Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Lembaran Sejarah

Kehidupan Sosial-Budaya Masyarakat Tionghoa di Batavia 1900an-1930an Wildan Sena Utama
Lembaran Sejarah Vol 9, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.051 KB) | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.23765

Abstract

This paper discusses the everyday life of the Tionghoa society in Batavia in the frst forty years of the twentieth century. The everyday life of the Tionghoa society in Batavia has so far been left unexplored. Existing studies on this particular group of people have mostly focused on the economic and political dimensions, for example the business activities of the Tionghoa society and the policy of discrimination for and against them made by successive governments in Indonesia. This paper shows that the social dimension can be an effective approach to study the many issues of the topic.
Nasionalisme dan Gagasan Kebangsaan Indonesia Awal: Pemikiran Soewardi Suryaningrat, Tjiptomangoenkusumo dan Douwes Dekker 1912-1914 Wildan Sena Utama
Lembaran Sejarah Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.504 KB) | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.23783

Abstract

Artikel ini membahas mengenai nasionalisme dan gagasan kebangsaan Indonesia awal yang dicetuskan oleh tiga serangkai Soewardi Suryaningrat, Tjiptomangoenkusumo dan Douwes Dekker yang tergabung dalam Indische Partij. Meskipun usia partai ini sebentar, tapi gagasan yang disebarkan trio IP ini memberikan pondasi dasar terhadap gagasan Indonesia. Gagasan mereka tentang bangsa pada masanya telah melampaui pemikiran politik zaman itu. Pemakaian istilah “Indonesia” adalah kata yang dipopulerkan pertama kali secara politik oleh pemikir dalam kelompok ini pada saat pembuangan di Belanda. Gagasan ketiga pemikir ini memberikan suatu jalan terhadap kemunculan konsepsi kebangsaan Indonesia yang lebih modern pada tahun 1920an.
(Book Review) Pancasila: Sebuah Monumen atau Leitsar Dinamis? Wildan Sena Utama
Lembaran Sejarah Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.908 KB) | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.23786

Abstract

(Book Review) Respons Jepang dalam Gejolak Peristiwa 1965 Wildan Sena Utama
Lembaran Sejarah Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.816 KB) | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.23812

Abstract

Ke Mana Arah Historiografi Indonesia Hari Ini? Utama, Wildan Sena
Lembaran Sejarah Vol 20, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.97590

Abstract

Indonesiasentris dianggap merupakan pendekatan yang tepat dalam penulisan sejarah Indonesia; ia mendekolonisasi pandangan Eropasentris atau lebih spesifiknya Neerlandosentris yang telah mengakar sebelumnya dengan mengangkat agensi orang-orang Indonesia sebagai subjek utama dalam sejarahnya sendiri. Secara historis, benih-benih dari Indonesiasentris lahir dari kesadaran kritis yang timbul dalam awal abad ke-20 didorong oleh para sarjana Belanda yang terpengaruh oleh ilmu sosiologi dalam merekonstruksi sejarah Indonesia. Dari titik ini embrio Indonesiasentris terkonseptualisasi lebih jelas ketika Indonesia bertransisi dari rezim kekuasaan kolonial menjadi negara baru pascakolonial yang membutuhkan konstruksi identitas yang baru. Desakan terhadap pendekatan Indonesiasentris muncul dalam iklim dekolonisasi di tahun 1950an saat para sarjana, intelektual, dan sejarawan yang saat itu jumlahnya masih terbatas membutuhkan sebuah formulasi yang dapat memayungi penulisan sejarah Indonesia yang ‘baru’, yang mampu membingkai narasi dan merepresentasikan rupa dari sebuah negara-bangsa yang baru muncul. Namun, dekolonisasi untuk menciptakan ‘manusia baru’ seperti yang diungkapkan oleh Frantz Fanon dalam karya klasiknya The Wretched of the Earth belum menciptakan karya tentang sejarah Indonesia seperti yang diharapkan, malahan ia melahirkan ‘mitos-mitos baru’ yang dipengaruhi oleh pandangan nasionalisme yang sempit. Dalam kondisi negara-bangsa yang masih baru dan rentan terkoyak akibat dipenuhi berbagai ragam tantangan, konflik antara pusat dan daerah, ketidakstabilan politik, dan perdebatan yang belum selesai atas sistem politik negara, maka penciptaan mitos-mitos yang dipenuhi oleh semangat nasionalis cenderung dilakukan.