Robiatul Adawiyah
Halu Oleo University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NILAI EKONOMI PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT MENUJU ZERO WASTE PRODUCTION Muhammad Arief Dirgantoro; Robiatul Adawiyah
BioWallacea : Jurnal Penelitian Biologi (Journal of Biological Research) Vol 5, No 2 (2018): Biodiversitas Wallacea
Publisher : University of Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.454 KB) | DOI: 10.33772/biowallacea.v5i2.5875

Abstract

Abstrak            Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan nilai ekonomi dengan pemanfaatan limbah kelapa sawit menuju Zero Waste Production.  Satu hektar kelapa sawit, setiap tahunnya menghasilkan 25 ton tandan buah segar (TBS) padahal yang menjadi minyak dan inti sawit hanya sekitar 25%, dengan demikian 19 ton dari TBS akan menjadi limbah. Dengan semakin gencarnya isu lingkungan maka diperlukan pemanfaatan dan pengendalian limbah industri kelapa sawit yang ramah lingkungan agar dapat memberikan nilai tambah dan mengurangi biaya yang pada akhirnya memberikan keuntungan bagi berbagai pihak, baik pihak perkebunan, pabrik, masyarakat dan lingkungan. Konsep 3R (Reuse, Recyle dan Recovery) akan mendorong setiap penghasil limbah untuk menjadikan limbahnya memiliki nilai ekonomis dan menguragi biaya. Pemanfaatan limbah kelapa sawit dapat mengurangi biaya produksi listrik, briket arang, bahan baku pulp, pakan ternak, dan menghemat biaya pupuk. Kata kunci : nilai ekonomi, pemanfaatan, limbah, isu lingkungan, konsep 3R                      (Reuse, Recyle  dan Recovery)  Abstract             This paper aims to outline the economic value of the use of palm oil waste towards Zero Waste Production. One hectare of oil palm, annually produce 25 tonnes of fresh fruit bunches (FFB), whereas the oil and palm kernel only about 25%, so 19 tonnes of FFB would be a waste. With the developed environmental issues will require the use and control of industrial waste environmentally friendly palm oil in order to provide added value and reduce costs, which in turn provide benefits to various parties, both the plantations, factories, communities and the environment. The concept of 3R (Reuse, Recycle and Recovery) will encourage each waste generator to make the waste has economic value and reduces costs. Utilization of oil palm waste can reduce the production cost of electricity, charcoal, pulp raw materials, animal feed, and saves the cost of fertilizer. Keywords: economic value, utilization, waste, environmental issues, the concept                  of 3R (Reuse, Recycle and Recovery)
PERAN TANAMAN BENGKUANG (Pachyrrhizuz erosus L.) DALAM MENDUKUNG SISTEM PERTANIAN ORGANIK Robiatul Adawiyah; Terry Pakki
BioWallacea : Jurnal Penelitian Biologi (Journal of Biological Research) Vol 5, No 2 (2018): Biodiversitas Wallacea
Publisher : University of Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.261 KB) | DOI: 10.33772/biowallacea.v5i2.5880

Abstract

Abstrak               Tantangan pertanian ke depan adalah peningkatan produksi pertanian, kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan pupuk anorganik dan pestisida sintetik/kimia (anorganik).  Sistem pertanian organik merupakan salah satu solusi yang diajukan untuk diterapkan pada sistem pertanian di masa yang akan datang.  Sistem pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia/sintesis (anorganik).  Pemanfaatan pupuk organik dan pestisida nabati dalam usaha pertanian akan mengurangi resiko pencemaran lingkungan, meningkatkan efisiensi pemupukan, serta menekan pengaruh negatif dari penggunaan pupuk anorganik dan pestisida sintesik/kimia (anorganik).  Prinsip dalam sistem pertanian organik adalah adanya keseimbangan siklus hara dan kesuburan tanah serta pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.  Untuk meningkatkan kesuburan tanah dan memenuhi kebutuhan pupuk organik di dalam menjaga keseimbangan siklus hara, serta mengurangi penggunaan pestisida nabati, peran legum seperti bengkuang (Pachyrrhizuz erosus L.) perlu dikaji lebih mendalam. Tanaman bengkuang sangat potensial dalam mendukung diterapkannya sistem pertanian organik karena; biomassa yang banyak dan mengandung nitrogen yang tinggi (3.42% - 3.51%), kemampuan hidup yang sangat luas di berbagai kondisi lahan karena bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium dan Bradyrhizobium dalam menambat nitrogen (N2) udara dan bersimbiosis dengan cendawan mikoriza (AMF) yang dapat membantu penyerapan unsur hara terutama fosfor.  Selain itu, kecuali umbi, bagian tanaman lainnya terutama pada biji bengkuang mengandung metabolit sekunder seperti rotenon yang bersifat insektisida.  Dengan demikian maka bengkuang ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik dan sebagai insektisida nabati dalam mendukung sistem pertanian organik. Kata Kunci: bengkuang(Pachyrrhizuz erosus L.), legum, rotenon, sistem pertanian organik Abstract                The challenge of agriculture in the future is to increase agricultural production, environmental sustainability and public health as a result of increasing population and public awareness of the negative effects caused by the use of inorganic fertilizers and chemical/ synthetic pesticides. Organic farming system is one of the solutions proposed to be applied to agricultural systems in the future. Organic farming system is an agricultural cultivation system that relies on natural materials without using synthetic/chemicals (inorganic). Utilization of organic fertilizers and pesticides in agricultural businesses will reduce the risk of environmental pollution, improve fertilization efficiency, and reduce the negative effects of the use of inorganic fertilizers and chemical/synthetic pesticides. The principle in organic farming systems is the balance of nutrient cycling and soil fertility and integrated pest and disease control. To improve soil fertility and meet the needs of organic fertilizer in maintaining the balance of nutrient cycles, and reduce the use of synthetic chemical pesticides, the role of legumes such as yam bean (Pachyrrhizuz erosus L.) needs to be studied more deeply. Yam bean plants are very potential in supporting the implementation of organic farming systems because; a lot of high and nitrogen containing biomass (3.42% - 3.51%), a very broad life ability in various land conditions because it is symbiotic with Rhizobium and Bradyrhizobium bacteria in fixing nitrogen (N2) air and symbiosis with mycorrhizal fungi (AMF) which can help absorption of nutrients, especially phosphorus. Especially in jicama seeds contain secondary metabolites such as rotenone which are insecticides. Thus, this yam bean can be used as an organic fertilizer and as a organic/vegetable insecticide in supporting organic farming systems. Keywords: Yam bean (Pachyrrhizuz erosus L.), legumes, rotenon, organic farming systems