Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PARARELISME DALAM DOU SANDIK GUYUB TUTUR BIAK NUMFOR-PAPUA HUGO WARAMI
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 14 (2007): September 2007
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.904 KB)

Abstract

Abstract The speech community of Biak Numfor represents one community which are using the same language variant as a socio cultural media and also as distinguishing feature in facing their every day reality of life as well as as a carrier of set of norm and rules which is same in form of language. Every form of parallelism it?s a fair sharing between unchanging elements and changing elements. More tide of the distribution of unchanging elements, its getting more big differences and variation effectiveness. Parallelism in the text of Dou Sandik GTBN will be explained base on procedure which proposed by Jacobson , which are unchanging elements and changing elements which aim to specify repetition and existing parallels. Kata Kunci: Paralelisme, Dou Sandik, dan Guyub Tutur
Wacana Apec: Legitimasi Dan Signifikasi Perekonomian Bali (Kajian Wacana Kritis Parawisata) Hugo Warami; Putu Chrisma Dewi
RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa Vol. 1 No. 1 (2015): April 2015
Publisher : Magister of Linguistic, Postgraduated Program, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.048 KB) | DOI: 10.22225/jr.1.1.22.168-184

Abstract

Wacana APEC dalam kajian ini akan dieskplorasi melalui paradigma kritis untuk melakukan konstruksi refleksif terhadap pengalaman wacana-wacana pariwisata yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat pelaku pariwisata di Bali. Fokus kajian pada wacana APEC ini mencakup (1) legitimasi dan (2) signifikasi konstruksi wacana yang berdampak langsung pada perekonomian Bali melalui perspektif critical discourse analysis (CDA). Perspektif ini memberikan penekanan pada determinasi pariwisata dan ekonomi kreatif, yakni segala sesuatu yang sedang, akan, dan nanti terjadi melalui wacana APEC, dan berdampak langsung pada kekuatan-kekuatan ekonomi. Legitimasi akan membantu membuat objektivasi yang sudah dilembagakan menjadi tersedia secara objektif dan masuk akal secara subjektif. Sedangkan signifikasi merupakan salah satu struktur wacana yang mengacu pada sistem, mengharuskan adanya relasi yang tidak dapat dipisahkan antara sebuah tanda dan realitas yang menjadi rujukannya serta bersifat ikonis. APEC 2013 yang diwacanakan berlangsung di Bali, akan berdampak besar pada pembangunan sektor pariwisata.  Setidaknya, signifikasi perubahan dan dinamika yang terjadi di tingkat nasional, regional dan internasional akan dikonstruksi dan didayagunakan secara bersama dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang sama pada sesama negara anggota APEC. Untuk analisis CDA, fakta bahasanya diperoleh dari media massa (surat kabar lokal Bali), yakni (1) Bali Post dan (2) Media Bali Promosi.
Kejahatan Bahasa di Media Sosial Pada Wilayah Hukum Manokwari: Kajian Linguistik Forensik: Kajian Linguistik Forensik Hugo Warami
IJFL (International Journal of Forensic Linguistic) Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.552 KB) | DOI: 10.22225/ijfl.2.1.2263.1-8

Abstract

Kajian ini bertujuan menggambarkan potensi kejahatan bahasa yang terjadi pada facebook sebagai media sosial yang diyakini oleh masyarakat pengguna sebagai media yang mampu menawarkan kemudahan dan kecepatan penyebaran informasi, memberi dan menerima tanggapan, mengamati peredaraan informasi secara praktis, mudah, dan cepat sesuai konteks kebutuhan pengguna. Data yang digunakan dalam kajian ini terdiri atas data primer, yaitu data yang diidentifikasi dan diolah sendiri oleh saksi ahli bahasa sendiri berupa fakta bahasa pada teks-teks dalam media on line (facebook, sms, dan WA) sebagai barang bukti (BB) penyidik dan data sekunder berupa data tertulis yang berasal dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Saksi Ahli atau Keterangan Ahli yang dibuat oleh penyidik dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Manokwari. Dalam perspektif linguistik forensik, kajian ini berupaya menerapkan prinsip-prinsip ilmiah terhadap data kebahasaan pada kasus tindak pidana (kejahatan bahasa), serta mengadaptasi langkah-langkah dalam kajian ilmiah pada bidang ilmu lainnya. Kajian ini menggunakan dua pendekatan, yakni (1) pendekatan teoretis dan (2) pendekatan metodologis. Pendekatan teoretis adalah eksplorasi teori Linguistik Forensik, sedangkan pendekatan metodologi adalah pendekatan deskriptif dengan dimensi eksplanatif serta mengikuti prosedur (1) tahapan penyediaan data, (2) tahapan analisis data, dan (3) tahapan penyajian hasil analisis data. Hasil kajian menemukan fakta bahasa penghinan dan pencemaran nama baik sebanyak 15 (lima belas) buah, yakni (1) Biadab, (2) Busuk, (3) Binatang, (4) Anjing, (5) Babi, (6) Gurita, (7) Iblis, (8) Setan, (9) Sihir, (10) Santet, (11) Jahat, (12) Keji, (13) Jahanam, (14) Gatal, dan (15) Puki.
TIPOLOGI WACANA MOP ‘HUMOR’ DALAM MASYARAKAT PAPUA: IDENTIFIKASI DAN EKSPLORASI Hugo Warami
Kibas Cenderawasih : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 13 No. 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.783 KB) | DOI: 10.26499/kc.v13i1.98

