Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Isolation of Antioxidant Compounds from Ethanol Extract of Temu Kunci (Boesenbergia pandurata Roxb.) Rhizomes Marliani, Lia; Juanda, Dadang; Rubianto, Arif
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.911 KB)

Abstract

Temu kunci (Beosenbergia pandurata Roxb.) is traditionally used to treat various diseases, and antioxidants are one of their utilization. The aim of this study was to isolate and identify the antioxidant compounds of temu kunci rhizomes. Temu kunci rhizomes was extracted by maceration with ethanol 95%. Etanol extract was then fractionated by liquid-liquid extraction, vacuum liquid chromatography, and classical column chromatography. Monitoring and testing the antioxidant activity used thin-layer chromatography (TLC) with 0.2% DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) reagent. Purity test was performed by a single development TLC using three different kinds of mobile system and two-dimensional TLC. Isolate BP-1 was isolated from the ethanol extract and active as an antioxidant. Based on ultraviolet-visible and infrared spectrums, isolate BP-1 was identified as flavanone in the absence of hydroxyl groups at the ortho position (o-diOH), with substitution of -OH at C5 and C7.Keywords: Temu kunci, Boesenbergia pandurata, DPPH, Antioxidant. AbstrakTemu kunci (Beosenbergia pandurata Roxb.) secara tradisional digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit, salah satunya adalah sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi komponen antioksidan yang dimiliki temu kunci. Rimpang temu kunci diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan etanol 95%. Ekstrak etanol kemudian difraksinasi dengan ekstraksi cair-cair, kromatografi cair vakum, dan kromatografi kolom klasik. Aktivitas antioksidan kemudian dipantau dan diuji menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan reagen 0,2% DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Uji kemurnian dilakukan dengan pengembangan tunggal KLT menggunakan 3 macam fase gerak yang berbeda dan KLT dua-dimensi. Isolat BP-1 merupakan hasil isolasi dari ekstrak etanol dan aktif sebagai antioksidan.  Berdasarkan spektrum UV-Vis dan inframerah, isolat BP-1 teridentifikasi sebagai flavanone karena adanya gugus hidroksil yang hilang pada posisi orto (o-diOH), dengan substitusi –OH pada C5 dan C7.Kata kunci : Temu kunci, Boesenbergia pandurata, DPPH, antioksidan.
Pengaruh Pengolahan Bahan Terhadap Kadar Dan Komponen Minyak Atsiri Rimpang Zingiber Cassumunar Roxb. Wirasutisna, Komar Ruslan; Sukrasno, -; Nawawi, As’ari; Marliani, Lia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 36, No 1 & 2 (2011)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.772 KB)

Abstract

Minyak atsiri merupakan salah satu komponen Zingiber cassumunar Roxb. yang memiliki aktivitas farmakologi. Sehubungan dengan potensi pemanfaatan minyak atsiri Zingiber cassumunar Roxb. dalam pengembangan obat, diperlukan jaminan terhadap kualitas bahan yang meliputi kontrol terhadap kualitas bahan baku yang digunakan, termasuk kandungan minyak atsirinya. Penghalusan, pengeringan, dan penyimpanan adalah proses penyiapan bahan yang dapat mempengaruhi kadar minyak atsirinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengolahan bahan terhadap kandungan minyak atsiri. Metode penghalusan rimpang segar yang digunakan dalam penelitian ini adalah perajangan (SR) dan penggilingan menggunakan blender (SB). Metode pengeringan yang digunakan adalah pengeringan menggunakan oven 40°C (PO) dan sinar matahari (PM). Sedangkan proses penyimpanan dilakukan dalam tiga tempat berbeda yaitu besek (SSb), karung (SSk), dan keranjang plastik (SSp) selama 14 (A) dan 90 (B) hari. Kadar minyak atsiri setiap sampel ditentukan dan komponennya dianalisa menggunakan kromatografi gas-spektrometri massa (KG-SM). Uji t-test (α=0,05) terhadap kadar minyak atsiri menunjukkan perbedaan signifikan antara SR dengan PO, PM, SSb B, SSk B, dan SSp B. Hal ini berarti bahwa proses pengeringan dan penyimpanan selama 90 hari mempengaruhi kadar minyak atsiri. Hasil GC-MS menunjukkan komponen utama untuk setiap sampel adalah 4-terpeniol (41,52% - 53,15%), beta-pinene (27,63% - 40,48%), gamma-terpinene (3,97% - 6,02%), alpha-terpinene (1,8% - 2,57%), cis-sabinene hidrate (0,91% - 1,98%), trans-sabinene hidrate (0,85% - 2,08%).
Pengaruh Pengolahan Bahan Terhadap Kadar Dan Komponen Minyak Atsiri Rimpang Zingiber cassumunar Roxb. Wirasutisna, Komar Ruslan; Sukrasno, Sukrasno; Nawawi, As’ari; Marliani, Lia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.161 KB)

