Tengku Syarifah Nadhira
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Hukum Adat Penggunaan Mayam Sebagai Mahar Dalam Pernikahan Adat Aceh Di Kabupaten Pidie Tengku Syarifah Nadhira
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan [JIMEDU] Vol 1, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.02 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aturan-aturan adat mengenai pemahaman mahar yang terdapat di dalam masyarakat Aceh khususnya pada masyarakat di Kabupaten Pidie dan juga mengetahui sebab dan akibat meningkatnya nilai mahar dalam hitungan mayam. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka teknik analisis yang digunakan peneliti adalah analisis deskripsi yaitu analisis data bukan dalam bentuk angka-angka, serta teknik pengumpulan data dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa mahar dalam pernikahan adat Aceh di Kabupaten Pidie membawa pengaruh negatif. Faktor yang menonjol adalah dimana kaum laki-laki dan perempuan terhambat karena tingginya permintaan mahar yang harus disesuaikan dengan zaman yang berubah-ubah mengenai harga emas yang dihitung dengan satuan mayam. Namun faktanya aturan adat tersebut terdapat berbagai masalah diantaranya mengenai masalah mahar yang dituntut sesuai dengan adat yang berlaku di dalam masyarakat Kabupaten Pidie sehingga menjadi penghambat seseorang yang akan menikah, selain itu terdapat juga beberapa pendapat mengenai mahar yang harus menggunakan emas dalam hitungan mayam dalam jumlah yang telah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Adapun faktor penyebab meningkatnya mahar dalam pernikahan Adat Aceh di Kabupaten Pidie dilihat dari segi keturunan, kecantikan, dan tingkat pendidikan calon wanita dan faktor yang menyebabkan kebanyakan pemuda membatalkan pernikahan ialah tingginya jumlah mahar dan disebabkan oleh pekerjaan yang belom menetap.Kata Kunci: Hukum Adat Aceh Pidie, Mahar, Perkawinan
Overview of traditional law in the use of Mayam as mahar in Aceh traditional marriage Ryan Taufika; Tohap Pandapotan Simaremare; Vinda Chairunnisa; Tengku Syarifah Nadhira
Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jc.v18i2.44945

Abstract

Customary law is the law that regulates individuals or groups that regulate social order and the behavior of life in an indigenous community. This study aims to find out the customary rules regarding the understanding of dowry contained in the Aceh Pidie community and to find out the causes and consequences of increasing the value of the dowry in the mayam count. The method in this study used a descriptive analytical qualitative research method. To answer these questions, the analysis technique used by the researcher is descriptive analysis and uses data collection techniques using observation, documentation, and interviews. The results of the study show that the dowry in Acehnese traditional marriages in Pidie Regency has a negative influence. A prominent factor is where men and women are hampered because of the high demand for dowry which must be adjusted to the changing times regarding the price of gold which is calculated in mayam units. The factors causing the increase in dowry in Acehnese traditional marriages in Pidie Regency are seen in terms of lineage, beauty, and the level of education of prospective women.