This Author published in this journals
All Journal Humaniora
Kun Zachrun Istanti
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Hikayat Amir Hamzah: Jejak dan Pengaruhnya dalam Kesusastraan Nusantara Kun Zachrun Istanti
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.572 KB) | DOI: 10.22146/jh.708

Abstract

Dalam kesusastraan Melayu klasik, terdapat sejumlah cerita yang dapat dikategorikan sebagai cerita pahlawan Islam, misalnya Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah (selanjutnya disingkat HAH) dan Hikayat Muhammad Hanafiyyah (Winstedt, 1940: 63-68, Iskandar, 1995:127-148). Ketiga hikayat itu mempunyai struktur asasi sebuah hikayat Melayu sebagai berikut (Brakel, 1975: 76-77): tergolong sebagai karya sastra yang ditulis dalam huruf Jawi (huruf Arab, bahasa Melayu); pengarang tidak diketahui (anonim); menceritakan kisah-kisah yang menakjubkan; disalin dari satu naskah ke naskah lain; sewaktu menyalin si penyalin bebas mengubah, menambah, dan mengurangi hal-hal yang dianggapnya perlu. Ketiga hikayat itu dikategorikan sebagai hikayat pahlawan Islam karena berisi perjuangan tokoh utama yang mencurahkan hidupnya untuk menegakkan Islam (artinya ia turut serta dalam menyebarkan, menjaga, mempertahankan, dan membela agama Islam) (Dipodjojo, 1981: 122).
WARNA LOKAL TEKS AMIR HAMZAH DALAM SERAT MENAK Kun Zachrun Istanti
Humaniora Vol 18, No 2 (2006)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.2 KB) | DOI: 10.22146/jh.869

Abstract

The receptive analysis of the Hikayat Amir Hamzah (HAH) text shows active response from the readers through the creation of new text such as Serat Menak (Sr.Mn.). The relationship between both of them can be seen in its adaptations into Javanese literature (Sr.Mn.) in which HAH undergoes some changes. The author adjusted HAH to suit the Javanese literary and cultural traditions, e.g. Sr.Mn. is composed in the form of tembang (poetry), the name of the characters are adapted into Javanese culture; there are previously unnamed characters which are given names in Sr.Mn.; the history (background) of some characters is made clearly; and more titles (from pewayangan) are attributed to Amir Hamzah and Umar Umayah.
Resepsi Hikayat Amir Hamzah Dalam Hikayat Umar Umayah Kun Zachrun Istanti
Humaniora Vol 20, No 2 (2008)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.335 KB) | DOI: 10.22146/jh.940

Abstract

The receptive analysis on the texts responding to HAH show active responses from the readers by creating new texts, i.e HUU, Serat Ménak to contribute to the literary development in Nusantara. The relationship between HAH which is adapted into HUU is as followa. The Malay regard Umar Umayah’s character as cunning and humorous. His wit and humor in HAH is further exaggerated in HUU by being described not only as cunning and humorous Umar Umayah, other characters in HUU are ridiculed.
Transformasi dan Integrasi dalam Kesusastraan Nusantara: Perbandingan Teks Amir Hamzah Melayu dan Jawa Kun Zachrun Istanti
Humaniora Vol 22, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2315.628 KB) | DOI: 10.22146/jh.999

Abstract

The Persian Amir Hamzah text has been transformated either directly or indirectly into Arabic, Hindustani, Bengali, Turkish, and Malay. The Malays Amir Hamzah text is connector the Amir Hamzah text contained in the regional languages in Indonesia since the Malays language is the spreader of religion of Islam in Indonesia. In Indonesia, the Amir Hamzah text spread and became popular along with the spread of Islam. The Amir Hamzah text used to convey the Islamic teaching in its creation occurs through the distortion (i.e., modification, manipulation, and adjustment) with the teaching will be delivered. Various distortions are done, either for its Malay, or Javanese.
Khasanah Sastra Melayu Klasik yang Mendapat Pengaruh Persia Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 6 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.398 KB) | DOI: 10.22146/jh.1865

Abstract

Pengaruh Persia datang ke kebudayaan Melayu bersamaan dengan masuknya agama Islam ke kawasan Nusantara. Para sejarawan menyatakan bahwa agama Islam datang ke Nusantara melalui Persia dan Gujarat. Sekitar abad XIV dan akhir abad XV para pedagang dari Gujarat mengadakan pelayaran, dan perdagangan ke daerah semenanjung Melayu. Jadi, pada waktu itu pengaruh Gujarat besar sekali di Semenanjung Melayu. Pengaruh Persia di Melayu tampak pada tradisi kerajaan Melayu, perkembangan bahasa dan sastra, serta dalam bidang agama. Dalam tulisan ini dibicarakan pengaruh Persia dalam bidang sastra, khususnya sastra Melayu Klasik.
Wayang Golek Menak sebagai Media Dakwah Islam Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.399 KB) | DOI: 10.22146/jh.1946

