Dyah Lestari Yulianti
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH KETEPATAN WAKTU INSEMINASI BUATAN TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN KEBUNTINGAN DI KECAMATAN GEDANGAN KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR Enike Dwi Kusumawati; Syam Rahadi; Fendi Sudianata; Dyah Lestari Yulianti
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 2 (2018): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.693 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i2.6966

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang-Sub Dinas Unit Pelaksana Teknis IB Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Malang sebagai salah satu sentra peternakan rakyat sangat bergantung pada teknik Inseminasi Buatan tersebut. Dengan teknik ini sangat dimungkinkan untuk menghasilkan keturunan sapi yang memiliki daging unggul dengan harga jual yang lebih tinggi daripada sapi lokal, keadaan ini pada akhirnya akan membantu peningkatan ekonomi peternak. Selama pelaksanaan penelitian, input data berupa hari pelaksanaan IB, waktu birahi sapi betina dan waktu pelaksanaan IB. Metode yang digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan IB ini menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian evaluasi pelaksanaan IB di Kecamatan Gedangan menunjukkan bahwa IB yang dilakukan pada awal birahi memiliki tingkat keberhasilan sebesar 51,3%, pelaksanaan IB pada rentang waktu pertengahan birahi memiliki tingkat keberhasilan 100%, sedangkan pada  tahap akhir birahi memiliki kemungkinan terjadinya konsepsi sebesar 30%. Setelah dilakukan analisa dan penghitungan presentase, maka angka keberhasilan IB di Kecamatan Gedangan adalah 57,37% dan angka ketidakberhasilan IB mencapai 42,63%. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat pengaruh  ketepatan waktu IB terhadap tingkat keberhasilan kebuntingan di Kecamatan Gedangan  Kabupaten Malang. Faktor-faktor penentu keberhasilan IB dalam hubungannya dengan ketepatan waktu IB adalah: kelainan anatomi saluran reproduksi, kelainan ovulasi, sel telur yang abnormal, sperma yang abnormal, dan kesalahan pengelolaan reproduksi.Keywords: artificial insemination, conception rate, estrus, standing heat
Pengaruh Lama Thawing yang Berbeda pada Suhu 25 oC Terhadap Kualitas Semen Beku Sapi Ongole Enike Dwi Kusumawati; Syam Rahadi; Sugeng Santoso; Dyah Lestari Yulianti
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 6, No 1 (2019): JITRO, Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.472 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v6i1.6538

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama thawing yang berbeda pada suhu 250C untuk mendapatkan kualitas spermatozoa semen beku sapi ongole yang optimal. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Kanjuruhan Malang. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Setiap perlakuan thawing diberikan ulangan sebanyak 10 sampel semen beku sapi ongole. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan lama thawing 7, 15, 30 detik pada suhu 25oC memberikan perbedaan pengaruh yang sangat nyata (p<0.01) pada motilitas, viabilitas dan abnormalitas spermatozoa semen beku sapi ongole. Motilitas tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 dengan rata-rata sebesar 40,8%, viabilitas tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 dengan rata-rata sebesar 82,39%, sedangkan abnormalitas terendah diperoleh pada perlakuan P3 dengan rata-rata sebesar 11,95%. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa thawing pada suhu 25oC dengan lama waktu 30 detik memberikan kualitas spermatozoa yang paling baik sehingga disarankan untuk melakukan thawing pada suhu 25oC dengan lama waktu 30 detik. Kata kunci: abnormalias, mortalitas, ongole, thawing, viabilitasABSTRACT This study aims to determine the effect of different thawing time at 250C to get the sperm quality of frozen semen ongole bull. Research conducted at the Laboratory of Animal Husbandry Faculty Kanjuruhan University of Malang. The method of study by using Completely Randomized Design (CRD) factorial. Any treatment given repeated thawing of frozen samples of 10 times. The study show that treatment with time thawing 7 (P1), 15 (P2), 30 (P3) seconds at 25oC gives a very significant difference (P<0.01) on motility, viability and abnormalities of ongole Bull sperm. The highest motility and viability were obtained at P3 (40,8%) and (82,39%), while the lowest abnormalities obtained on P3 (11,95%). Based on this research it can be concluded that thawing at 25oC with 30 seconds to give the best quality sperm that is recommended for thawing. Keywords: abnormality, motility, ongole, thawing, viabilit
Kualitas Post Thawing Spermatozoa Kambing Peranakan Etawa (PE) pada Suhu 37oC dengan Waktu yang Berbeda Enike Dwi Kusumawati; Syam Rahadi; Sutantri Nurwathon; Dyah Lestari Yulianti
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 6, No 2 (2019): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.414 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v6i2.7152

