Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SULTANAH LATIFAH SCHOOL DI KERAJAAN SIAK (1927-1945) Wilaela Wilaela
Sosial Budaya Vol 11, No 1 (2014): Januari - Juni 2014
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v11i1.831

Abstract

Sultanah Latifah School adalah sekolah modern khusus perempuan yang pertama didirikan di Siak Sri Indrapura, ibu negeri Kerajaan Siak. Tulisan ini tidak hanya memaparkan tentang kepastian kapan sekolah tersebut didirikan dan ditutup, pemaparannya juga meliputi latar belakang didirikan, letak sekolah, kurikulum, serta perkembangan murid dan guru. Sekalipun keberadaannya merupakan suatu keniscayaan zaman, namun berangkat dari kondisi zaman jugalah Sultan Syarif Kasim II melihat kekurangan sekolah tersebut dan akhirnya membuka sekolah khusus perempuan di bidang agama dan diberi mana Madrasah Annisa. Sejumlah sumber, baik tertulis maupun lisan digunakan untuk mendukung deskripsi sekolah perempuan pertama di Riau ini
Hibridasi Pendidikan Islam: Strategi Muhammad Abduh dan Ahmad Dahlan dalam Integrasi Kurikulum Tradisional dan Modern Randi Pratama; Wilaela Wilaela
Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan Vol. 23 No. 01 (2026): Al Mutharahah : Jurnal Penelitian dan Sosial Keagamaan
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46781/26f2cv31

Abstract

The predominance of Western educational systems, which are defined by logic and organized structure, has led to the modernization of Islamic education. However, this approach entails a hybridization method that combines the Islamic intellectual legacy with contemporary educational systems rather than usually taking the form of complete acceptance. The purpose of this study is to analyze the idea of educational hybridization and the methods used by reformist leaders, especially Muhammad Abduh and Ahmad Dahlan, to combine traditional and contemporary curriculum. Based on the examination of both classical and modern literature, this study takes a qualitative approach employing a library research method. The results show that educational hybridization uses three primary methods selective adaptive, integrative-epistemological, and cultural-transformative as an epistemological technique to merge religious and general sciences. Curriculum integration is not just structural; it also includes values and scientific perspectives, as demonstrated by the changes implemented by Muhammad Abduh at Al-Azhar and Ahmad Dahlan through Muhammadiyah. As a result, educational hybridization can be viewed as a reasonable paradigm that is pertinent to dealing with the problems of modern educational change and globalization.