Robertus Haryoto Indriatmoko
Unknown Affiliation

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN

Analisis Debit Puncak untuk Perencanaan Sistem Drainase di Kawasan Teknopark Pelalawan Indriatmoko, Robertus Haryoto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.636 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3467

Abstract

ABSTRACTA drainage system is an infrastructure that plays an important role for regions such as in Pelalawan technopark. Drainage system design needs to be carried out comprehensively to obtain the results of the predicted regional channel system analysis based on maximum daily rainfall data in the area. Thus, any rain falling in each sub-watershed within the region can be properly flowed, through the channel system in the four main drainages and does not cause flooding in the area. The methodology for the analysis of drainage systems is carried out through 4 comprehensive stages, starting with delineation of the four sub-watersheds in the area and performing sub-watershed morphometry until mapping process of the main drainage system of the Pelalawan technopark area. The results of peak discharge analysis is derived from the calculation of rain plan/predicted rain results in the 25-year return period, the Petarik sub-watershed has value of 158.21 m3/sec, while the Bedaguh Guntung watershed,  the Kahayan sub-watershed, and the Langgam watershed have results about 53.64 m3/dt, 30.56 m3/sec, and 34.16 m3/sec respectively. If the drainage system is to be built in the Technopark area, one main channel must be provided in each sub-watershed with channel capacity by the peak discharge. If the four main channels have been prepared, the Technopark Region will be free of flooding for the planning period from the rain with a 25 year return period.Keyword: Technopark, infiltration, rainfall, return periode, peak discharge, drainage capacity ABSTRAKRancangan sistem  drainase adalah sebuah infrastruktur yang memegang peranan penting termasuk untuk kawasan seperti di teknopark Pelalawan. Perencanaan sistem drainase perlu dilaksanakan dengan baik untuk mendapatkan hasil analisis sistem saluran kawasan yang diprediksi berdasarkan data  hujan hujan harian maksimum dalam kawasan tersebut.  Dengan demikian, setiap hujan  yang jatuh di dalam setiap sub DAS dalam kawasan dapat dialirkan dengan baik, melalui sistem saluran pada keempat drainase utama dan tidak menimbulkan banjir dalam kawasan. Metodologi untuk analisis sistem  drainase, dilakukan melalui 4 tahap yaitu yang dimulai dengan melakukan deliniasi terhadap keempat sub DAS dalam kawasan dan melakukan morfometri sub DAS untuk mendapatkan data luas dari masing-masing sub DAS, kemiringan lereng, koefisien runoff, dan time of consentration (tc). hingga pemetaan sistem drainase utama  kawasan teknopark Pelalawan. Hasil analisis  debit puncak  pada 4 sub DAS  dalam kawasan teknopark yang berasal dari perhitungan hujan rencana/ hujan hasil prediksi pada periode ulang 25 tahun, untuk ke 4 adalah Sub DAS Petarik sebesar 158,21 m3/dt, sub DAS Bedaguh Guntung sebesar 53,64  m3/dt. Sub DAS Kahayan sebesar  30,56 m3/dt  dan  Sub DAS Langgam sebesar 34,16 m3/dt. Apabila dalam kawasan Teknopark tersebut akan dibangun sistem drainase, maka harus disediakan 1 (satu) buah saluran utama di setiap  Sub DAS dengan kapasitas saluran sesuai dengan besarnya sesuai dengan debit puncak. Jika keempat saluran utama tersebut telah disiapkan maka Kawasan Teknopark akan dapat terbebas dari banjir untuk periode perencanaan dari hujan dengan periode ulang 25 tahun.Kata kunci: Teknopark, infiltrasi, hujan, periode ulang, debit puncak, kapasitas saluran
EVALUASI LINGKUNGAN AIR TANAH DI DAS CITARUM HULU Indriatmoko, Robertus Haryoto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.952 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v5i2.303

Abstract

The catchment area “Citarum” has been being in a very critical condition relating to extremely environmental problems. River water pollution in this catchment is obviously caused by industrial and domestic waste water. Nowadays the pollution load is already too high and the BOD, COD contents exceed the WHO standard. The activity evaluating groundwater environment in the up steam of the catchment area has the objective wich is to monitor the effect of groundwater pollution brought about by decreasing of surface water quality in upstream Citarum. The observed locations are village Suleman, Mekarrahayu, Margarahayu and Nanjung. They are all in Bandung regency. The four observed locations can be as representative for the three parts of upstream Citarum, ie. Upper, middle and lower part. Results of the evaluation are able to described groundwater quality condition, especially in the upstream Citarum cathment area.
PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN STRATEGI ADAPTASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI BANDAR UDARA HASANUDDIN, MAKASSAR Indriatmoko, Robertus Haryoto; Purwanta, Wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.462 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i1.33