Abstract

Minyak atsiri merupakan salah satu komponen Zingiber cassumunar Roxb. yang memiliki aktivitas farmakologi. Sehubungan dengan potensi pemanfaatan minyak atsiri Zingiber cassumunar Roxb. dalam pengembangan obat, diperlukan jaminan terhadap kualitas bahan yang meliputi kontrol terhadap kualitas bahan baku yang digunakan, termasuk kandungan minyak atsirinya. Penghalusan, pengeringan, dan penyimpanan adalah proses penyiapan bahan yang dapat mempengaruhi kadar minyak atsirinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengolahan bahan terhadap kandungan minyak atsiri. Metode penghalusan rimpang segar yang digunakan dalam penelitian ini adalah perajangan (SR) dan penggilingan menggunakan blender (SB). Metode pengeringan yang digunakan adalah pengeringan menggunakan oven 40°C (PO) dan sinar matahari (PM). Sedangkan proses penyimpanan dilakukan dalam tiga tempat berbeda yaitu besek (SSb), karung (SSk), dan keranjang plastik (SSp) selama 14 (A) dan 90 (B) hari. Kadar minyak atsiri setiap sampel ditentukan dan komponennya dianalisa menggunakan kromatografigas-spektrometri massa (KG-SM). Uji t-test (α=0,05) terhadap kadar minyak atsiri menunjukkan perbedaan signifikan antara SR dengan PO, PM, SSb B, SSk B, dan SSp B. Hal ini berarti bahwa proses pengeringan dan penyimpanan selama 90 hari mempengaruhi kadar minyak atsiri. Hasil GC-MS menunjukkan komponen utama untuk setiap sampel adalah 4-terpeniol (41,52% - 53,15%), beta-pinene (27,63% - 40,48%), gamma-terpinene (3,97% - 6,02%), alpha-terpinene (1,8% - 2,57%), cissabinene hidrate (0,91% - 1,98%), trans-sabinene hidrate (0,85% - 2,08%).Kata kunci: Zingiber cassumunar Roxb., Minyak atsiri, Pengolahan bahan, Metode pengeringan, Penyimpanan, 4-terpeniol. The rhizome of Zingiber cassumunar Roxb contains essential oil which has pharmacological activity. By considering the potential benefits of essential oil from Zingiber cassumunar Roxb. in drug development, it is necessary to guarantee the quality of the raw materials used, including the content of the essential. Comminuting, drying, and storage are processes which can affect the content of volatile oil in the crude drug. The purpose of this research were to observe the influence of rhizome processing on the essential oil content. Fresh rhizome comminuting methods used in this research were chopping (SR) and grinding using a blender (SB). Drying methods used in this research were oven drying at 40°C (PO) and sun drying (PM), while storage process in three different storage: bamboo container (SSb), sack (SSk), and plastic container (SSp) for 14 (A) and 90 (B) days. Oil content was determined and its composition were analyzed by GC-MS. T-test results (α=0.05) showed significant differences between SR with PO, PM, SSb B, SSk B, and SSp B. It means that drying and storage process influenced essential oil content. GC-MS results showed that major compound were 4-terpeniol (41,52% - 53,15%), beta-pinene (27,63% - 40,48%), gamma-terpinene (3,97% - 6,02%), alpha-terpinene (1,8% - 2,57%), cis-sabinene hidrate (0,91% - 1,98%), trans-sabinene hidrate(0,85% - 2,08%).Keywords: Zingiber cassumunar Roxb., Essential oil, Material processing, Drying methode, Storage, 4-terpeniol.
Aktivitas Antioksidan dan Tabir Surya dari Tongkol dan Rambut Jagung (Zea Mays L.) Kusriani, Herni; Marliani, Lia; Apriliani, Erlina
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.345 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v4i1.10428

