Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA BANYUMASAN PADA PENDAPA DUPLIKAT SI PANJI DI KOTA LAMA BANYUMAS BUDI TJAHJONO; R SITI RUKAYAH; EDWARD ENDRIANTO
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 16, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.636 KB) | DOI: 10.53810/jt.v16i2.209

Abstract

Kota Banyumas dahulu ibu kota karesidenan Banyumas, menjadi pusat pemerintahan HindiaBelanda. Pada pusat pemerintahannya diutara alun-alun terdapat pendapa yang di sakralkan PendapaSi Panji, dibangun Tumenggung Yudanegara II sekitar tahun 1743.Pendapa ini bermodel ”JogloTajug”, sebutan lokal yang ganjil, tidak dikenal pada bentuk arsitektur tradisional Jawa. Disini dicaribagaimana bentuk “Joglo Tajug” itu dan apa penyebabnya ? Karena letaknya diperbatasan Jawa Barat,dan di Banyumas terjadi akulturasi Jawa dan Sunda. maka diduga ini percampuranarsitekturtradisional Jawa dengan Sunda ,atau mungkin adanya pengaruh lain dimasa lalu. Disini dibuktikan halitu dengan meneliti Pendapa Si Panji, hasil penelitiannya di kaji dengan teori Sejarah, BudayaBanyumasan, arsitektur tradisional Jawa, dan Sunda. Didapatkan bentuk Pendapa Si Panji berupaatap Tajug yang seharusnya sama sisi dipaksakan diatas denah Joglo yang empat persegi panjangsehingga menjadi bentuk yang ganjil, dan bentuk Joglo Tajug diduga tercipta sebagai protes alaBanyumasan terhadap raja Jawa masa itu.Kata kunci : Javanese Banyumasan, Joglo, Tajug
IMPLEMENTASI SONGKET PADA BANGUNAN PEMERINTAHAN KOTA PALEMBANG: WUJUD PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR Qoyyimah Primanisa; R Siti Rukayah; Djoko Indrosaptono
NALARs Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.24.2.123-130

Abstract

Sebagai salah satu bentuk warisan budaya lokal, Songket Palembang memiliki nilai estetika tinggi untuk diadaptasi ke dalam desain arsitektur kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis wujud penerapan motif Songket Palembang pada fasad bangunan sebagai bentuk penerapan arsitektur neo-vernakular. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan observasi lapangan, serta studi literatur mengenai pola-pola songket. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan motif songket pada bangunan pemerintahan di Kota Palembang dalam mendukung konsep arsitektur neo-vernakular. Analisis dilakukan untuk menilai sejauh mana motif songket berkontribusi terhadap estetika, identitas budaya, serta fungsionalitas bangunan dalam konteks modern. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan desain arsitektur yang mengedepankan integrasi antara tradisi dan arsitektur kontemporer, serta menjadi referensi bagi arsitek dan desainer yang ingin memadukan unsur budaya ke dalam karya mereka. As a form of local cultural heritage, the Palembang Songket has high aesthetic value and can be effectively adapted into contemporary architectural design. This research aims to identify and analyze the application of Palembang Songket motifs on building facades as a form of neo-vernacular architecture. Through a qualitative approach, this research employs a case study method, incorporating field observations and a literature review on songket patterns. This research aims to evaluate the effectiveness of songket motif application on government buildings in Palembang City in supporting the concept of neo-vernacular architecture. The analysis was conducted to assess the extent to which songket motifs contribute to the aesthetics, cultural identity, and functionality of buildings in a modern context. The results of this research are expected to contribute to the development of architectural design that emphasizes the integration of tradition and contemporary architecture, as well as serve as a reference for architects and designers who wish to incorporate cultural elements into their work
PENERAPAN BUDAYA LOKAL TANJAK PADA FASAD BANGUNAN (STUDI KASUS : BANGUNAN INSTANSI PEMERINTAH KOTA PALEMBANG) Qoyyimah Primanisa; R Siti Rukayah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i4.3883

Abstract

The application of local cultural elements in architecture is one way to strengthen regional identity and preserve cultural heritage. This research focuses on the use of tanjak, one of the proud symbols of Palembang culture, as the main element in the design of building facades of government agencies in Palembang City. Tanjak, a traditional headdress, was chosen for its strong symbolism in reflecting social status, honor, and local wisdom. This study analyzes how the form and meaning of tanjak are translated into architectural elements on public building facades. The results show that the motifs and forms of tanjak are applied through modern materials such as aluminum and concrete composite panels, with paste and high print techniques resembling reliefs. The application of tanjak not only strengthens the visual character of the building, but also reinforces local cultural identity in harmony with the development of contemporary architecture. The use of this element is expected to be an inspiration in designing public buildings that integrate local cultural symbols more broadly.