Abstract

Salah satu sektor pembangunan di Indonesia yang tidak bebas dari ancaman perubahan iklim adalah sektor transportasi udara. Oleh karena, perlu disiapkan strategi adaptasi dampak perubahan iklim. Bandara Hasanuddin Makassar berpotensi terkena dampak peningkatan suhu permukaan, kelembaban udara dancurah hujan dalam sepuluh tahun terakhir. Jika melihat data emisi gas polutan (non-GRK) terlihat bahwa polusi udara belum menjadi ancaman nyata. Namun ancaman yang akan segera dialami adalah berubahnya beberapa parameter meteorologis seperti suhu permukaan, kelembaban dan intensitas curah hujan. Berdasarkan data pemantauan oleh otoritas bandara memperlihatkan untuk rentang waktu 10 tahun sejak 2003 hingga 2013, telah terjadi kenaikan suhu permukaan rata-rata sebesar 10C. Kenaikan suhu permukaan ini juga diikuti kenaikan kelembaban pada rentang waktu yang sama sebesar 5%. Perubahan ketiga komponen iklim ini akan memberi dampak pada sistem penerbangan sehubungan dengan fenomena perubahan iklim. Melalui analisis risiko dan peluang untuk tiap perubahan komponen iklim, akan dapatditentukan dampak negatif dan dampak positif dari suatu fenomena cuaca dan iklim. Ancaman utama atau dampak negatip perubahan iklim bagi bandara Hasanuddin adalah potensi banjir, kekeringan, kebutuhan energi yang meningkat, rusaknya infrastruktur seperti runway, taxiway dan apron serta terganggunya operasional penerbangan akibat cuaca ekstrim. Strategi adaptasi yang tepat untuk bandara Hasanuddinantara lain dengan peningkatan kinerja sistem drainase, sumur resapan, penerapan efisiensi energi dan penggunaan energi ramah lingkungan, penerapan eco-office serta efisiensi proses dan prosedur kerja dalam pelayanan penumpang di bandara.Kata kunci : bandar udara, adaptasi, perubahan iklim
PENANGGULANGAN BANJIR DENGAN JARING PENGAMAN SOSIAL SUMUR RESAPAN DI JAKARTA DAN SEKITARNYA Indriatmoko, Robertus Haryoto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.65 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v4i2.276

Abstract

Banjir tanggal 11 Februari 2002 mengejutkan banyak pihak karenadatangnya tiba-tiba dan tidak terduga besarnya, sehingga hampir 30% wilayah Jakarta tergenang air , transportasi lumpuh , dan memakan korban jiwa akibat tanah lingsor, tenggelam, hanyut dan tersengat aliran listrik. Total aliran air permukaan diperkirakan mencapai 70 juta meter kubik, dimana jumlah tersebut tidak dapat tertampung oleh badan-badan sungai yang ada dan meluap menggenangi daerah dataran banjir sungai (floodplain area) yang saat ini banyak ditempati oleh pemukiman penduduk. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Kelompok Pengkajian Sitem Pengelolaan Air (BPPT) dalam Studi Studi Model Optimisasi Pengelolaan Air Tanah Jakarta, maka besarnya imbuhan buatan yang harus dimasukkan kembali kedalam akuifer dangkal untuk daerah seluas 25 km2 berkisar antara 1.082.419- 54.120.960 m3/tahun atau antara 1,08 - 54,12 m3/tahun/m2. Lokasi imbuhan buatan dapat dilihat pada Peta Lokasi Imbuhan Buatan Berdasarkan Hasil Optimisasi Pengelolaan Air Tanah. Jika diasumsikan 1 (satu) sumur resapan dengan diameter 0,8 meter, lebar bidang resapan 1 meter pada tanah dengan permeabilitas rendah (0,00105 m/hari), maka kapasitas sumur resapan adalah 0,592 m3/tahun/unit. Dengan demikian untuk daerah Jakarta dan sekitarnya dibutuhkan kurang lebih 2 juta sumur resapan. Pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Walaupun sudah ada Surat Keputusan GubernurDKI yang mengatur tentang sumur resapan, pelaksanaan dilapangan masihsulit pengawasannya. Dalam kondisi krismon ini perlu langkah terobosan untuk membuat sumur resapan dengan program jaring pengaman sosial, dengan demikian pemerintah membuka lapangan pekerjaan bersamaan dengan perbaikan lingkungan.
PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN STRATEGI ADAPTASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI BANDAR UDARA HASANUDDIN, MAKASSAR Robertus Haryoto Indriatmoko; Wahyu Purwanta
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.462 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i1.33

