Berdasarkan
data WHO tahun 2000, penyakit tidak menular telah mendominasi penyebab kematian utama dan beban penyakit secara global akibat dari meningkatnya
kesejahteraan dan perubahan gaya hidup. Gaya hidup tidak aktif (sedentary life
style) terjadi akibat kurangnya aktifitas fisik harian. Telah terdapat bukti
empirik tentang hubungan antara aktivitas fisik dan kebugaran terhadap
kesehatan dan penyakit tidak menular. Sementara itu berdasarkan hasil survei
Sport Development Indeks 2006 didapatkan hasil bahwa sebagian besar (81%)
masyarakat Indonesia tergolong memiliki tingkat kebugaran yang buruk. Dari data
survei SDI tersebut dapat dibayangkan tingkat produktivitas bangsa Indonesia
dan beban kesehatan yang akan ditanggung negara di masa yang akan datang.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi hubungan antara tingkat
kebugaran jasmani (daya tahan jantung paru) berdasarkan status tingkat
aktivitas olahraga menggunakan analisis regresi logistik model faktor resiko pada data Sport
Development Indeks (SDI) tahun 2006. Desain penelitian yang digunakan
adalah cross-sectional dan dengan
model faktor resiko akan dinilai pajanan tingkat aktivitas
olahraga terhadap status kebugaran dengan faktor yang menjadi potensial
confounder adalah variabel ruang terbuka olahraga, sumber daya manusia
olahraga, usia, gender, Indeks Massa Tubuh, pekerjaan, propinsi dan sosial
ekonomi kabupaten.
Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat interaksi
antara aktivitas olahraga sebagai faktor resiko dengan variabel usia dan IMT
sebagai faktor konfounder. Maka terdapat 4 nilai OR sebagai hasil interpretasi
dari model akhir regresi logistik sebagai berikut: Logit (Status Kebugaran) = -1,51 + 0,15Aktif + 0,38Usia2 0,044IMTkat 0,21Kerja2 + 0,6aktif_usia2 0,26aktif_imtkat.