Abstract

Salah satu makna kata "wayang" adalah bayangan angan-angan, yaitu menggambarkan nenek moyang dalam angan-angan. Oleh karena itu, dalam merciptakan segata bentuk wayang selalu dlsesuaikan dengan tingkah laku tokoh yang dibayangkan dalam angan-angan. Sebagai contoh, orang baik dgambarkan badannya lurus, mukanya tajam, sedangkan orang jahat digambarkan dengan bentuk mulut yang besar, muka lebar, dan sebagainya (Jasawi-dagdo dalam Zarkasi, 1977:21).Wayang golek dibentuk seperti manusia, dibuat dari kayu jaranan, kayu kemiri, dan kayu mentaos (Kuswaji. 1957:10). Wayang golek atau disebut wayang tengul biasanya menceritakan cerita Menak yang sejak dahulu jarang dipentaskan secara tuntas (menyeluruh) seperti halnya wayang purwa. Hal ltu terjadi karena terlalu banyak carangan cerita dengan dasar pola yang sama sehinggacenderung agak membosankan. Wayang golek itu serdiri tidak sepopuler ceritanya (dalam hal ini cerita Menak). Cerita Menak dianggap sebagai karya sastra yang terkenal sebab merupakan cerita kepahlawanan yang disela~selingi dengan adegan percintaan.
Empirisme dalam Penokohan Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1168.984 KB) | DOI: 10.22146/jh.1971

Abstract

Manurut teori empirisme, pengetahuan diperoleh dangan perantaraan pancaindera. Pancaindera memperoleh kesan-kesan dari segala sesuatu yang ada di alam nyata dan kesan-kesan itu terkumpul dalam diri manusia. Pengetahuan itu sendiri terdiri dari susunan dari kesan-kesan yang berbagai rupa ini (Harun Nasution, 1975: 11-12). Salah satu hakikat sastra adalah menggambarkan manusia sebagaimana adanya. Karya sastra yang baik akan mengajak pembaca melihat karya-karya tersebut seperti cermin diri nya sendiri. Dengan jalan menimbulkan pathos, yaitu simpati terhadap dan merasa terlibat dalam penstiwa mental yang terjadi dalam karya tersebut, dapat terjadi secara intens apabila pembaca dapat mengadakan hubungan langsung dengan karya itu. Sastra mempunyai fasilitas yang lebih luas untuk menggerakkan pathos pembaca, antara lain berupa karakter-karakter atau tokoh-tokoh yang berbeda pandangan (Budi Darma, 1984: 87).
Dari Hikayat Sahi Mardan ke Syeh Bagenda Mardan, Sebuah Transformasi: Penyimpangan atau Kewajaran? Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.389 KB) | DOI: 10.22146/jh.2047

Abstract

Hasil kesusastraan lama Indonesia, sebelum agama Islam masuk ke kawasan Nesantara. sebagian besar bertemakan cerita Hindu. Setelah agama Islam masuk ke kawasan Nusantara, masuk pula perbendaharaan kata-kata Arab sertabertambahlah perbendaharaan nama-nama makhluk halus, seperti: malaikat, setan, dan jin. Motif cerita Hindu masih dipakai untuk menyelamatkan cerita-cerita Hindu, tetapi unsur-unsur Islam memberikan corak baru pada kesusastraan Indonesia lama itu. Cerita yang semula banyak pengaruh Hindu lalu disisipi unsur-unsur Islam. 'Hero'nya diberi nama Islam dan Hindu. Hikayat-hikayat yang mempunyai ciri-ciri seperti itu digolongkan ke dalam sastra zaman peralihan dan Hindu ke Islam (Yock Fang, 1982:22-23). Contoh hikayat zaman peralihan itu adalah Hikayat Syahi Mardan (selanjutnya disingkat HSM), Hikayat Indraputra, dan Hikayat Si Miskin. Di antara kesusastraan yang telah dihasilkan dalam berbagai bahasa di Nusantara, khazanah sastra Melayu dan Jawa adalah terbesar. Keduanya telah saling mengambil manfaat, masing-masing mengintegrasikan dan mantransformasikanunsur-unsur asing menjadi miliknya. Adaptasi dan Jawa ke Melayu dan sebaliknya dengan transformasi berdasarkan budaya yang berbeda, telah terjadi dalam berbagai cerita, di antaranya cerita Rama, cerita Amir Hamzah. Arus yang diikuti oleh sastra Hindu sebagian besar dari bahasa Jawa ke bahasa Melayu, sedangkan arus sastra Islam adalah sebaliknya atau merupakan perkembangan tersendiri.
UNSUR KEPAHLAWANAN HIKAYAT INDRAPUTRA Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.524 KB) | DOI: 10.22146/jh.2097

Abstract

Bangsa Indonesia memiliki sejumlah warisan kebudayaan yang tersimpan dalam kebudayaan berbagai daerah di seluruh Nusantara yang berupa karya sastra daerah yang mampu memaparkan kembali kehidupan batiniah pendukungnya tahun-tahun silam. Di antara daerah Nusantara yang dipandang banyak memiliki perbendaharaan berupa karya sastra adalah suku bangsa Melayu. Ungkapan kebudayaan ideal atau kompleks gagasan, nilai, dan peraturan (Koentjaraningrat, 1974:15) suku Melayu masih banyak yang dipantulkan kembali dalam kesusastraan yang meliputi kurun waktu yang panjang. Salah satu ungkapan tersebut terwujud dalam Hikayat Indraputra (seterusnya disingkat HI).