Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : ATIKAN

Optimalisasi Penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah sebagai Modal Sosial dalam Pembangunan Masyarakat Pedesaan Maryam, Siti
ATIKAN Vol 3, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.379 KB)

Abstract

IKHTISAR: Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menggunakan bahasa yang beragam. Secara garis besar, ragam bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan pengguna dan penggunaannya. Dalam hal ini, penting memahami tiga kriteria berkenaan dengan ragam bahasa, yakni: media yang digunakan, latar belakang penutur, dan pokok persoalan yang dibicarakan. Berdasarkan tiga kriteria tersebut biasanya kajian sosio-linguistik dilakukan. Pada umumnya pula, bangsa Indonesia merupakan dwibahasawan, yakni berbahasa Indonesia dan berbahasa daerah, meskipun salah satunya minim. Potensi bahasa Indonesia dan bahasa daerah bagi pemberdayaan masyarakat dapat dikaji melalui pendekatan sosio-linguistik. Data penggunaan bahasa masyarakat di pedesaan dapat deskripsikan berdasarkan struktur, konteks, fungsi, dan maknanya sehingga diketahui pokok-pokok pembicaraan, pandangan hidup, inspirasi, serta harapan hidupnya. Berdasarkan aspek-aspek itu, para katalisator pemberdaya masyarakat desa dapat memilih penggunaan bahasa yang tepat kepada masyarakat dwibahasawan agar masyarakat termotivasi untuk dapat hidup mandiri sesuai dengan kapasitasnya. KATA KUNCI: Potensi bahasa, sosio-linguistik, dwibahasawan, masyarakat Indonesia, pokok-pokok pembicaraan, dan hidup mandiri.ABSTRACT: This article entitled the “Optimalization of Using the Indonesian and the Vernacular Languages as Social Capital in Developing the Rural Community”. In everyday life, people use diverse languages. Broadly speaking, language variations can be classified based on users and usage. In this case, it is important to understand the three criteria with respect to diversity of languages, namely: the media used, background speakers, and the subject matter discussed. Based on the three criteria above, socio-linguistic studies have usually done. In general, Indonesian people is also bilingual, namely they can speak the Indonesian language as well as vernacular language, though one of them is minimum. The potency of Indonesian and vernacular languages for empowering society can be studied by socio-linguistics approach. The usage data of society language in rural people can be described based on structure, context, function, and its meaning so that knowning the talking specifics, way of life, inspiration, and its hope of life. Based those aspects, the catalysts society countryside can select the usage of properly language to bilangual society in order to society are motivated to be able to self-determination life in accordance with its capacities.KEY WORD: Language potency, socio-linguistics, bilingual, Indonesian society, talking specifics, and self-determination life.About the Author: Dr. Hajah Siti Maryam adalah Dosen Senior di Jurusan Pendidian Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSUR (Universitas Suryakancana) di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis bisa dihubungi dengan alamat emel: yams1964@yahoo.comHow to cite this article? Maryam, Siti. (2013). “Optimalisasi Penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah sebagai Modal Sosial dalam Pembangunan Masyarakat Pedesaan” in ATIKAN: Jurnal Kajian Pendidikan, Vol.3(1) Juni, pp.45-58. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung and FKIP UNSUR in Cianjur, West Java, ISSN 2088-1290. Chronicle of the article: Accepted (April 25, 2013); Revised (May 27, 2013); and Published (June 15, 2013).
Literasi Sastera pada Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastera Indonesia Maryam, Siti; Pamungkas, Daud; Suwandi, Aan
ATIKAN Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.325 KB)

Abstract

IKHTISAR:  Secara umum, literasi diartikan kemampuan membaca dan menulis berdasarkan usia. Pada penelitian ini ianya merujuk literasi bidang sastera, khususnya pengetahuan dan minat dalam membaca sastera. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan literasi bidang sastera pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastera Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSUR (Universitas Suryakancana) di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu tentang rendahnya kemampuan literasi. Metode deskriptif digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Instrumen yang digunakan berupa angket tertutup dan terbuka. Angket tertutup dijadikan alat untuk menjaring pengetahuan sastera, sedangkan angket terbuka untuk menggali kesan terhadap karya sastera yang dibaca. Adapun kategori bacaan sastera berbentuk buku kumpulan puisi, sejumlah novel, kumpulan cerita pendek, serta buku naskah drama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, literasi sastera mahasiswa dalam aspek pengetahuan masih sangat rendah, terutama sastera yang tergolong klasik, sedangkan kemampuan mengungkapkan kesan terhadap bacaan sebaliknya. Kesimpulannya, untuk mengukur kemampuan literasi sastera tidak tepat jika pengetahuan dijadikan satu-satunya alat pengukur literasi sastera.  KATA KUNCI: Literasi sastera, puisi, novel, cerita pendek, naskah drama, minat baca, mahasiswa, serta kemajuan dan kesejahteraan bangsa.ABSTRACT:  This article entitled “Literature Literacy of Students at the Study Program of Indonesian Language and Literature”. In general, literacy means the ability to read and write by age. In this study, literacy refers to the literacy of literature field, in particular knowledge and interest in reading the literature. The purpose of this study is to describe the literature literacy of students at the Study Program of Indonesian Language and Literature Education, Faculty of Education and Teacher Training UNSUR (Suryakancana University) in Cianjur, West Java, Indonesia. This research is motivated by issue of low literacy competences. Descriptive method is used to achieve the goals. Instruments used in the form of closed and open questionnaires. Enclosed questionnaire is as a tool for capturing the literature knowledge, while open questionnaire is to explore the impression to literature that is read. The categories of literature readings shaped volume of poetry, a novel, a collection of short stories, and book of drama script. The results showed that the overall literature literacy of students in aspects of literary knowledge is still very low, especially classical literature, while abilities to express the impression what they read are reveal otherwise. The conclusion is that to measure the literature literacy is not appropriate if knowledge be the only means of measuring literature literacy.KEY WORD: Literature literacy, poem, novel, short story, drama script, reading interest, students, and national progress and prosperity.    About the Authors: Dr. Hj. Siti Maryam,  H. Daud Pamungkas, M.Pd., dan H. Aan Suwandi, M.Pd. adalah Dosen pengampu matakuliah Membaca pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastera Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSUR (Universitas Suryakancana) di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel penulis adalah: yams1964@yahoo.com, daudp65@hotmail.co.id, dan aansuwandimbr@yahoo.co.idHow to cite this article? Maryam,  Siti, Daud Pamungkas & Aan Suwandi,. (2013). “Literasi Sastera pada Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastera Indonesia” in ATIKAN: Jurnal Kajian Pendidikan, Vol.3(2) December, pp.211-224. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung and FKIP UNSUR in Cianjur, West Java, ISSN 2088-1290. Chronicle of the article: Accepted (October 15, 2013); Revised (November 15, 2013); and Published (December 15, 2013).