Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Meninjau Kembali Persoalan Hukum Kerangka Peraturan Penataan Ruang Kota Di Indonesia Denny Zulkaidi
Journal of Regional and City Planning Vol. 6 No. 17 (1995)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The provision of regulatory framework for urban planning in Indonesia still needs to be discussed. Though the Spatial Planning Act of 1992 has amended the SVO 0f 1948, there are a number of legal aspect problems that have not been touched on or solved by those Act These problems include incomplete urban planning provisions in the Spatial Planning Act, unavailability of implementing government regulations as designated in the Act, improver form of legislation, and incoherence urban planning related legislation. Regarding these problems, urban planning regulatory framework should immediately perfected and completed.
Masalah Perluasan Kota Denny Zulkaidi
Journal of Regional and City Planning Vol. 2 No. 1 (1991)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan perkotaan dalam 2 dasawarsa terakhir ini telah semakin pesat, baik di kota-kota besar maupun kota"”kota kecil. Dampak pembangunan fisiknya sangat terasa, terutama pada kota-kota besar. Pembangunan yang'intensif untuk mengatasi keterbatasan lahan kota bagi pembangunan sudah semakin sulit dilakukan. Sejak tahun 1970-an, pemerintah telah mulai memikirkan upaya pemecahan persoalan pembangunan kota melalui pengembangan secara ekstensif. Hal ini kemudian menyangkut kepada usaha-usaha perluasan wilayah kota. Sebagai contoh : DKI Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Samarinda, Bandar Lampung, dan banyak lagi kota lainnya yang telah diperluas, maupun yang sedang dalam usulan/pertimbangan untuk diperluas.Yang dimaksud dengan perluasan kota di sini adalah perluasan wilayah administrasi kota, yaitu suatu penambahan luas wilayah yuridiksi kota. Kota yang dimaksud adalah kota yang berstatus hukum, yaitu kotamadya dan kota administratif atau status lainnya yang ditetapkan pemerintah.Beberapa kasus menunjukkan bahwa perluasan kota telah menambah beban pemerintah kota dalam hal upaya pembangunan, pemerintahan dan pelayanan masyarakat sehingga timbul pertanyaan, apakah perluasan wilayah kota ini merupakan pemecahan masalah yang paling tepat bagi persoalan yang dihadapi kota ? Bilamana saat yang tepat dan bagaimana cara untuk memperluas wilayah kota ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi titik tolak pemikiran perlunya penelitian mengenai esensi, keefektifan, serta dampak perluasan wilayah kota .Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi gambaran manfaat yang diperoleh dan persoalan yang dihadapi sebagai dampak perluasan suatu kota. Gambaran tersebut diperoleh melalui evaluasi hasil perluasan 4 kota (Jakarta, Surabaya, Medan dan Padang), yang meliputi keefektifan perluasan kota dalam memecahkan persoalan kota, dampak perluasan kota, dan konsekuensi tindak lanjut yang diperlukan untuk menunjang perluasan suatu kota.
NILAI-NILAI SIGNIFIKAN MASYARAKAT LOKAL TERHADAP PELESTARIAN PUSAKA PASCABENCANA DI BANDA ACEH Zya Dyena Meutia; Roos Akbar; Denny Zulkaidi; Sri Maryati
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 25, No 2 (2019): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v25i2.6681

Abstract

In the last few decades, there has been a shift in the sense of heritage from the thought of "how to ensure an heritage object will not be destroyed" into "what values an heritage object has and how best to preserve these heritage values". Many studies and researches on heritages in urban areas have been carried out, but not many have discussed more deeply about the characteristics of significant heritage values as a consideration in determining urban heritage. Heritage values that are inherent are only considered by perception experts and the government toward heritage usual as a temple, site the kingdom and historic buildings have hundreds of years age. While the perspective of comprehensive values and consideration of values from the heritage is one of the important factors in success preservation of heritage areas in urban areas. This study intends to uncover significant values that into consideration in preserving heritage post disaster in the urban heritage and in designating an object and place as a heritage. This study uses a constructivist paradigm with an interpretive approach because it attempts to construct the existence of significant cultural values in the public perception of seeing an area as an inheritance. The result is show the most important significant values for them, namely religius, memory, history, traumatic, resilience and social. Keywords: significant values, heritage, religius, local community
Persepsi Masyarakat Terhadap Nilai-Nilai Signifikan Demi Keberlanjutan Pusaka Perkotaan Zya Dyena Meutia; Roos Akbar; Denny Zulkaidi
Jurnal Permukiman Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2018.13.104-111

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberi kontribusi pemahaman mengenai nilai-nilai signifikan yang membentuk pusaka dan merumuskannya dari pemahaman persepsi masyarakat. Dalam literatur, pusaka adalah proses budaya dan sosial yang berhubungan dengan kegiatan mengingat dan membentuk identitas. Tentunya pemahaman ini berbeda dari gagasan bahwa pusaka hanya berupa objek material yang memiliki nilai sejarah dan estetika saja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksploratif dengan pengumpulan data menggunakan survei online dalam bentuk kuesioner dan mengambil kasus di kawasan yang terkena dampak bencana tsunami 2004 di Banda Aceh yaitu kawasan kapal PLTD Apung, Masjid Uleu Lheu dan sekitarnya yang terdapat pemakaman massal, hutan bakau dan tempat-tempat lain yang muncul pascabencana. Hasil analisis dan data survey menunjukkan bahwa teori yang didominasi oleh pemahaman barat berfokus pada nilai-nilai material, usia, autentisitas dan integritas kurang berlaku dalam kasus pascabencana dimana yang lebih signifikan adalah nilai-nilai intangible seperti nilai memori, spiritual, konsensus, pengetahuan lokal dan nilai-nilai lainnya yang perlu dipikirkan kembali sebagai dasar dalam menetapkan sebuah kawasan pusaka demi keberlanjutan pusaka perkotaaan.