Abstract

Zea mays L. (Jagung) adalah tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan pemanfaatan limbah dari jagung masih sebatas sebagai pakan ternak, sedangkan pemanfaatan kandungan komponen didalamnya masih sangat terbatas. Kandungan kimia yang terdapat pada tanaman jagung antara lain alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, fenol, steroid, glikosida, terpenoid, protein, mineral. Senyawa fenol banyak berperan dalam aktivitas antioksidan dan tabir surya. Sampel tongkol dan rambut jagung diduga berpotensi sebagai sumber antioksidan dan tabir surya alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan tabir surya dari ekstrak dan fraksi tongkol dan rambut jagung serta kadar fenol totalnya. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode peredaman radikal bebas 1,1 Difenil-1-Pikrihidrazil (DPPH) dan uji aktivitas tabir surya dengan penentuan nilai sun protected farctor (SPF) dengan spektrofotometri yang diukur pada λ 290-320nm. Penetapan kadar fenol total diukur dengan metode kolorimetri menggunakan reagen Folin Ciocalteu dan diukur dengan spektrofotometri pada λ 765nm. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dan tabir surya terbaik ditunjukkan oleh fraksi etil asetat rambut jagung dengan nilai IC50 sebesar 45,18 μg/mLdan nilai SPF sebesar 23,943 serta kadar fenol totalnya sebesar 106,010 mg/G ± 0,431. Fraksi etil asetat rambut jagung memiliki aktivitas antioksidan, tabir surya, dan kadar fenol yang lebih tinggi dari yang lainnya.
The Effect of Extraction Condition on The Polyphenol Content and Antioxidant Activity of Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe Rhizome Marliani, Lia; Budiana, Wempi; Anandari, Yonara
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.314 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v4i2.12770

Abstract

White turmeric (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) is one of Indonesian herbal medicine. The extraction process to get active compound was influenced by some factor such as solvent, temperature, time, and method of extraction. The objective of this study was to determine the significant factor of extraction  that is solvent, temperature and time of extraction on the polyphenol content and antioxidant activity of white turmeric (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) rhizome. Extraction was done by dynamic maceration method with variations (23 factor variable design) of solvent (ethanol 95% and water), temperature (25°C and 70°C), time (6 and 24 hours). The method of analysis of polyphenol content using Folin Ciocalteu reagent, and the antioxidant activity using DPPH free radical reduction method. The experiment design and data analysis using software Design Expert ver.10. The result showed that extraction using ethanol 95% at 70°C for 24 hours was gave high polyphenol content and antioxidant activity. Data analysis was showed that polyphenol content and antioxidant activity was influenced only by solvent of extraction. This study indicated that solvent is significant extraction factor for polyphenol content and antioxidant activity of white turmeric (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) rhizome. Keywords: Antioxidant, Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe, extraction, polyphenol
Comparison of antioxidant activities from four species of piper Dinilah, Nabila Pandu; Insanu, Muhamad; Marliani, Lia
Pharmaciana Vol 7, No 2 (2017): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.053 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v7i2.6935

