Studi ini menganalisis secara kritis bagaimana program pendidikan nonformal menantang dan merestrukturisasi relasi isu gender pada actifitas tradisionalis di pedesaan Kabupaten Banyumas. Mengembangkan pendekatan di luar kerangka pemberdayaan teknis konvensional, tulisan ini mengkaji interseksionalitas dinamika gender, kesadaran kritis, dan negosiasi struktural di Desa Kemutug Lor dan Desa Melung dalam metode penemuan data ini. Temuan stadi ini menunjukkan bahwa pendidikan nonformal berbasis komunitas yang difasilitasi oleh Forum Perempuan Desa (FPD) dan jaringan local yang berfungsi sebagai arena sosiostruktural tempat peran gender dinegosiasikan dan ditransformasikan. Meskipun pendidikan nonformal meningkatkan literasi digital, agensi kewirausahaan, dan partisipasi publik perempuan di desa, keberjalanannya tetap berada dalam kungkungan norma patriarki dan hambatan struktural. Artikel ini berargumen bahwa transformasi kompetensi sejati tidak hanya terjadi melalui akuisisi keterampilan, melainkan melalui lahirnya kesadaran gender kritis yang memungkinkan perempuan mendekomposisi domestikasi serta merekonfigurasi posisi sosial mereka dalam tata kelola pedesaan. Kata kunci: Transformasi kompetensi; Relasi gender; Pendidikan nonformal; Negosiasi patriarki; Dinamika pedesaan. [This study critically analyzes how non-formal education programs challenge and reshape traditional gender relations in rural Banyumas Regency. Moving beyond conventional technical empowerment frameworks, these studies investigate the intersections of gender dynamics, critical consciousness, and structural negotiations in Kemutug Lor and Melung Villages using a mixed-methods approach. The findings demonstrate that community-based non-formal education—facilitated by the Village Women’s Forum (FPD) and local networks—functions as a socio-cultural arena where gender roles are continuously negotiated and transformed. While non-formal education enhances digital literacy, entrepreneurial agency, and public participation among rural women, it operates within deeply entrenched patriarchal norms and structural constraints. This article argues that true competency transformation occurs not merely through skill acquisition, but through the emergence of critical gender consciousness, enabling women to subvert domestic confinement and redefine their social positioning in rural governance. Keywords: Competency transformation; Gender relations; Non-formal education; Patriarchal negotiation; Rural dynamics.]