Abstract

This article aims to describe the discourse joke by Papuans called Mop. Mop 'joke' discourse is one of the collective wealth of the people of Papua sastra inherited from generation to generation. Mop 'joke' discourse contains elements of humor or wit; the creation of a civilized beings. Mop 'joke' discourse has the potential of complex linguistic and supported by certain persuasive power that humorous effect, can be entertaining, pleasing, reduce tasa tense and unhappy audience. This article is an attempt to identify and explore initial typology forms of discourse in society Mop Papua with projecting typology that includes: (i) the story, (ii) conversation or dialogue, (iii) puzzles, and (iv) poetry.
LINGUISTIK FORENSIK: KONSEP DAN MODEL PENELITIAN (STUDI KASUS UNDANG-UNDANG NO. 21 TAHUN 2011 TENTANG OTSUS PAPUA) Hugo Warami
Kibas Cenderawasih : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.686 KB) | DOI: 10.26499/kc.v14i1.114

Abstract

This paper aims to reveal the nature of science that comes from forensic linguistics, namely the realm of interdisciplinary sciences of language, crime, and law. In it the law, including law enforcement, judicial matters, regulations, disputes or legal proceedings, and even disputes only potentially involve some violation of law or the need to seek some mode of legal remedy.The fact today illustrates that forensic linguistics has common characteristics that allow can be aligned into the practices of linguistic and discourse analytical others namely: (1) has a parameter forensic (legal and criminal) on linguistics, (2) as a surgical instrument used in hacking the relationship between language, law, and criminal, (3) a study of the language of the texts of laws, (4) media dismantle pragmatism legal language, (5) exposing the evil language, and (6) into a pillar of reconciliation between disputing parties law.Forensic linguistics can position the language, crime and law through interdisciplinary perspective as a vital part of human faced throughout his life. Paradigm evidentiary forensic linguistics implies granting absolute certainty for each person based on logic and observations obtained from the value sense and reasonableness. Forensic linguistics can be explored above, namely (1) the general characteristics, (2) the area of research, (3) the basic principle, (4) the mechanism of action, and (5) review the facts forensic linguistics.
MAKNA KATA UN ‘BAWA’ DALAM BAHASA BIAK, PAPUA KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI Hugo Warami
Kibas Cenderawasih : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 9 No. 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6495.733 KB) | DOI: 10.26499/kc.v9i2.147

Abstract

This article aims to describe and reveal a grain of Biak language lexicon based on semantic features different from the features of the other features. In semantics, a lexicon form fields can be described completely meaning to get the features behind it. This study will describe the meaning of Un ‘take’ in the language of Biak - Papua packaging metalanguage natural semantics of theory (MSA). MSA theory is designed to mengeksplikasikan all meaning, either lexical meaning, grammatical meaning, and illocutionary. Natural conditions of a language can be able to maintain a form of meaning and one meaning for one form. Results of this study indicate that the basic meaning of Un ‘take’ in Biak has eleven sub-type of meaning.
TRADISI DOU SANDIK: CERMIN IDENTITAS GUYUB TUTUR BIAK NUMFOR, PAPUA Hugo Warami
Kibas Cenderawasih : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 11 No. 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5254.114 KB) | DOI: 10.26499/kc.v11i1.151

Abstract

Dou Sandik tradition of Biak Numfor speech community (GTBN), Papua is the integration of speech language packed with slick as a form of expression of the human soul to God and His work of creation. What is presented through a cycle Dou Sandik tradition of cosmic life and death. Dou sandik tradition ogled as the strengthening of media characters, namely: (1) as a product and practice of GTBN describing his view of self, nature (the world), and God, (2) as a form of interaction with God langue and parole, (3) as pockets of cultural values   that precipitate narrative meaning and function of language, and (4) as a medium that can enclose an entity (outward unity) on the expression of life with respect to the portion crophos and religious content. As a reflection of identity, tradition is an attempt Dou Sandik disclosure of ideas, ideas, and the contents of the mind, as well as to reflect the reality of the experience of his successor. This tradition is seen in the structure involving the roles of the process, participants traditions, circumstances, prosesif, stative, active, kala, workshops, and how. Tradition is also used to build and maintain social relationships, to express social roles and communication roles created by Dou Sandik speech itself.
MAKNA RELIGIUS DALAM KIDUNG DOU SANDIKGUYUB TUTUR BIAK NUMFOR, PAPUA: KAJIAN RELIGIO-LINGUISTIK Hugo Warami
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 1 No. 1 (2015): LITERA JURNAL BAHASA DAN SASTRA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v1i1.35

