Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Review: Studi Kandungan Fitokimia dan Aktivitas Antimikroba Daun Buas Buas (Premna cordifolia) Gusti Ngurah Trisna; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p12

Abstract

Tumbuhan buas buas (Premna cordifolia L.) yang termasuk ke dalam famili Lamiaceae dilaporkan aktif sebagai agen antimikroba. Narrative review ini bertujuan untuk mengkaji penelitian terbaru mengenai kandungan senyawa fitokimia dan aktivitas antimikroba dari daun buas buas. Artikel ini merupakan narrative review dari artikel-artikel ilmiah yang dikumpulkan melalui situs internet. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa berbagai macam ekstrak daun buas buas mengandung golongan senyawa flavonoid, saponin, fenolik, alkaloid, tanin, terpenoid, triterpenoid, steroid, dan polifenol. Buas buas terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif yaitu, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Streptococcus pyogenes, Streptococcus mutans, Streptococcus salivarius, dan Lactobacillus acidophilus, dan juga terhadap bakteri Gram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas marginalis, Pseudomonas syringae, Escherichia coli, Xanthomonas campestries, dan Salmonella typhi. Selain itu, buas buas juga memiliki aktivitas antifungi terhadap jamur Candida albicans, Aspergillus niger, Penicillium expansum, dan Fusarium oxysporum. Senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun buas buas diduga berperan penting dalam aktivitasnya sebagai antimikroba. Hasil studi literatur ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya dengan bahan daun buas buas sebagai agen antimikroba yang bersumber dari bahan alam.
Review: Studi Kandungan Fitokimia dan Aktivitas Antimikroba Kecombrang (Etlingera elatior) Ni Putu Gayatri Dewi Dasi; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p16

Abstract

Kecombrang (Etlingera elatior) merupakan tanaman yang telah banyak digunakan untuk pangan dan pengobatan tradisional. Tanaman ini termasuk ke dalam famili zingiberaceae yang diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder yang berpotensi sebagai agen antimikroba. Review artikel ini bertujuan untuk mengkaji beberapa penelitian mengenai kandungan fitokimia dan aktivitas antimikroba kecombrang. Artikel ini merupakan narrative review berdasarkan artikel ilmiah dari jurnal nasional dan internasional. Hasil studi menunjukkan bahwa kandungan fitokimia yang terdapat dalam kecombrang diantaranya flavonoid, tanin, alkaloid, steroid/triterpenoid, kuinon, saponin, glikosida, dan minyak atsiri. Bagian tanaman kecombrang yang dilaporkan memiliki aktivitas antimikroba adalah batang, daun, bunga, dan buah. Kecombrang telah terbukti dapat menghambat pertumbuhan mikroba, yaitu Staphylococcus aureus, Candida albicans, Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, Propionibacterium acnes, Salmonella typhimurium, dan Streptococcus mutans. Dari semua mikroba tersebut, aktivitas antimikroba paling tinggi diperoleh pada fraksi polar bunga kecombrang konsentrasi 30% dalam menghambat Staphylococcus aureus (Ø 18,50 ± 0,76 mm). Berdasarkan studi literatur, tanaman kecombrang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder dan hampir seluruh bagian tanaman memiliki aktivitas antimikroba.
Studi Literatur Kandungan Fitokimia, Aktivitas Farmakologi, dan Toksisitas Cempedak (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.) Ni Made Mirah Satya Kanti; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p17

Abstract

Cempedak (Artocarpus integer) dari famili Moraceae cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Buah ini satu famili dengan buah nangka, sehingga memiliki penampilan mirip dengan buah nangka namun tekstur buahnya berbeda. Tanaman ini dilaporkan terbukti secara ilmiah memiliki berbagai efek farmakologis. Review artikel ini bertujuan untuk merangkum penelitian ilmiah mengenai kandungan fitokimia, aktivitas farmakologi, dan toksisitas dari A. integer. Metode penulisan artikel ini berupa narrative review dari jurnal-jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional. Hasil review menunjukkan bahwa A. integer mengandung senyawa flavonoid, fenol, tannin, steroid/triterpenoid, saponin, alkaloid, karbohidrat, dan protein. Bagian kulit buah, buah, dan daun A. integer dilaporkan memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Bagian kayu, akar, dan biji buah dilaporkan memiliki aktivitas antijamur. Sedangkan, bagian tanaman A. integer yang dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri yaitu kulit batang, kayu batang, biji buah, kulit buah, dan daun. Metode ekstraksi yang digunakan umumnya maserasi dengan menggunakan pelarut yang bervariasi, diantaranya etanol, metanol, kloroform, dan n-heksana. Hasil uji toksisitas ekstrak etanol biji buah A. integer termasuk dalam kategori praktis tidak toksik dan ekstrak etanol kulit buah A. integer termasuk dalam kategori toksik sedang. Review ini dapat digunakan sebagai informasi awal terkait aktivitas farmakologi dan keamanan dari A. integer.
Review: Studi Kandungan Fitokimia, Aktivitas Antibakteri dan, Toksisitas Karamunting (Melastoma malabathricum L.) Luhde Manik Sugiantina; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p21

