Muhamad Arpah Nurhayat
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah Palembang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MAHASISWI HIJABERS Muhamad Arpah Nurhayat
Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama Vol 19 No 1 (2018): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v19i1.2382

Abstract

The rule of wearing veil is set by Allah in Al - Qur’an which aims to protect and keep off women from impaired lust and men’s bad stare. In its implementation, most Muslim women have different styles in wearing it. The difference caused by their difference of understanding and point of views as to veil. As if to support the difference, every Ulama has different perception about women’s aurat limitation. The difference veil implementation is happened as well on IQT’s female students of Ushuluddin and Islamic Thought Faculty. This difference occurs because some factors like family, campus environment, boarding house, and their own understanding toward meaning and veil’s goal.
Acculturation and Preservation of Islam-Bugis Culture of Makarti Jaya River Basin, South Sumatra Muhamad Arpah Nurhayat; Maulani Maulani; Muhammad Alfath Qaaf
Khazanah Sosial Vol 5, No 3 (2023): Khazanah Sosial
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ks.v5i3.26916

Abstract

This paper describes the process of acculturation and the form of preservation of Islam-Bugis culture in Makarti Jaya River in South Sumatra. This research is a type of field research using qualitative methods. The data in this study were obtained through observation, interview, and documentation techniques. This research found four products of Islamic-Bugis cultural acculturation; Maccera` Aqorang (slaughtering animals before reading a letter that is considered auspicious), Mappanré lebbé (a tradition of reciting the Qur'an for prospective brides), cememe mallodung (bathing to remove bad traits before performing the pilgrimage), and Mabbaca Sure` Makkelluna Nabitta (reading the saga of shaving the hair of the Prophet Muhammad Saw). This research succeeded in contributing new treasures in the study of Islamic and Bugis culture, in the multicultural province of South Sumatra. For further researchers, it is recommended to study Islamic-Bugis culture in Makarti Jaya River by using a philological approach, because during the research process the author obtained several ancient texts that were used by the Bugis Makarti Jaya community as a reference in the process of acculturation of Islamic-Bugis culture.
MIMPI DALAM PANDANGAN ISLAM Nurhayat, Muhamad Arpah
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 17 No 1 (2016): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v17i1.638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fenomena mimpi dalam pandangan Islam. dalam kajian ini peneliti memfokuskan pada dua hal yaitu fungsi mimpi dan cara menyikapinya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran dan hadis Nabi Saw. Jenis penelitian ini adalah (library risearch) kajian pustaka, dengan cara melakukan telaah terhadap ayat-ayat al-Quran dan hadis nabi saw yang berkaitan dengan mimpi secara tematis dengan menggunakan metode kualitatif dan disajikan secara induktif. Kesimpulan dari penelitian ini Pertama, mimpi dalam Islam diyakini selain karena aspek fikiran maupun psikis mimpi juga berhubungan dengan ilham atau wahyu yang berfungsi sebagai kabar gembira bagi seorang hamba, ujian keimanan, petikan dari sebagian kejadian di masa depan untuk mempersiapkan diri menghadapinya saat waktunya tiba dan menumbuhkan spirit dalam berjuang. Kedua, dalam menyikapi mimpi baik Mu’abbir maupun yang bermimpi untuk selalu berbaik sangka dan tidak sembarangan menceritakannya, kecuali kepada orang yang tepat, bila mimpinya baik maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah swt. dan boleh menceritakannya kepada orang yang dicintai atau kepada orang yang alim sedang bila mimpinya buruk maka itu tidak boleh diceritakan kepada siapapun dan tidak akan berakibat buruk dalam kehidupan nyata dan untuk menghilangkan pengaruh buruknya dia disunnahkan meludah kekiri, berlindung kepada Allah swt. dan mengubah posisi tidur.