Abstract

Some species from Piper genus were known for traditional medicine and ornamental plant. Previous studies showed that Piper betle and Piper acre had antioxidant activities. But, the study of antioxidant activity from other species of Piper was still limited. Because of that, the purposes of this study were to determine the antioxidant activity, and total flavonoid content of Piper nigrum, Piper aduncum, Piper retrofractum, and Piper crocatum. Extraction was done by gradient maceration using n-hexane, ethyl acetate, and ethanol as solvents. The extracts were concentrated by rotary evaporator. Antioxidant activity was evaluated by DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) free scavenging method. Total flavonoid determination was done by colorimetry method using aluminum chloride (AlCl3) as a reagent. The result showed that the IC50 values of Piper nigrum, Piper aduncum, Piper retrofractum, and Piper crocatum were ranged between 58-1249 μg/mL. The total flavonoid values of all extracts were between 1.4-8.3 mg QE/100 mg. The extract which had the strongest antioxidant activity was the ethanol extract of Piper nigrum with an IC50 value was  57.72 μg/mL. The highest values of total flavonoid was showed by the ethanol extract of Piper aduncum which was 8.3 mg QE/100 mg extract.
PENGARUH PELARUT, WAKTU DAN SUHU EKSTRAKSI TERHADAP KANDUNGAN SENYAWA FLAVONOID DAN KURKUMINOID EKSTRAK RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) Marliani, Lia; Anandari, Yonara; Budiana, Wempi
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No Edisi Khus (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 Edisi Khusus SemNas Tanaman Obat Indon
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.212 KB)

Abstract

Temu putih merupakan salah satu anggota family Zingiberaceae yang sering digunakan sebagai obat tradisional di Indonesia. Rimpang temu putih mengandung senyawa aktif seperti kurkuminoid, polifenol, flavonoid, minyak atsiri, terpenoid. Kandungan senyawa dalam ekstrak dipengaruhi beberapa variabel ekstraksi  seperti pelarut, waktu, suhu, maupun metode ekstraksi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh  pelarut, waktu, dan suhu ekstraksi rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe ) terhadap kadar flavonoid dan kadar kurkuminoid ekstrak.  Ekstraksi simplisia dilakukan dengan metode ekstraksi maserasi dinamik dengan menggunakan variasi dengan design faktor variabel 23  meliputi variasi pelarut (etanol 95% dan air), suhu (25oC dan 70oC) dan waktu (6 jam dan 24 jam). Analisa kandungan senyawa menggunakan Spektrofotometri UV-Visible. Design eksperimen dan analisa data menggunakan software Design Expert ver.10.   Ekstraksi menggunakan pelarut etanol 95% , suhu ekstraksi 70oC dan waktu ekstraksi selama 24 jam menghasilkan ekstrak dengan kadar flavonoid dan kurkuminoid yang paling tinggi. Analisis data menunjukkan bahwa kandungan senyawa flavonoid hanya dipengaruhi oleh jenis pelarut. Sedangkan kandungan senyawa kurkuminoid dipengaruhi oleh ketiga faktor yaitu pelarut, suhu dan waktu ekstraksi.
TELAAH FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI DAUN JATI MERAH (Tectona grandis Linn.) DAN DAUN JATI PUTIH (Gmelina arborea Roxb.) Ismawati, Iis; Marliani, Lia
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No Edisi Khus (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 Edisi Khusus SemNas Tanaman Obat Indon
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.024 KB)

Abstract

Antioksidan diperlukan oleh tubuh kita untuk menetralkan radikal bebas. Salah satu sumber antioksidan  alami adalah flavonoid. Daun jati diketahui memiliki kandungan flavonoid. Secara umum, ada dua jenis jati yang dikenal seperti jati merah (Tectona grandis Linn.) Dan jati putih (Gmelina arborea Roxb.). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari daun Jati merah (Tectona grandis Linn.) dan daun Jati  putih (Gmelina arborea Roxb.), serta menelaah senyawa antioksidan dari tanaman tersebut. Ekstraksi dilakukan dengan metode refluks menggunakan  etanol 96%. Pemisahan kemudian dilakukan dengan ekstraksi cair-cair dengan  pelarut n-heksana, etil asetat, etanol-air. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode 1,1'-difenil-2-pikrilhidrazil radikal bebas (DPPH). Hasil penapisan fitokimia menunjukkan daun jati merah dan putih mengandung  flavonoid, polifenol, saponin dan steroid. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak daun jati merah lebih aktif dari pada ekstrak daun jati putih. Fraksi yang paling aktif dari daun jati merah ditunjukkan oleh  fraksi etanol-air yang mengandung fenol dan flavonoid
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KANDUNGAN SENYAWA FENOLAT BIJI JAMBLANG (Syzygium cumini (L.) Skeels) Marliani, Lia
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 1 No 02 (2014): JURNAL FARMASI GALENIKA
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.724 KB)

