Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Sosialisasi Gender dalam Keluarga dengan Persepsi Gender Siswa SMK Amalia Nur Ramadhani
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 17, No 2 (2020): SOCIA: Jurnal Ilmu-ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/socia.v17i2.35358

Abstract

Artikel ini menjelaskan hubungan sosialisasi gender dalam keluarga dengan persepsi gender siswa SMK. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei di salah satu SMK di Purbalingga, Jawa Tengah. Populasi penelitian ini adalah siswa SMK yang berjumlah 498 siswa, dan sampel diambil dengan metode acak sederhana sebesar 30% dari total populasi. Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi tau kendall kedua variabel tersebut sebesar 0,14 dengan nilai signifikansi 0,07. Hal ini berarti terdapat hubungan positif antara sosialisasi gender dalam keluarga persepsi gender responden. Aktivitas yang dilakukan responden bersama orang tua menjadi kesempatan berlangsungnya sosialisasi gender dalam keluarga. Hal tersebut menjadi salah satu sarana pembentukan persepsi gender responden. Ketika orang tua memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara berbeda, maka hal tersebut dapat membentuk persepsi bahwa keduanya adalah berbeda. Nilai korelasi antara variabel sosialisasi gender dalam keluarga dengan persepsi gender responden adalah sangat rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa sosialisasi gender dalam keluarga bukanlah faktor dominan yang membentuk persepsi gender responden. Ada faktor lain yang turut menentukan persepsi ini, di antaranya: sosialisasi di sekolah, sosialisasi dengan teman sebaya, lingkungan masyarakat berdasarkan budaya termasuk media massa.
Hubungan Literasi Media dengan Persepsi Gender Siswa Sekolah Dasar Amalia Nur Ramadhani; Nanang Martono; Elis Puspitasari; Laila Sabrina
The Journal of Society and Media Vol. 7 No. 1 (2023): Cultural Transformation in Media and Social
Publisher : Department of Social Science, Faculty of Social Science &Law, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jsm.v7n1.p133-153

Abstract

This article describes the relationship between media literacy and gender perception of elementary school students. This research aims to describe gender perception based on the media literacy of elementary school students. This research was conducted using a survey method in two elementary schools in Purbalingga, Central Java, located far from the city center (outside). The population of this study amounted to 80 students. The sample used is a 100% saturated sample of the total population. The results showed that the tau Kendall correlation value of the two variables was 0.23 with a significance value of 0.03. This value indicates a positive relationship between media literacy and the respondent's gender perception. So, the higher the respondent's media literacy, the better the respondent's gender perception. Respondents' media literacy is formed through content and information from mobile phones, TVs, computers/laptops, radios, and newspapers or magazines. Respondents use mobile phones more often because accessing data is easy and fast. The content and information about the roles of men and women received by the respondents formed the respondent's gender perceptions
Energi dari limbah: Sinergi mahasiswa KKN dan warga RT 11 pagedangan wujudkan pengolahan sampah plastik jadi minyak Amalia Nur Ramadhani; Rizki Nugroho Kurniawan; Danella Amandla; Sukma Asih Pamungkasari; Sausan Aurora Saputri; Pratami Suci Wananda; Milatina Shofia; Diva Finella Widriana; Erisa Putri Nabila; Fadli Maulana; Yafi Surya Edy Hapsoro; Humayra Khansa Falihah Jannah
KACANEGARA Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Mei
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/kacanegara.v9i2.3296

Abstract

Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang mendesak di pedesaan Indonesia termasuk di Grumbul Gayunan, Desa Pagedangan, Kabupaten Purbalingga yang masih belum memiliki sistem pengelolaan sampah terpadu. Untuk mengatasi tantangan ini, mahasiswa KKN Universitas Jenderal Soedirman berkolaborasi dengan warga RT 11 dalam mengembangkan inovasi lokal berupa pengolahan sampah plastik menjadi minyak melalui metode pirolisis. Metode yang digunakan meliputi pembuatan reaktor sederhana berbahan drum dan tungku yang terbuat dari semen dan pasir, pendampingan teknis dan sosialisasi pemilahan sampah. Hasil implementasi menunjukkan bahwa pirolisis mampu mengubah plastik menjadi minyak dengan kualitas yang setara dengan minyak tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor maupun penerangan. Program ini berhasil mengurangi volume sampah plastik, meningkatkan kesadaran warga terhadap pengelolaan sampah serta mendorong partisipasi masyarakat melalui gotong royong. Pirolisis sederhana berpotensi menjadi sebuah solusi berkelanjutan untuk pengelolaan sampah sekaligus penyediaan energi alternatif di pedesaan meskipun pirolisis masih menghadapi tantangan teknis terkait kualitas bahan baku, efisiensi alat dan aspek keselamatan.
Gender Equality In Rural Banyumas Indonesia: Non-Formal Education As A Catalyst For Social Transformation Amalia Nur Ramadhani; Puri Septiana Nursetiyawati; Ankarlina Pandu Primadata; Salsabila Damayanti
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 25 No. 1 (2026): Vol.25 No.1 (2026)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2026.251.100-118

Abstract

Studi ini menganalisis secara kritis bagaimana program pendidikan nonformal menantang dan merestrukturisasi relasi isu gender pada actifitas tradisionalis di pedesaan Kabupaten Banyumas. Mengembangkan pendekatan di luar kerangka pemberdayaan teknis konvensional, tulisan ini mengkaji interseksionalitas dinamika gender, kesadaran kritis, dan negosiasi struktural di Desa Kemutug Lor dan Desa Melung dalam metode penemuan data ini. Temuan stadi ini menunjukkan bahwa pendidikan nonformal berbasis komunitas yang difasilitasi oleh Forum Perempuan Desa (FPD) dan jaringan local yang berfungsi sebagai arena sosiostruktural tempat peran gender dinegosiasikan dan ditransformasikan. Meskipun pendidikan nonformal meningkatkan literasi digital, agensi kewirausahaan, dan partisipasi publik perempuan di desa, keberjalanannya tetap berada dalam kungkungan norma patriarki dan hambatan struktural. Artikel ini berargumen bahwa transformasi kompetensi sejati tidak hanya terjadi melalui akuisisi keterampilan, melainkan melalui lahirnya kesadaran gender kritis yang memungkinkan perempuan mendekomposisi domestikasi serta merekonfigurasi posisi sosial mereka dalam tata kelola pedesaan. Kata kunci: Transformasi kompetensi; Relasi gender; Pendidikan nonformal; Negosiasi patriarki; Dinamika pedesaan. [This study critically analyzes how non-formal education programs challenge and reshape traditional gender relations in rural Banyumas Regency. Moving beyond conventional technical empowerment frameworks, these studies investigate the intersections of gender dynamics, critical consciousness, and structural negotiations in Kemutug Lor and Melung Villages using a mixed-methods approach. The findings demonstrate that community-based non-formal education—facilitated by the Village Women’s Forum (FPD) and local networks—functions as a socio-cultural arena where gender roles are continuously negotiated and transformed. While non-formal education enhances digital literacy, entrepreneurial agency, and public participation among rural women, it operates within deeply entrenched patriarchal norms and structural constraints. This article argues that true competency transformation occurs not merely through skill acquisition, but through the emergence of critical gender consciousness, enabling women to subvert domestic confinement and redefine their social positioning in rural governance. Keywords: Competency transformation; Gender relations; Non-formal education; Patriarchal negotiation; Rural dynamics.]