Ida Safitri Laksanawati
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat Dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada/ RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Faktor Risiko Anemia pada Pasien Kusta Anak dalam terapi MDT (Multi Drug Therapy) Milza Delfina; Setya Wandita; Ida Safitri Laksanawati
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.768 KB) | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.363-7

Abstract

Latar belakang. Sepuluh persen kasus kusta baru yang terdeteksi di Indonesia merupakan kusta anak. Pemberian MDT (multi drug therapy) khususnya komponen dapson dapat menimbulkan efek samping anemia hemolitik. Tujuan. Mengetahui prevalensi dan faktor risiko terjadinya anemia pada pasien kusta anak dengan terapi MDT.Metode. Penelitian cross sectional dilakukan di RS Kusta Sitanala Tangerang pada bulan April-Desember 2013. Subyek penelitian adalah pasien kusta anak usia kurang dari 18 tahun yang diambil secara consecutive sampling. Kriteria inklusi adalah semua pasien kusta anak dengan terapi MDT yang setuju dengan informed consent. Terapi kusta selain MDT atau mendapatkan terapi rutin lain, putus obat MDT >6 bulan atau sedang mengalami reaksi kusta tidak diikutsertakan. Kadar hemoglobin diperiksa dengan metode Cyanmethemoglobin. Analisis menggunakan uji chi square dan Fisher’s exact. Hasil. Didapatkan 70 pasien dengan kadar hemoglobin rata-rata 10,8 g/dL pada kelompok anemia, dan 12,5 g/dL tidak anemia. Empat puluh dari pasien tersebut (57,1%) mengalami anemia. Rerata indeks eritrosit menunjukkan anemia normositik normokromik. Pasien yang mendapatkan terapi MDT ≥3 bulan berisiko untuk mengalami anemia (PR: 2,7; IK95%:1,02-7,23). Faktor usia (PR:1,7; IK95%: 0,64-4,35), jenis kelamin (PR:1,3; IK95%: 0,49-3,26), status gizi (PR:1,6; IK95%: 0,57-4,25), dan jenis terapi (PR:0,4; IK95%: 0,04-4,31) bukan merupakan faktor risiko terjadinya anemia.Kesimpulan. Lama terapi ≥3 bulan merupakan faktor risiko anemia pada kusta anak dengan terapi MDT.
Faktor Prognosis Kematian Sindrom Syok Dengue Anggy Pangaribuan; Endy Paryanto Prawirohartono; Ida Safitri Laksanawati
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.332-40

Abstract

Latar belakang. Sindrom syok dengue (SSD) merupakan bentuk klinis yang paling berat dari demam berdarah dengue (DBD) dan mempunyai angka kematian yang tinggi. Prediktor kematian pada DSS masih berbeda-beda, sehingga sangat penting untuk meneliti faktor prognosis yang mempengaruhi kematian SSD pada anak.Tujuan. Mengetahui faktor prognosis kematian anak dengan SSD.Metode. Metode penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif. Subyek adalah pasien SSD sesuai kriteria WHO 1997 yang dirawat di Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito dari Januari 2006 – Juli 2012. Faktor prognosis yang diteliti adalah usia, jenis kelamin, status obesitas, tipe infeksi, keterlambatan berobat, manajemen cairan, derajat trombositopenia, koagulopati, perdarahan mayor, prolonged shock, ensefalopati, disfungsi hati, gagal hati fulminan, disseminated intravascular coagulation (DIC), edema paru dan hipoksemia. Analisis regresi Cox digunakan untuk mengetahui kemaknaan faktor prognosis kematian pada DSS.Hasil. Selama periode Januari 2006 – Juli 2012 terdapat 221 pasien DSS dengan angka kematian 27%. Sembilanpuluh enam pasien diikutkan dalam penelitian dan 33(34%) subyek di antaranya meninggal. Analisis multivariat menunjukkan manajemen cairan sebelum masuk rumah sakit Dr. Sardjito yang tidak adekuat (HR 2,658; IK 95% 1,146;6,616), perdarahan mayor (HR 8,223; IK 95% 1,741;38,831) dan prolonged shock (HR 15,805; IK 95% 3,486;71,660) merupakan faktor prognosis independen kematian pada anak dengan SSD.Kesimpulan. Manajemen cairan sebelum masuk rumah sakit rujukan yang tidak adekuat, perdarahan mayor dan prolonged shock merupakan faktor prognosis independen kematian pada anak dengan SSD.
Profil Hematologi Sebagai Prediktor Sepsis pada Sindrom Syok Dengue Deddy Hediyanto; Ida Safitri Laksanawati; Ratni Indrawanti; Eggi Arguni; Desi Rusmawaningtyas
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.260-4