Abstract

Masyarakat penutur Biak Numfor merupakan salah satu komunitas masyarakat yang menggunakan varian bahasa yang sama dengan aparat sosial-budaya dan juga membedakan fitur-fitur yang ada dalam menghadapi realitas kehidupan setiap hari serta metode yang sama yang ditetapkan dan norma dalam bentuk bahasa. Arti yang terkandung dalam ekspresi bahasa ada dalam kehidupan manusia, karena dalam bahasa prinsipnya digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dalam meletakkan terbuka arti mewakili nilai kehidupan. Sebuah proyek yang berdarakan pemahaman religius,mengacu pada kualitas keagamaan seseorang atau masyarakat penutur yang mengatakan agama sebagai lembaga pengajaran. Makna agama di Dou Sandik dalam Lagu GTBN terdiri dari: (1) makna keberadaan Tuhan, (2) makna suci, (3) makna doa, dan (4) makna keselamatan.Kata kunci: makna, religius, dan Kidung Dou Sandik
PAPUA DALAM JEJARING BAHASA POLITIK DAN POLITIK BAHASA: STUDI KASUS UU OTONOMI KHUSUS PAPUA Hugo Warami
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 3 No. 1 (2017): LITERA JURNAL BAHASA DAN SASTRA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v3i1.281

Abstract

ABSTRAK Tanah Papua merupakan salah wilayah di Indonesia yang diberikan kewenangan khusus dalambentuk Undang-Undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus yang disebut sebagai political will negara kepada rakyat Papua. Dasar pemberiannya adalah bahwa penyelenggaraanpemerintah dan pelaksanaan pembangunan di Papua selama berintegrasi dengan Indoensia belum sepenuhnya memenuhi rasa keadilan, kesejahteraan, mewujudkan penegakan hukum,dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia bagi rakyat Papua. Kajian ini bertujuanmengungkapkan UU Otsus Papua sebagai sebuah wacana publik kekuasaan yang di dalamnya mengandung sejumlah kewenangan dan kebijakan,sertadapat mengeksplorasi bentuk lingualdalam jejaring bahasa politik dan politik bahasa pada sistem pemerintahan Republik Indonesia. Bahasa politik yang terurai atas teks-teks politik sering diidentikkan dengan bahasa birokrasipemerintah sebagai alat kekuasaan negara. Bahasa politik tersebut dikemas dalam bentukslogan atau propaganda, bahasa penguasa (pejabat pemerintah), leksikon, ungkapan, metafora, dan lain sebagainya yang dapat digunakan untuk kepentingan politik, yakni sebagai alat danpraktik politik. Dalam konteks politik lokal Papua, penggunaan bahasa politik dapat diimplementasikan melalui pidato-pidato politik atau dokumen negara lainnya tentang  status,situasi, dan kondisi sosial politik tanah Papua (otonomi khusus, pemekaran, dan merdeka)dalam rangka memperkokoh bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Akan tetapi, implementasi UU Otsus Papua tidak diimbangi oleh politik bahasa yang memadai dan seringtidak konsisten. Akibatnya politik bahasa menimbulkan kekerasan psikis  atau kekerasan simbolik. Kata Kunci: Papua, bahasa politik, dan politik bahasa ABSTRACT Land papua is a region in indonesia that given special authority in the form of a statute no. 21 years 2001 on special autonomy called as political will state to the people papua. It is basedon the implementation of the government and the implementation of development in Papua during the integration with Indonesia has not been fully meet the sense of justice , welfare ,manifesting law enforcement , and respect for human rights for the people of papua . Aim ofthis study is to express law of special authority of Papua  as a public discourse power in which contain some  authority and policy, and also to explore the form of lingual in a political andpolitical language for the administration system of the republic of Indonesia. Political language that breaks down over political texts is identical with language of governmentbureaucracy as a means of the powers of the state. Those political language is in the form of                                       slogan or propaganda , language of ruler (government officials), a lexicon, expression, ametaphor, and others that can be used for political purposes, namely as a tool and political practices. In the context of Papua’s local politic, the use of political language be able to beimplemented through political speeches or document about the status, situation, political and social conditions in Papua, in order to strengthen a frame of national unity of the IndonesianRepublic. But, the implementation of special authority of law in Papua is not followed bypolitics language sufficient and often inconsistent .As a result political language cause violence is psychical or violence symbolic .  Keywords : Papua, language for politics, political language