Abstract

Karamunting (Melastoma malabatchricum L.) mempunyai manfaat bagi kesehatan, diantaranya sebagaii aktivitas antibakteri. Artikel ini disusun guna memberikan informasi tentang kandungan fitokimia, aktivitas antibakteri, dan toksisitas dari karamunting. Metode yang digunakan adalah studi literatur dari beberapa artikel ilmiah yang telah diterbitkan, baik secara nasional dan internasional. Bagian tanaman karamunting yang dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri adalah daun, ranting, bunga, batang, dan akar, kemudian dilakukan ekstraksi menggunakan metode maserasi. Adapun pelarut yang digunakan seperti, nbutanol, metanol, etil asetat, etanol, dan n-heksan. Dari hasil kajian menunjukkan bahwa karamunting mengandung metabolit primer dan sekunder, yaitu: karbohidrat, alkaloid, fenol, steroid, flavonoid, triterpenoid, tanin, dan saponin. Karamunting terbukti menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes, Escherichia coli Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, Salmonella dysenteriae, Shigella sp, dan Pseudomonas aeruginosa. Senyawa yang terkandung dalam karamunting terutama flavonoid, saponin, dan tanin, dianggap bertanggung jawab atas aktivitas antibakterinya. Hasil penelitian uji toksisitas in vitro menyatakan bahwa, ekstrak daun dan batang karamunting termasuk dalam kategori toksik. Sedangkan uji toksisitas in vivo pada daun karamunting dikategorikan toksik ringan.
Review: Studi Kandungan Fitokimia dan Potensi Antibakteri Ekstrak Rimpang Temulawak Secara in Vitro dengan Metode Mikrodilusi Ni Putu Ananda Eka Putri; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 3 (2024): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2024
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2024.v03.p21

Abstract

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) sudah terbukti memiliki berbagai aktivitas farmakologi, termasuk sebagai antibakteri. Aktivitas tersebut pada tanaman dapat dipengaruhi oleh senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. Artikel ulasan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa yang terkandung dan aktivitas antibakteri ekstrak rimpang temulawak dengan metode pengujian mikrodilusi. Pencarian literatur dilakukan melalui database Google Scholar serta PubMed, dan diperoleh 39 artikel ilmiah (original article) berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa ekstrak rimpang temulawak terbukti sangat aktif dan memiliki potensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram positif dan negatif. Pada bakteri Gram positif, fraksi n-heksana dari ekstrak etanol terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dan Corybacterium tuberculostearicum dengan nilai KHM sebesar 0,024 µg/mL dan 0,049 µg/mL. Pada bakteri Gram negatif, senyawa xanthorrhizol yang diisolasi dari rimpang temulawak terbukti memiliki aktivitas antibakteri tertinggi pada Vibrio parahaemolyticus dengan nilai KHM sebesar 8 µg/mL. Kandungan kimia dalam rimpang temulawak selain xanthorrhizol yang juga diduga berperan terhadap aktivitas antibakterinya diantaranya yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, minyak atsiri, terpenoid, furanodienon, germakron, dan kurkumin.
Review: Aktivitas Antimikroba Temu Putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) Berdasarkan Hasil Pengujian dengan Metode Mikrodilusi Grasia Laura Boru Sihombing; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 3 (2024): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2024
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2024.v03.p26

Abstract

Tanaman temu putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) diketahui mengandung metabolit sekunder diantaranya saponin, tanin, glikosida, flavonoid, steroid, terpenoid, alkaloid, dan polifenol yang beberapa diantaranya memiliki potensi sebagai antimikroba. Artikel ini ditulis untuk mengkaji beberapa penelitian mengenai aktivitas antimikroba tanaman temu putih yang diuji menggunakan metode mikrodilusi. Artikel ini merupakan narrative review dari artikel-artikel ilmiah internasional dan nasional. Hasil studi menunjukkan bahwa bagian tanaman temu putih yang memiliki aktivitas antimikroba adalah rimpang, daun, dan tangkai. Ekstrak dari bagian-bagian tanaman tersebut diperoleh dengan menggunakan metode dan pelarut ekstraksi yang bervariasi. Ekstrak temu putih terbukti menghambat bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif, diantaranya yaitu Bacillus cereus, Enterococcus faecalis, Streptococcus pyogenes, Bacillus subtilis, Micrococcus luteus, Staphylococcus aureus, Mycobacterium phlei, Propionibacterium acnes, Sarcina lutea, Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli, Proteus mirabilis, Salmonella paratyphi, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, Salmonella typhimurium, Shigella flexneri, Shigella dysenteriae, dan Shigella sonnei. Selain itu, temu putih juga terbukti dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida dubliniensis, Candida albicans, Candida glabrata, Candida tropicalis, Candida krusei, Aspergillus niger, Aspergillus flavus, dan Fusarium oxysporum. Aktivitas antimikroba paling tinggi diperoleh pada minyak atsiri rimpang temu putih terhadap jamur C. albicans dan bakteri Gram positif S. aureus dengan KHM sebesar 6,25 µg/mL serta ekstrak n-heksana rimpang temu putih terhadap bakteri Gram negatif K. pneumoniae dan P. mirabilis dengan KHM sebesar 10 µg/mL. Berdasarkan hasil studi literatur, diketahui bahwa ekstrak temu putih memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai agen antimikroba.