Timotius Iwan Susanto
Satya Wacana Christian University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Successful Aging Lansia yang Tinggal di Panti Wreda: Peran Resiliensi dan Hardiness Timotius Iwan Susanto; Christiana Hari Soetjiningsih
PSIKODIMENSIA Vol 20, No 1: Juni 2021
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/psidim.v20i1.3318

Abstract

Abstrak: Lansia adalah individu yang berada pada tahap akhir rentang hidup manusia yang diharapkan dapat mencapai successful aging, termasuk lansia yang tinggal di panti wreda. Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi successful aging. Dua prediktor penting yang diduga berhubungan dengan  successful aging adalah resiliensi dan hardiness. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan apakah resiliensi dan hardiness secara simultan dapat menjadi prediktor succesful aging lansia yang tinggal di panti wreda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan data dikumpulkan dengan menggunakan Skala Successful Aging, Skala CD-RISC, dan Skala Short Hardiness. Partisipan dipilih secara purposive sampling dengan jumlah 26 lansia yang tinggal di Panti Wreda Salatiga. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa successful aging pada lansia dapat diprediksi oleh resiliensi (b=0,498; p0,05) dan hardiness (b=0,477; p0,05) secara simultan. Resiliensi dan hardiness secara simultan merupakan faktor penting untuk mencapai successful aging pada lansia yang tinggal di panti wreda. Implikasi hasil penelitian ini dibahas lebih lanjut oleh peneliti.Kata kunci: Successful aging, resiliensi, hardiness, lansia, panti wreda Abstract: Elderly are the individual who are at the last stage in the human life span who are expected to achieve successful aging, including the elderly who live in nursing home. There are various factors that affect successful aging. Two important predictors that are expected to be associated with successful aging are resilience and hardiness. The purpose of this study was to determine the effect of resilience and hardiness simultaneously to successful aging in elderly who live in nursing home. This study uses a quantitative approach and the data collected using the Successful Aging Scale, CD-RISC Scale, and Short Hardiness Scale. The participants was selected using  purposive sampling with a total of 26 elderly who live in nursing home, Salatiga. The collected data were analyzed using multiple regression. The analysis showed that successful aging in the elderly can be predicted by resilience (b=0.498; p0.05) and hardiness (b=0.477; p0.05) simultaneously. The resilience and hardiness simultaneously are important factors to achieve successful aging in elderly who live in nursing home. The implications of the results of this study are discussed further by the researcher.Keywords: Successful aging, resilience, hardiness, elderly, nursing home
Solidarity in Fandom: An Analysis of Weeaboo Community Prosocial Behavior Seth Kenan Ellia; Timotius Iwan Susanto
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 14 No. 3 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v14i3.26252

Abstract

The weeaboo community, referring to enthusiasts of Japanese popular culture in Indonesia, represents a large subcultural group that is frequently stigmatized as “no life” (nolep) or antisocial. The paradox between such stigma and the community’s strong internal solidarity provides the foundation for this study. This research aimed to examine the dynamics of prosocial behavior within the wibu community as an empirical counter-narrative to sociocultural stigmatization. A descriptive quantitative approach was employed using a mini-survey of 42 Generation Z participants aged 18–25 years, selected through purposive sampling. Data were collected using the Indonesian adaptation of the Prosocialness Scale for Adults (PSA) by Sefianmi et al. (2023), which assesses the dimensions of sharing, helping, care taking, and empathy. The findings revealed that the weeaboo community demonstrated a moderate level of prosocial behavior (M = 42.76). The highest mean scores were observed in Helping (M = 11.69) and Sharing (M = 11.33). These results challenge the stereotype of antisocial behavior by indicating that experiences of marginalization may strengthen in-group cohesion and solidarity as forms of emotional support. Drawing on Bronfenbrenner’s Ecological Systems Theory and the Rejection-Identification Model, these prosocial behaviors can be understood as socio-psychological adaptations emerging through interactions within the microsystem, reinforced by the mesosystem, and transformed into collective resilience in response to macrosystem pressures. Overall, the findings suggest that subcultural affiliation does not diminish social concern but may instead foster social capital, highlighting the need to deconstruct stigma toward fan communities.Komunitas wibu, yaitu penggemar budaya populer Jepang di Indonesia, merupakan kelompok yang cukup besar, tetapi masih sering menghadapi stigma sosial berupa pelabelan “nolep” (no life) atau antisosial. Paradoks antara stigma tersebut dan kuatnya solidaritas internal menjadi dasar penelitian ini. Penelitian bertujuan menganalisis dinamika perilaku prososial pada komunitas wibu sebagai kontra narasi berbasis data empiris terhadap stigmatisasi sosiokultural. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui mini survey terhadap 42 partisipan Generasi Z berusia 18–25 tahun dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan adaptasi Prosocialness Scale for Adults (PSA) versi Bahasa Indonesia oleh Sefianmi et al. (2023) yang mengukur dimensi sharing, helping, care taking, dan empathy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas wibu memiliki tingkat perilaku prososial pada kategori moderat (M = 42,76). Dimensi dengan skor tertinggi adalah Helping (M = 11,69) dan Sharing (M = 11,33). Temuan ini membantah stereotip antisosial dengan menunjukkan bahwa pengalaman marginalisasi justru dapat memperkuat kohesi dan solidaritas in-group sebagai bentuk dukungan emosional. Berdasarkan Teori Ekologi Bronfenbrenner dan Rejection Identification Model, perilaku prososial tersebut merupakan bentuk adaptasi sosiopsikologis yang berkembang dari interaksi pada tingkat mikrosistem, diperkuat melalui mesosistem, dan menjadi resiliensi kolektif dalam menghadapi tekanan makrosistem. Temuan ini menunjukkan bahwa afiliasi subkultural tidak mengurangi kepedulian sosial, melainkan dapat menjadi sumber terbentuknya modal sosial yang mendorong perlunya dekonstruksi stigma terhadap komunitas penggemar.