fume memiliki slump yang lebih rendah, namun meningkatkan kuat tekan pada umur 28 dan 56 hari. Proporsi optimum sebagai bahan tambah adalah 5% abu ketel dan 5% silica fume dengan peningkatan kuat tekan dari 28 hari ke 56 hari sebesar 9,42 MPa sedangkan sebagai bahan pengganti sebagian semen adalah 85% semen, 5% abu ketel, dan 10% silica fume, mencapai kuat tekan beton kubus sebesar 28,93 MPa pada umur 28 hari dan 30,67 MPa pada umur 56 hari. Penelitian ini memberikan wawasan tentang potensi penggunaan limbah kelapa sawit dan sisa industri sebagai bahan tambahan dalam industri konstruksi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.   Kata kunci: Abu Ketel, Silica Fume, Kuat Tekan Beton   Abstract Infrastructure development in Indonesia has experienced significant progress. This research explores the use of palm kettle ash and silica fume in concrete as a sustainable alternative. Experimental variations include adding and replacing some of the cement with palm kettle ash and silica fume. The results showed that the mixture containing palm kettle ash and silica fume had a lower slump, but increased compressive strength at the ages of 28 and 56 days. The optimum proportion as an additive is 5% palm kettle ash and 5% silica fume with an increase in compressive strength from 28 days to 56 days of 9.42 MPa while as a partial replacement material for cement it is 85% cement, 5% palm kettle ash and 10% silica fume, reaching a compressive strength of cube concrete of 28.93 MPa at 28 days and 30.67 MPa at 56 days. This research provides insight into the potential for using palm oil waste and industrial residue as additional materials in the construction industry to support sustainable development.   Keywords: Palm Kernel Ash, Silica Fume, Compressive Strength of Concrete