Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GAGASAN REKONSTRUKSI TRADISI MUSABAQAH TILAWATIL QURAN (MTQ) DALAM PERSPEKTIF RAHMATAN LIL ‘ALAMIN Alfi Julizun Azwar
Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama Vol 19 No 1 (2018): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v19i1.2379

Abstract

Nilai-nilai universal yang terkandung dalam Alquran adalah pembawa rahmat untuk semesta alam, termasuk juga dalam pelaksanaan perlombaan berbasis Quran yang tiap tahun diadakan di Indonesia dan termanifestasi dalam Musabaqah Tilawatil Quran atau yang biasa disebut MTQ. Oleh karena itu, idealnya kegiatan MTQ banyak melibatkan seluruh umat. Pada awal pelaksanaannya, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) berjalan dengan semangat kekeluargaan, kejujuran dan demi mensyiarkan dakwah Islam itu sendiri. Kenyataannya saat ini semarak MTQ di Indonesia diduga kuat telah tergeser seiring dengan problem empiris yang ikut menghiasi ajang tahunan tersebut, seperti manipulasi data peserta, kecurangan antar offisial, hingga adanya indikasi penilaian yang tidak transparan dan objektif pada Dewan Hakim yang diduga ingin memenangkan tuan rumah penyelenggara. Ditambah nuansa perlombaan yang dinilai stagnan dan monoton, maka perlu memikirkan ulang (rethinking) tentang konsep penyelenggaraan MTQ yang ada. Maka dalam penelitian ini ada dua hal yang hendak di kaji. Pertama, bagaimana fenomena kulturas dalam tradisi MTQ? Kedua, bagaimana rekonstruksi tradisi MTQ dalam perspektif rahmatan lil ‘alamin? Adapun metode yang digunakan pada penelitian kali ini adalah bersifat analisis deskriptif, yaitu suatu metode penelitian melalui pendekatan kualitatif yang dihasilkan dari suatu data yang dikumpulkan melalui survei di lapangan. Sementara teknik pengumpulan data yang digunakan adalah triangulasi yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam pada itu, penelitian ini berusaha menjawab dan memetakan berbagai problem dan kulturas MTQ yang ada seperti pedoman pelaksanaan, transparansi penilaian dewan juri, validitas kepesertaan MTQ, hingga kecurangan-kecurangan yang kerap terjadi dan menjadi hal permisif. Sehingga model penyelenggaraan MTQ yang akan datang adalah sebuah kegiatan yang representatif melingkupi nilai rahmatan lil’alamin itu sendiri dan sesuai dengan substansinya, bukan hanya ajang seremoni belaka, tetapi juga memiliki nuansa religius yang tipikal, dinamis, serta memiliki semacam kurikulum tertentu yang telah baku. Pada tataran pelaksanaannya inilah rekontruksi MTQ dapat dilakukan pengembangan dalam bidang seni, sains dan teknologi, budaya dan humaniora, teologi dan Epoleksoshankam yang kesemua bidang tersebut dapat memberi nuansa dan tampilan yang segar dalam ajang tahunan ini, baik dari sistem penyelenggaraan, upacara seremoni, hingga substansi materi MTQ sesuai dengan visi Islam rahmatan lil alamin yang dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
Konsep Qana’ah Perspektif Hamka Dalam Mengatasi Stres Di Era Milenial Seftha Meldi; Alfi Julizun Azwar; Deddy Ilyas
Journal of Religion and Social Community | E-ISSN : 3064-0326 Vol. 1 No. 3 (2025): Januari - Maret
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jrsc.v1i3.259

Abstract

Qana'ah means being satisfied with what one has and not being greedy. It's about accepting what is enough. People who have qana'ah feel satisfied and are not afraid or doubtful, trust in Allah SWT's help without feeling annoyed when their desires are not fulfilled. The aim of this research is to discuss the concept of qana'ah from the Hamka perspective through a study of dealing with stress in the millennial era. The problem formulation and aim of this research is to find out about qana'ah according to Hamka and qana'ah according to Hamka in dealing with stress in the millennial era. In this research, qualitative methods were used with a library research approach. The data source used in this research is the Modern Sufism Book and is supported by relevant references. The results of this research explain the concept of Qana'ah teaching acceptance and gratitude, while mental health focuses on psychological well-being and the ability to overcome life's challenges. Both concepts emphasize contentment, balance, and harmony for a fulfilling life.
DIALEKTIKA AL-JANNAH DAN AL-NĀR DALAM AL-QUR’AN SERTA IMPLIKASI DAN RELEVANSINYA UNTUK KEHIDUPAN KONTEMPORER: DIALEKTIKA AL-JANNAH DAN AL-NĀR DALAM AL-QUR’AN SERTA IMPLIKASI DAN RELEVANSINYA UNTUK KEHIDUPAN KONTEMPORER Riv'atul Mahmudah; Alfi Julizun Azwar; Halimatussa’diyah
Jurnal Studi Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Universitas Annuqayah (UA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59005/jsqt.v4i2.1026

Abstract

This study aims to examine the dialectic of Al-Jannah (heaven) and al-Nār (hell) in the Qur’an through the framework of Makkiyah and Madaniyyah theories, as well as to explore their implications and relevance for contemporary life. The focus lies in understanding how the Qur’an portrays heaven and hell as theological, moral, and social instruments that shape the character of believers. This research employs a library-based qualitative descriptive approach. The primary source is the Qur’an, while secondary sources include classical and modern exegesis such as Tafsir Al-Azhar by Hamka, Tafsir Al-Mishbah by Quraish Shihab, and Tafsir al-Baghawi. Data were analyzed using thematic exegesis (tafsir maudhu’i) combined with socio-historical analysis to reveal the differences between Makkiyah and Madaniyyah verses concerning heaven and hell. The findings indicate that the dialectic of heaven and hell goes beyond eschatological imagery, serving as ethical guidance that emphasizes moral cultivation, social justice, and Islamic spirituality. In the Makkiyah phase, al-Jannah is portrayed as motivation for faith and resilience, while al-Nār functions as a moral warning. In the Madaniyyah phase, both concepts highlight legal, social, and communal responsibilities.