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue di daerah endemis dapat terjadi bersamaan dengan infeksi lain. Penelitian tentang infeksi dengue pada anak sudah banyak dilakukan, tetapi masih sedikit yang meneliti tentang kejadian sepsis pada sindrom syok dengue (SSD). Profil hematologi sebagai pemeriksaan yang mudah dilakukan, diharapkan dapat digunakan sebagai prediktor sepsis pada SSD.Tujuan. Mengetahui profil hematologi sebagai prediktor sepsis pada SSD.Metode. Penelitian kohort retrospektif pada anak usia 1 bulan-18 tahun yang diambil dari data rekam medis pasien SSD dengan sepsis maupun tidak sepsis dan dirawat di RSUP Dr. Sardjito mulai 1 Januari 2011- 31 Desember 2014. Profil hematologi dan C-reactive protein (CRP) yang digunakan adalah pemeriksaan yang diambil saat pasien pertama kali masuk ke rumah sakit. Analisis statistik dikerjakan dengan analisis univariat, kemaknaan dengan Odds ratio (OR) dan interval kepercayaan 95% (IK95%).Hasil. Didapatkan 98 pasien yang memenuhi kriteria inklusi SSD, di antaranya 30 pasien SSD (30,6%) menderita sepsis. Tidak ada profil hematologi saat pasien pertama kali masuk rumah sakit menjadi prediktor sepsis pada SSD. Pemeriksaan kadar Hb (rerata 13,98±2,28 g/dL, p=0,897), hematokrit saat datang (rerata 40,5±6,6%; p=0,369), leukosit (median 5,68x 103 sel/µL; p= 0,619), trombosit (median 25,5x103 sel/µL; p=0,841). Pemeriksaan CRP dilakukan pada 40 pasien. Pasien SSD dengan sepsis 57,9% memiliki kadar CRP ≥6 mg/L signifikan lebih tinggi dibanding SSD tanpa sepsis (23,8%) dengan nilai p=0,028; OR 2,1 (IK95%: 1,1-3,9). Pemeriksaan biakan darah dilakukan pada 35 pasien, dengan biakan tumbuh pada 6 pasien DSS yang sepsis. Kesimpulan. Kadar CRP ≥6 mg/L berhubungan signifikan dengan kejadian sepsis pada SSD, sedangkan profil hematologi lain tidak. 
Risiko Mortalitas akibat Bakteri Gram-negatif Penghasil Extended-spectrum beta-lactamase pada Anak dengan Leukemia Akut Armytasari, Inggar; Laksanawati, Ida Safitri; Supriyadi, Eddy
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.30-5

Abstract

Latar belakang. Infeksi menjadi penyebab utama kematian pada leukemia akut anak, dengan bakteremia sebagai bentuk infeksi yang serius. Organisme penyebab diduga berhubungan dengan kematian. Identifikasi organisme penyebab dengan risiko kematian tertinggi diharapkan dapat meningkatkan kelangsungan hidup anak-anak dengan leukemia akut.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi organisme penyebab bakteremia sebagai faktor prognostik pada leukemia akut anak dengan bakteremia.Metode. Penelitian ini adalah studi kohort retrospektif. Pasien anak dengan leukemia akut dengan kultur darah positif dari tahun 2021 hingga 2023 diikutsertakan. Karakteristik dasar pasien, hasil kultur darah, dan luaran mortalitas dianalisis dan disajikan sebagai risk ratio (RR) dengan interval kepercayaan 95% menggunakan analisis multivariat.Hasil. Sebanyak 110 pasien yang dianalisis. Bakteri Gram-negatif, khususnya Escherichia coli penghasil Extended-spectrum beta-lactamase (ESBL), menjadi penyebab mayoritas infeksi. Sebagian besar bakteri Gram-positif adalah Staphylococcus hominis yang multi-drug resistant. Faktor prognosis yang terbukti terkait dengan mortalitas adalah infeksi bakteri Gram-negatif penghasil Extended-spectrum beta-lactamase (RR 3,25; IK95% 1,94-59,1). Sementara, bakteri Gram-positif tidak terbukti sebagai faktor prognostik.Kesimpulan. Risiko kematian pada anak leukemia akut dengan bakteremia secara signifikan lebih tinggi pada infeksi bakteri Gram-negatif penghasil ESBL.