Antonia Sasap Abao
Tanjungpura University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Partisipasi Pasangan Usia Subur (PUS) dalam program Keluarga Berencana di Kampung KB Kelurahan Sagatani, Singkawang, Kalimantan Barat Zakiah Hasan Gaffar; Antonia Sasap Abao
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 18, No 2 (2021): Socia: Jurnal Ilmi-ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/socia.v18i2.40744

Abstract

Di Indonesia, program KB merupakan program skala nasional dengan tujuan untuk menekan angka kelahiran dan mengendalikan pertambahan jumlah penduduk. Tujuan lainnya untuk menciptakan kemajuan, kestabilan dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Dalam upaya mendorong akselerasi pencapaian tujuan progam KB di Indonesia, maka pemerintah membentuk program “kampung KB”. Kampung KB ini dicanangkan oleh Presiden RI pada bulan Januari 2016. Kota Singkawang merupakan salah satu kota /kabupaten yang menjadi lokasi pelaksanaan kampung KB di Kalimantan Barat. Pembentukan kampung KB di Kota Singkawang pada tahun 2017 yang tersebar  di empat  kelurahan yang salah satunya di kelurahan  Sagatani. Pada awal pelaksanaan kampung KB, telah terjadi peningkatan Partisipasi PUS dalam ber-KB sampai tahun 2018 dan 2019, namun tahun 2020 mengalami penurunan yang sangat singnifikan. Hal ini berdampak pada rendahnya partisipasi PUS dalam ber-KB. Rendahnya partisipasi PUS disebabkan oleh berbagai faktor seperti : kurangnya koordinasi antar instansi dan pelaksana program di lapangan, kurangnya tenaga penyuluh lapangan, kurangnya prasarana penunjang untuk penyuluh KB, budaya anti-KB pada masyarakat setempat, rendahnya tingkat pendidikan, terbatasnya layanan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang di lokasi, dan kurangnya partisipasi pria dalam program KB. Karenanya diperlukan sinergi aktif dan koperatif antara berbagai pihak terkait, penambahan tenaga penyuluh KB di lapangan, komunikasi yang lebIh baik antara pengambil keputusan dan pelaksana program di lapangan, dan perbaikan dan penambahan fasilitas untuk operasional tugas lapangan serta peningkatan kesejahteraan para penyuluh dan kader KB. 
THE IMPLEMENTATION OF SCHOOL OPERATIONAL ASSISTANCE AT THE BORDER Antonia Sasap Abao; Zakiah Hasan Gaffar
Jurnal Sosial Humaniora Vol. 13 No. 1 (2022): APRIL
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jsh.v13i1.4251

Abstract

The government has made various efforts to increase school participation rates such as through the provision of School Operational Assistance (BOS) which has been operating since 2005. However, in 2019 it was noted that many of the population of Suruh Tembawang Village were illiterate and did not graduate from Elementary School. Therefore, this study was conducted to describe the implementation of the BOS in two schools in Suruh Tembawang Village. This research used the descriptive method with a qualitative approach. The results showed that part of the BOS funds in the schools of Suruh Tembawang have been used in accordance with the provisions stipulated in Permendikbud Number 1 of 2018. However, expenditure of the BOS funds on infrastructure and maintenance had not been properly observed. In terms of teaching staff and administrations, many teachers, including the school principals were often unavailable on site. The community members interviewed expressed their disappointment in the implementation of the BOS funds, particularly on how the school administration used the funds for the operation of the schools. This was the result of a lack of community engagement, a lack of supervision, and a lack of transparency. In order to maximize the use of BOS funds in both schools, the schools must involve the school committee and its members, village officials, parents of students in planning, budgeting, and managing the BOS funds.