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Kanjuruhan. Materi Penelitian yang digunakan adalah semen kambing PE beku yang didapatkan dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan thawing menggunakan air dengan suhu 37°C selama 7, 15, dan 30 detik dengan 10 kali ulangan. Variabel yang diamati yaitu motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motilitas dan viabilitas perlakuan pencairan waktu 30 detik pada 37°C (P3) memberikan hasil terbaik adalah motilitas tertinggi 35%, viabilitas tertinggi 65,88%, dan abnormalitas terendah dengan pencairan 30 detik pada 37°C (P3) 18,392% . Namun, perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P>0,05) pada motilitas dan viabilitas tetapi memberikan perbedaan yang sangat signifikan pada abnormalitas (P<0,01). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perlakuan lama thawing mempengaruhi motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa.Kata Kunci: kambing, motilitas, peranakan etawa, spermatozoa, viabilitasABSTRACTThis study was carried out in the laboratory of Animal Husbandry Faculty Kanjuruhan University. The research material used was frozen sperm PE goat obtained from the Center for Artificial Insemination (BBIB) Singosari Malang. The research method used was an experimental method with a completely randomized design (CRD). The thawing treatment uses water with a temperature of 37 °C for 7, 15, and 30 seconds with 10 replications. The variables observed were motility, viability, and abnormalities of sperm.The result showed that time thawing treatment of 30 seconds at 37°C (P3) was the highest average motility 35%, the highest average viability 65,881%, and the lowest average abnormality with thawing 7 seconds at 37°C (P1) 18,392%. However, the treatment didn’t show significant different (P>0,05) on motility and  viability but it gave highly significant different on abnormality (P<0,01). The conclusion of this research is that the treatment of time thawing influence motility, viability and increase abnormality.Keywords: abnormality, etawa filial, goat, motility, sperm, viability
ANALISIS PERAN PENYULUHAN TERHADAP PERFORMA AYAM PETELUR DAN PENDAPATAN PETERNAK DI KABUPATEN MOJOKERTO Mochammad Maulana Prastandi; Sri Susilowati; Dyah Lestari Yulianti
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 8, No 2 (2025): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran penyuluhan peternakan terhadap performa ayam ras petelur dan pendapatan peternak di Kabupaten Mojokerto. Penelitian dilaksanakan pada 08 Desember 2025 sampai 05 Januari 2026 di Kecamatan Ngoro, Trawas, Pungging, dan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah survei komparatif kuantitatif dengan membandingkan dua kelompok peternak, yaitu 13 peternak yang telah mengikuti penyuluhan dan 5 peternak yang belum mengikuti penyuluhan, dengan total populasi ternak sekitar 36.000 ekor. Data diperoleh melalui kuesioner, wawancara, dan observasi lapangan, kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Independent Sample t-test. Variabel yang diamati meliputi kegiatan penyuluhan (frekuensi, partisipasi, materi, dan tingkat penerapan), performa ayam petelur yang terdiri atas Hen Day Production (HDP), deplesi, dan Feed Conversion Ratio (FCR), serta pendapatan peternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak yang mengikuti penyuluhan memiliki rata-rata HDP sebesar 83,12%, lebih tinggi dibandingkan peternak yang tidak mengikuti penyuluhan sebesar 74,68%. Tingkat deplesi pada peternak yang mengikuti penyuluhan lebih rendah (5–12%) dibandingkan dengan peternak yang tidak mengikuti penyuluhan (10–15%). Nilai FCR pada peternak yang mengikuti penyuluhan juga lebih efisien (2,0–2,2) dibandingkan kelompok yang tidak mengikuti penyuluhan (2,3–2,4). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan tersebut signifikan (p < 0,05). Selain itu, peternak yang mengikuti penyuluhan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan peternak yang tidak mengikuti penyuluhan. Disimpulkan bahwa penyuluhan peternakan berperan signifikan dalam meningkatkan performa ayam petelur dan pendapatan peternak di Kabupaten Mojokerto. Oleh karena itu, peningkatan frekuensi dan kualitas penyuluhan serta pendampingan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mendukung efisiensi dan kesejahteraan usaha peternakan ayam petelur. Kata kunci : Penyuluhan Peternakan, Performa Ayam Petelur, Hen Day Production, FCR, Pendapatan Peternak, Mojokerto THE ANALYSIS OF THE ROLE OF LIVESTOCK EXTENSION SERVICES ON LAYING HEN PERFORMANCE AND FARMERS’ INCOME IN MOJOKERTO REGENCYABSTRACTThis study aimed to analyze the role of livestock extension services in improving laying hen performance and farmers’ income in Mojokerto Regency. The research was conducted from December 8, 2025 to January 5, 2026 in Ngoro, Trawas, Pungging, and Pacet Districts, Mojokerto Regency, East Java Province. A quantitative comparative survey method was applied by comparing two groups of farmers: 13 farmers who had participated in extension programs and 5 farmers who had not participated, with a total population of approximately 36,000 laying hens. Data were collected through questionnaires, interviews, and field observations, then analyzed using descriptive statistics and inferential analysis with the Independent Sample t-test. The observed variables included extension activities (frequency, participation, materials, and level of implementation), laying hen performance indicators consisting of Hen Day Production (HDP), depletion rate, and Feed Conversion Ratio (FCR), as well as farmers’ income. The results showed that farmers who participated in extension programs had a higher average HDP (83.12%) compared to those who did not participate (74.68%). The depletion rate among participating farmers was lower (5–12%) than non-participating farmers (10–15%). The FCR value of participating farmers was also more efficient (2.0–2.2) compared to non-participants (2.3–2.4). Statistical analysis indicated that these differences were significant (p < 0.05). Furthermore, farmers who attended extension programs earned higher income than those who did not. In conclusion, livestock extension services play a significant role in improving laying hen performance and farmers’ income in Mojokerto Regency. Therefore, increasing the frequency and quality of extension activities as well as providing continuous assistance are highly recommended to enhance efficiency and farmers’ welfare in laying hen farming. Keyword : livestock extension, laying hen performance, Hen Day Production, Feed Conversion Ratio, farmers’ income, Mojokerto Regency.