Abstract

Salah satu sektor pembangunan di Indonesia yang tidak bebas dari ancaman perubahan iklim adalah sektor transportasi udara. Oleh karena, perlu disiapkan strategi adaptasi dampak perubahan iklim. Bandara Hasanuddin Makassar berpotensi terkena dampak peningkatan suhu permukaan, kelembaban udara dancurah hujan dalam sepuluh tahun terakhir. Jika melihat data emisi gas polutan (non-GRK) terlihat bahwa polusi udara belum menjadi ancaman nyata. Namun ancaman yang akan segera dialami adalah berubahnya beberapa parameter meteorologis seperti suhu permukaan, kelembaban dan intensitas curah hujan. Berdasarkan data pemantauan oleh otoritas bandara memperlihatkan untuk rentang waktu 10 tahun sejak 2003 hingga 2013, telah terjadi kenaikan suhu permukaan rata-rata sebesar 10C. Kenaikan suhu permukaan ini juga diikuti kenaikan kelembaban pada rentang waktu yang sama sebesar 5%. Perubahan ketiga komponen iklim ini akan memberi dampak pada sistem penerbangan sehubungan dengan fenomena perubahan iklim. Melalui analisis risiko dan peluang untuk tiap perubahan komponen iklim, akan dapatditentukan dampak negatif dan dampak positif dari suatu fenomena cuaca dan iklim. Ancaman utama atau dampak negatip perubahan iklim bagi bandara Hasanuddin adalah potensi banjir, kekeringan, kebutuhan energi yang meningkat, rusaknya infrastruktur seperti runway, taxiway dan apron serta terganggunya operasional penerbangan akibat cuaca ekstrim. Strategi adaptasi yang tepat untuk bandara Hasanuddinantara lain dengan peningkatan kinerja sistem drainase, sumur resapan, penerapan efisiensi energi dan penggunaan energi ramah lingkungan, penerapan eco-office serta efisiensi proses dan prosedur kerja dalam pelayanan penumpang di bandara.Kata kunci : bandar udara, adaptasi, perubahan iklim
PENANGGULANGAN BANJIR DENGAN JARING PENGAMAN SOSIAL SUMUR RESAPAN DI JAKARTA DAN SEKITARNYA Robertus Haryoto Indriatmoko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.65 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v4i2.276

Abstract

Banjir tanggal 11 Februari 2002 mengejutkan banyak pihak karenadatangnya tiba-tiba dan tidak terduga besarnya, sehingga hampir 30% wilayah Jakarta tergenang air , transportasi lumpuh , dan memakan korban jiwa akibat tanah lingsor, tenggelam, hanyut dan tersengat aliran listrik. Total aliran air permukaan diperkirakan mencapai 70 juta meter kubik, dimana jumlah tersebut tidak dapat tertampung oleh badan-badan sungai yang ada dan meluap menggenangi daerah dataran banjir sungai (floodplain area) yang saat ini banyak ditempati oleh pemukiman penduduk. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Kelompok Pengkajian Sitem Pengelolaan Air (BPPT) dalam Studi Studi Model Optimisasi Pengelolaan Air Tanah Jakarta, maka besarnya imbuhan buatan yang harus dimasukkan kembali kedalam akuifer dangkal untuk daerah seluas 25 km2 berkisar antara 1.082.419- 54.120.960 m3/tahun atau antara 1,08 - 54,12 m3/tahun/m2. Lokasi imbuhan buatan dapat dilihat pada Peta Lokasi Imbuhan Buatan Berdasarkan Hasil Optimisasi Pengelolaan Air Tanah. Jika diasumsikan 1 (satu) sumur resapan dengan diameter 0,8 meter, lebar bidang resapan 1 meter pada tanah dengan permeabilitas rendah (0,00105 m/hari), maka kapasitas sumur resapan adalah 0,592 m3/tahun/unit. Dengan demikian untuk daerah Jakarta dan sekitarnya dibutuhkan kurang lebih 2 juta sumur resapan. Pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Walaupun sudah ada Surat Keputusan GubernurDKI yang mengatur tentang sumur resapan, pelaksanaan dilapangan masihsulit pengawasannya. Dalam kondisi krismon ini perlu langkah terobosan untuk membuat sumur resapan dengan program jaring pengaman sosial, dengan demikian pemerintah membuka lapangan pekerjaan bersamaan dengan perbaikan lingkungan.
EVALUASI LINGKUNGAN AIR TANAH DI DAS CITARUM HULU Robertus Haryoto Indriatmoko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.952 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v5i2.303

Abstract

The catchment area “Citarum” has been being in a very critical condition relating to extremely environmental problems. River water pollution in this catchment is obviously caused by industrial and domestic waste water. Nowadays the pollution load is already too high and the BOD, COD contents exceed the WHO standard. The activity evaluating groundwater environment in the up steam of the catchment area has the objective wich is to monitor the effect of groundwater pollution brought about by decreasing of surface water quality in upstream Citarum. The observed locations are village Suleman, Mekarrahayu, Margarahayu and Nanjung. They are all in Bandung regency. The four observed locations can be as representative for the three parts of upstream Citarum, ie. Upper, middle and lower part. Results of the evaluation are able to described groundwater quality condition, especially in the upstream Citarum cathment area.