Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENAMBAHAN ARMADA TRANSPORTASI DAN PERBAIKAN SISTEM PERSEDIAAN PERGUDANGAN (STUDY KASUS PT. LEMINDO ABADI JAYA AREA DISTRIBUSI RIAU DARATAN) Petir Papilo; Ramadhanil Ramadhanil
SITEKIN: Jurnal Sains, Teknologi dan Industri Vol 10, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sitekin.v10i2.537

Abstract

Warehouse merupakan bagian terpenting dari suatu perusahaan. Pemanfaatan luas lantai penyimpanan yang optimal akan membawa berbagai keuntungan bagi perusahaan baik dari segi cost maupun kepuasan konsumen. Inilah hal yang harus dilakukan oleh PT. Lemindo Abadi Jaya area distribusi Riau Daratan, untuk mendapatkan pemakaian luas lantai yang optimal dengan berbagai jenis produk yang mereka pasarkan. Selain itu lambatnya run out of product membuat tingginya expedisi cost sehingga perusahaan perlu melakukan analisa kelayakan untuk penambahan armada transportasi yang bertujuan mengurangi cost expedisi.Berdasarkan perhitungan pengendalian persediaan, diperoleh nilai kebutuhan gudang sebesar 3.423.566,17cm2  setelah ditambah kelonggaran (allowance) sebesar 200%. Pada perhitungan perbandingan luas lantai gudang, terdapat selisih sebesar 2.284.090,17 cm2 antara kebutuhan luas lantai gudang dengan luas lantai gudang yang tersedia saat ini. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat kekurangan luas lantai gudang apabila perusahaan ingin menerapkan sistem pengendalian persediaan yang baik, sehingga pergantian gudang menjadi pilihan solusi bagi perusahaan. Sedangkan untuk perhitungan analisis kelayakan dengan menggunakan metode NPV menunjukkan bahwa investasi layak karena value yang dihasilkan lebih dari nol, tetapi dalam perhitungan incremental analysis menunjukkan bahwa pengembalian modal pada investasi lama lebih baik karena menghasilkan  nilai ROR sebesar 421,63% jika dibandingkan dengan investasi baru yang hanya sebesar 177,56%. Namun apabila perusahaan tetap pada investasi lama tetapi melakukan pergantian gudang, nilai ROR yang dihasilkan masih cukup besar yaitu sebesar  412,74% sehingga dapat menjadi solusi apabila perusahaan tidak ingin menurunkan tingkat pengembalian modal yang diperoleh.       
Briket Pelepah Kelapa Sawit sebagai Sumber Energi Alternatif yang Bernilai Ekonomis dan Ramah Lingkungan Petir Papilo
SITEKIN: Jurnal Sains, Teknologi dan Industri Vol 9, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sitekin.v9i2.593

Abstract

Krisis energi merupakan isu yang sedang hangat dibicarakan dewasa ini, terlebih lagi dengan semakin menipisnya cadangan energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Ditambah lagi dengan kenaikan harga bahan bakar yang memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat indonesia, karena sebagian besar masyarakat masih bergantung pada bahan bakar fosil. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu dicari sumber energi alternatif yang dapat mengganti peran bahan bakar minyak. Salah satu energi alternatif yang terus dikembangkan adalah biobriket yang  terbuat dari limbah perkebunan atau limbah industri. Salah satu limbah perkebunan yang belum dimanfaatkan adalah pelepah kelapa sawit. Dengan ketersediaannya yang melimpah dan dengan menggunakan teknologi yang sederhana diharapkan pengembangan briket dari pelepah kelapa sawit dapat menjadi salah satu energi alternatif pengganti bahan bakar fosil.                Penelitian ini dilakukan dengan membedakan perlakuan pada tiga spesimen percobaan, yakni K1, K2 dan K3. Kemudian akan dilakukan uji kualitas terhadap ketiga spesimen dengan melakukan Uji Kadar Kalor, Uji Kadar Air, dan Uji Kadar Abu. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah menghitung biaya serta harga jual briket dari pelepah kelapa sawit dengan menggunakan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dengan menggunakan metode full costing. Kemudian dilakukan perbandingan nilai ekonomi briket pelepah kelapa sawit dengan minyak tanah dan gas LPG.                Adapun hasil penelitian adalah kadar kalor tertinggi  pada spesimen K1 yakni 3.477,67 kKal. Sedangkan untuk pengujian kadar air spesimen yang mampu mengeluarkan air terbaik adalah spesimen K3 dengan persentase air yang dapat menguap adalah 66,3 %. Kemampuan briket untuk terbakar dapat dilihat dari kadar abu terkecil yaitu pada spesimen K1 dengan kadar abu 4,20%. Adapun hasil perhitungan harga pokok produksi, untuk memproduksi briket dengan kapasitas 150 kg briket per hari  adalah Rp 830/Kg dengan harga jual yang dapat ditawarkan kepada konsumen sebesar Rp. 1300/Kg,-.