Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The effect of additive dosages on crepe quality produced Sherly Hanifarianty; Afrizal Vachlepi; Mili Purbaya
Majalah Kulit, Karet, dan Plastik Vol 37, No 1 (2021): Majalah Kulit, Karet, dan Plastik
Publisher : Center for Leather, Rubber, and Plastic Ministry of Industry, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20543/mkkp.v37i1.6307

Abstract

Thin Pale Crepe (TPC) products are currently increasing in demand by rubber product manufacturers. Its production process is relatively more efcient than crumb rubber, which is Indonesia’s main product. The drying of TPC products still uses air drying from the burning of rubberwood. The use of rubberwood is predicted to be less economical in the future. With an increasing limited natural forest, rubberwood will be an alternative substitute for wood from natural forests. As a result, the economic value of rubberwood will be even greater which will have an impact on the increasing cost of TPC products if it continues to use rubberwood as fuel. Therefore, we need an alternative to rubberwood as an energy source for drying TPC. Sunlight can be an alternative source of energy that can be maximized for the drying process of natural rubber, including in TPC production. This research was conducted in two stages, namely 1) the production of TPC using latex from various clones with several additive dosages, and 2) TPC drying using various renewable energy sources. The results of research activities are in the form of a technology package regarding the TPC production process using renewable energy sources. The results showed that the TPC products produced with various treatments fulflled SNI 1903-2000. The three clones (BPM 24, PB 260, and GT 1) were able to produce TPC with bright yellow color.
PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI KARET GELANG BERBASIS LATEKS DADIH DI TINGKAT PERKEBUNAN RAKYAT : SEBUAH TINJAUAN KOMPREHENSIF Afrizal Vachlepi
Warta Perkaretan Vol. 45 No. 1 (2026): Volume 45, Nomor 1, Tahun 2026
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v45i1.1302

Abstract

Karet alam merupakan komoditas strategis di Indonesia yang sebagian besar dihasilkan oleh perkebunan rakyat, namun umumnya masih dijual dalam bentuk mentah dengan nilai tambah rendah. Oleh karena itu, diperlukan diversifikasi produk, salah satunya melalui pengembangan karet gelang yang memiliki prospek pasar baik karena penggunaannya luas dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, proses pembuatannya relatif sederhana dan dapat memanfaatkan bahan baku lateks dadih, sehingga berpotensi menjadi alternatif hilirisasi yang sesuai untuk skala perkebunan rakyat. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji prospek pengembangan industri karet gelang pada tingkat perkebunan karet rakyat secara komprehensif dengan menitikberatkan pada aspek teknologi produksi, mulai dari penyiapan bahan baku hingga proses pembuatan dalam skala usaha kecil. Hasil kajian menunjukkan bahwa industri karet gelang berbasis lateks dadih memiliki prospek untuk dikembangkan pada skala perkebunan rakyat, terutama sebagai upaya peningkatan nilai tambah komoditas karet yang selama ini didominasi oleh penjualan bahan mentah. Tahapan proses produksi meliputi pencampuran dan pengadukan lateks dadih dengan bahan aditif, pencetakan, pengeringan melalui proses vulkanisasi, pemotongan, hingga pengemasan. Secara teknis, rangkaian proses ini relatif sederhana dan dapat diadaptasi pada skala kecil–menengah dengan kebutuhan teknologi yang tidak terlalu kompleks. Dari sisi implementasi, pengembangan dalam bentuk pilot project di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan indikasi awal yang positif dengan kapasitas awal bisa mencapai 1 ton per bulan. Secara analitis, pengembangan industri ini memiliki keunggulan komparatif pada aspek ketersediaan bahan baku lokal dan biaya tenaga kerja yang relatif rendah. Akan tetapi, keunggulan tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan efisiensi proses dan skala produksi agar tercapai keekonomian usaha. Dengan biaya produksi sekitar Rp.35.000,- harga jual karet gelang bisa mencapai Rp.75.000,- per kg. Produk karet gelang mempunyai sifat elastisitas yang baik mencapai 325-450%.