Abstract

Jamblang (Syzygium cumini (L.)Skeels) merupakan salah satu tanaman lokal Indonesia yang kurang dibudidayakan. Beberapa senyawa yang terkandung dalam tanaman Jamblang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan kandungan senyawa fenolat dari biji jamblang. Ekstraksi dilakukan dengan metode refluks menggunakan pelarut air dan dikeringkan dengan metode freeze drying. Uji aktivitas antioksidan dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode peredaman radikal bebas 1-1-difenil-2 pikrilhidrazil (DPPH). Uji kualitatif antioksidan dilakukan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menggunakan pengembang butanol-asam asetat-air (4:1:5) dan penampak bercak DPPH 0,2% dalam metanol. Aktivitas antioksidan secara kuantitatif diukur dengan spektrofotometri UVsinar tampak pada λ 516 nm dan ditentukan dengan nilai IC50. Vitamin C digunakan sebagai pembanding. Analisis kandungan senyawa fenolat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif dilakukan dengan KLT menggunakan pengembang butanol-asam asetat-air (4:1:5) dan penampak bercak FeCl3 10%. Penetapan kadar fenol total menggunakan reagen Folin Ciocalteu yang diukur dengan spektrofotometri UV-sinar tampak pada λ 765 nm. Nilai IC50  ekstrak biji jamblang dan vitamin C secara berturut-turut adalah  67,10 dan 6,98 bpj. Senyawa fenolat diduga sebagai senyawa aktif antioksidan. Kadar fenol total ekstrak biji adalah 119,251±2,494 mg /g.  
HPLC FINGERPRINT ANALYSIS EKSTRAK DAN PRODUK RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria (Christin) Roscoe) Qirom, Ana Kholifatunnisa Khaqqul; Marliani, Lia; Kusriani, R Herni
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No Edisi Khus (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 Edisi Khusus SemNas Tanaman Obat Indon
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.586 KB)

Abstract

Rimpang temu putih telah banyak digunakan untuk pengobatan di Indonesia salah satunya adalah untuk mencegah dan mengobati kanker. Metode untuk menjamin kualitas sediaan herbal salah satunya adalah Chromatography fingerprint dengan KCKT. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil kromatografi fingerprint dari ekstrak rimpang temu putih sehingga dapat digunakan untuk mengetahui kualitas mutu produk rimpang temu putih. Rimpang temu putih diperoleh dari tiga daerah berbeda yaitu Subang, Sumedang, dan Lembang. Ekstraksi dilakukan dengan metoda reflux menggunakan pelarut etanol 96%. Analisa fingerprint menggunakan KCKT, dengan elusi gradien (asam asetat : asetonitril), menggunakan detektor UV/VIS pada λ 425 nm. Analisis kromatogram secara kemometrik menggunakan Principal Component Analysis (PCA) dengan menentukan nilai loadings dan scores. Pada kromatogram ekstrak rimpang temu putih dari ketiga daerah menunjukkan adanya kemiripan peak dan memiliki karakteristik yang sama yang dibuktikan dari nilai scores ekstrak dari ketiga daerah berada pada kuadran yang sama. Sedangkan nilai scores produk temu putih P1 berada pada kuadran yang berbeda hal tersebut menunjukkan bahwa P1 bukan ekstrak temu putih. Sedangkan hasil loadings waktu retensi dari sampel ekstrak rimpang temu putih yang dapat digunakan sebagai fingerprint yaitu pada menit ke 1,5; 2,5; 3,2; 6,6; 7,6; dan 10,4.