Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Trauma Experience, Identity, and Narratives Aloysius Soesilo
Buletin Psikologi Vol 22, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.917 KB) | DOI: 10.22146/bpsi.11449

Abstract

Peristiwa kekerasan dan mengerikan seperti konflik berdarah dan pembunuhan merupakan suaturealitas yang meninggalkan dampak permanen pada korban. Individu yang mengalami traumaakan terus menerus bergumul dengan makna kejadian yang telah dialami bahkan sesudah peristiwatrauma itu sendiri berlalu. Elemen kritikal bagi individu yang mengalami trauma adalah asesmensubyektif mengenai bagaimana mereka merasa terancam dan tak berdaya. Studi tentang traumasosial-psikologi menghadapkan kita pada kondisi mengenai kodrat manusia baik dari sisi terbaikmaupun terburuk.Makalah ini dimulai dengan bahasan mengenai apa yang menjadikan traumadan bagaimana trauma berpengaruh atas hidup individu yang mengalaminya. Sebagai fenomenyang berkaitan erat dengan stres, maka akan bermanfaat bila dampak trauma dipertimbangkan dariaspek diri (self), yang mana konsep self ini sendiri merupakan seperangkat faktor yang kompleks.Trauma akan menggoyangkan dan bahkan mengubah komponen struktural dan fungsional dariself. Dihadapkan dengan pengalaman trauma, individu harus memobilisasikan segenap sumber-sumber yang ada dalam diri maupun dalam lingkungannya sebagai jalan koping dengan situasihidupnya. Pembahasan tentang koping akan mencakup konseptualisasi yang lebih luas daripadaapa yang telah diusulkan oleh Lazarus. Perspektif yang lebih luas ini lebih bermanfaat bagi kitakhususnya bila kita mempelajari naratif sebagai upaya oleh individu untuk memahami danmemaknai apa yang telah menimpa diri mereka. Setiap orang memiliki motif untuk menemukanmakna, nilai-nilai (values) dan tujuan hidup, khususnya setelah mereka mengalami peristiwa yangmengancam kehidupan mereka, semua aspek ini muncul dalam naratif.
Persepsi Diri Seorang Gay dalam Hubungan Romantis dengan Pasangannya Nathania Sekar Andwini; Aloysius Soesilo
Humanitas (Jurnal Psikologi) Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/humanitas.v2i2.1563

Abstract

Self-perception theory states that people can understand their attitudes and interests because they make inferences about their behavior. This research has attempted to focus on self-perception as it relates to the process of becoming a gay and the role it plays in a gay’s romantic relationships. This less frequently investigated topic is expected to provide a better understanding about psychological experiences a gay has gone through. This qualitative study is a case study of one participant chosen in accordance with the criteria set up for the research. Collection of data was primarily done through observations and interviews.. The findings have shown that the life journey of the participant’s becoming a gay reflected a complex process and was influenced by many factors, internal and external. The negative self-perception of the participant has adversely affected his relation with other people and God. Along the journey, the participants had gone through internal conflicts that so far has not been successfully been coped with.Contrary to what people generally believe, becoming a gay for the participant has been a long and torturous process. Further research needs to be done by adding the number of participants with the same and different sexual orientations to obtain a more comprehensive understanding about the self-perception and its role in these groups of populations.