Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Faktor Penentu Komitmen Pernikahan pada Kelompok Populasi Tahap Pernikahan Transition to Parenthood hingga Family with Teenagers Melok Roro Kinanthi
PSIKODIMENSIA Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/psidim.v17i1.1504

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penentu komitmen pernikahan pada kelompok populasi tahap pernikahan transition to parenthood hingga family with teenagers. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini melibatkan 12 partisipan yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Data dikumpulkan melalui metode observasi dan wawancara, lalu dianalisis dengan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penentu komitmen pernikahan pada partisipan penelitian ini bukan hanya faktor penarik dan faktor perintang seperti yang dikemukakan teori komitmen pernikahan dari perspektif Pertukaran Sosial, tapi juga kemampuan individu untuk dapat memaknai secara positif dan mengupayakan strategi untuk mengatasi masalah atau konflik yang terjadi. Pihak-pihak terkait dapat mempertimbangkan berbagai faktor-faktor tersebut dalam penyusunan intervensi atau pendampingan bagi pasutri yang sedang menghadapi issue terkait komitmen pernikahan. Kata Kunci : Komitmen Pernikahan
Gejala Depresi pada Individu Dewasa di Masa Pandemi Covid-19: Korelasinya dengan Resiliensi Komunitas Melok Roro Kinanthi; Iqnes Restual Mahensa; Entin Nurhayati; Novika Grasiaswaty
Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA Vol 14, No 1 (2022): ANALITIKA JUNI
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/analitika.v14i1.5890

Abstract

Individu yang berada dalam tahap perkembangan dewasa rentan mengalami gejala depresi di masa pandemi Covid-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan apakah resiliensi komunitas berkorelasi secara signifikan dengan gejala depresi pada individu dewasa di masa pandemi Covid-19. Partisipan penelitian ini adalah 216 individu dewasa. Pemilihan partisipan berdasarkan teknik convenience sampling. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Alat ukur dalam penelitian ini adalah Community Advancing Resilience Toolkit Assesment Survey (koefisien Cronbach’s alpha tiap-tiap dimensi = .595 - .836) dan Depression-Anxiety-Stress Scale (DASS) 21 subskala depresi (koefisien Cronbach’s alpha = .855). Uji korelasi Spearman menunjukkan dimensi caring and connection dan dimensi information pada resiliensi komunitas berkorelasi negatif dan signifikan dengan gejala depresi pada partisipan penelitian ini. Dengan demikian, pendekatan berbasis komunitas dapat dipertimbangkan dalam merancang intervensi untuk menjaga kesehatan mental individu di masa pandemi Covid-19.
PELATIHAN KEBERSYUKURAN UNTUK MENINGKATKAN EMOSI POSITIF Johan Satria; Ratih Arruum Listiyandini; Rina Rahmatika; Melok Roro Kinanthi
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v4n2.p59-65

Abstract

Training of gratitude is expected to grow these factors. Being grateful can lead to positive emotions that may create acceptance the conditions of self and positive social relationships. This training program was conducted for a full day, including induction and release of negative emotions, lesson about gratitude, mutual influence, contemplation, and pouring a sense of gratitude in writing. Training is given to 37 students of class X at SMKN 31 Jakarta. Pre and post test was conducted before and after training, using VAS (Visual Analog Scale) and PANAS (Positive affect-negative affect schedule). The effect of the training was analyzed by counting the change of mean from pre to post test score for each scale. The result showed that there are an increased of positive emotion score means after the training, from 6.92 to 7.41 for VAS and from 3.53 to 3.81 for PANAS score. Then it may concluded that the gratitude training program improve the positive emotion of the students.
RESILIENSI KELUARGA PADA DUAL CAREER FAMILY Vidya Fergilia Hendrayu; Melok Roro Kinanthi; Alabanyo Brebahama
SCHEMA (Journal of Psychological Research) Volume 3 No.2 November 2017
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.132 KB) | DOI: 10.29313/schema.v0i0.3387

Abstract

Dewasa ini bentuk keluarga tipe dual career family merupakan fenomena yang biasa dijumpai di Indonesia. Dual career family memiliki karaklteristik dan situasi khas yang menantang yang berpotensi menimbulkan tekanan bagi seluruh anggota keluarga. Menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap keluarga telah memiliki modal yang baik agar dapat menghadapi berbagai situasi kehidupan yang sulit dan menantang secara adaptif, yakni dengan resiliensi keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat resiliensi keluarga pada dual career family, dari perspektif anak. Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian 66 partisipan yang merupakan individu yang berada dalam tahap remaja akhir (usia 15-18 tahun). Resiliensi keluarga dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Walsh Family Resilience Questionairre yang dikembangkan oleh Walsh (2012). Hasil analisis data dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif diketahui bahwa tingkat resiliensi keluarga yang diperspesikan oleh partisipan penelitian ini berada dalam kategori sedang. Penelitian ini menekankan pentingnya peran resiliensi keluarga sebagai ketrampilan yang perlu dimiliki oleh dual career family dalam menghadapi situasi menantang yang timbul sebagai konsekuensi dari karakteristik yang dimilikinya.
Perception and Signs of Stress among Indonesian University Students: Insights from Rileks Module Responses Dilfa Juniar; Novika Grasiawaty; Melok Roro Kinanthi
Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 10 No. 3 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v10i3.10024

Abstract

Although studies have documented the prevalence of stress among university students, limited attention has been paid to how students define and experience it. This study, part of a larger investigation into Rileks, a culturally adapted web-based stress management program for Indonesian university students, examined how students conceptualize stress and identify its signs. A total of 68 participants, predominantly female and aged between 19 to 42, participated in the study. They were enrolled in undergraduate to doctoral programs and were recruited through convenience sampling via the Rileks study platform. Thematic content analysis was conducted on responses to open-ended questions in the Rileks’ first module, which asked about students' definitions of stress and the signs they experience. Coding was carried out manually using Excel, and inter-rater reliability checks were applied to enhance analytical rigor. Three main themes emerged in students’ definitions of stress: perceived pressure or tension, circumstances exceeding coping capacity, and stress as a state of disruption. A minor theme was stress as a motivating factor. Each main theme encompassed multiple areas of student life, extending beyond academic concerns, and some responses reflected cultural values such as family expectations and societal demands. Students also described signs of stress across four domains: physical, cognitive, emotional, and behavioral. These findings indicate that students’ perceptions of stress may shaped by personal and contextual factors, offering practical implications for enhancing early recognition and communication of students’ stress through approaches that are both relevant and culturally sensitive.