Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH FASE BULAN TERHADAP WAKTU TEBAR PANCING DAN LAJU TANGKAP MADIDIHANG (Thunnus albacares Bonnaterre, 1788) PADA ARMADA RAWAI TUNA Irwan Jatmiko; Bram Setyadji; Arief Wujdi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.666 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.4.2016.207-214

Abstract

Madidihang/yellowfin tuna merupakan salah satu jenis ikan tuna ekonomis penting bagi industri perikanan di Indonesia dengan kontribusi hasil tangkapan yang terbanyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fase bulan terhadap waktu mulai tebar pancing dan laju tangkap madidihang pada armada rawai tuna. Pengumpulan data dilakukan oleh pemantau ilmiah pada armada rawai tuna yang sebagian besar berbasis di Pelabuhan Benoa, Bali mulai Agustus 2005 hingga Juni 2014. Daerah penangkapan ikan dari armada rawai tuna yang diambil datanya berada di lokasi (lintang dan bujur) 9°-16° LS hingga 109°-120° BT. Analisis anova satu arah dan tes Tukey dilakukan untuk mengetahui pengaruh fase bulan terhadap waktu mulai tebar pancing dan laju tangkap madidihang. Total sebanyak 60 trip dan 1.467 hari operasi penangkapan armada rawai tuna dilakukan dalam penelitian ini. Analisis statistik anova satu arah menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata pada fase bulan terhadap waktu mulai tebar pancing (p<0,05). Selanjutnya, tes Tukey menunjukkan bahwa waktu mulai tebar pancing pada saat bulan purnama dimulai pada pukul 9:00 pagi hari. Waktu ini lebih lambat sekitar 2 jam dari pada waktu mulai tebar pancing pada ketiga fase bulan lainnya (perbani awal, perbani akhir dan bulan baru) yang dilakukan sekitar pukul 7:00 pagi hari. Analisis statistik anova satu arah juga menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antar fase bulan terhadap laju tangkap madidihang (p<0,05). Selanjutnya, tes Tukey menunjukkan bahwa laju tangkap pada saat bulan baru dan perbani awal sebesar 0,13 ekor/100 mata pancing atau lebih besar dibandingkan nilai laju tangkap pada saat purnama dan perbani akhir yang hanya sebesar 0,09 ekor/100 mata pancing. Yellowfin tuna is one of the most economically important species for fisheries industry in Indonesia. The objectives of this study are to investigate the effect of lunar phase to the set time start and catch rate of yellowfin tuna on tuna longline vessels. Data collected by scientific observer on tuna longline vessels mainly based in Benoa Port, Bali from August 2005 to June 2014. Fishing ground of sampled longline tuna located from 9°-16° S to 109°-120° E. One-way anova analysis and Tukey test conducted to examine the effect of lunar phase to the set time start and catch rate of yellowfin tuna. A total of 60 trips and 1,467 fishing days of longline tuna fishing vessels operation have been sampled for in this study. One-way anova analysis showed that there was a significant difference of lunar phase to the set time start (p<0.05). Furthermore, Tukey test showed that the starting time for setting during the full moon begins at 9:00 am. Its time was around 2 hours slower than the start of setting of the other three moon phase (first quarter, last quarter and new moon) which start around 7:00 am. One-way anova analysis also showed that there was a significant difference of lunar phase to catch rate of yellowfin tuna (p<0.05). Furthermore, Tukey test confirmed that hook rate on new moon and first quarter was 0.13/100 hooks or 0.4 bigger than hook rate on full moon and last quarter with only 0.09/100 hooks.
VARIASI GENETIK MADIDIHANG (Thunnus albacares; Bonnaterre, 1788) DENGAN ANALISIS MIKROSATELIT DI PERAIRAN INDONESIA Irwan Jatmiko; Fathur Rochman; Maya Agustina
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.119 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.3.2018.157-164

Abstract

Madidihang (Thunnus albacares) merupakan spesies yang bermigrasi jauh yang distribusinya di perairan tropis hingga perairan subtropis. Spesies ini ditemukan di Samudra Atlantik, Hindia dan Pasifik. Informasi genetik ikan dengan migrasi jauh seperti tuna penting diketahui untuk kepentingan pemanfaatan secara lestari. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi keragaman genetik dan struktur populasi yang dieksploitasi dan kekerabatan populasi madidihang di perairan Indonesia. Pengumpulan sampel genetik dilakukan di tiga lokasi yaitu di Barat Sumatra, Selatan Bali dan perairan Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah analisis mikrosatelit yang terdiri dari ekstraksi, purifikasi, amplifikasi polymerase chain reaction (PCR) dan elektroforesis. Hasil analisis terhadap 3 loci DNA mikrosatelit menunjukkan bahwa tingkat kekerabatan ketiga kelompok sampel relatif dekat yaitu berkisar antara 0,132-0,206. Hal ini menunjukkan bahwa Populasi madidihang di perairan Indonesia merupakan stok tunggal dan terjadi perkawinan acak. Meskipun demikian, sebagai spesies yang bermigrasi jauh lintas negara, pengelolaan madidihang juga memerlukan kerjasama yang baik antar negara yang tergabung dalam organisasi pengelolaan perikanan tuna regional.Yellowfin tuna (Thunnus albacares) is a highly migratory species that distribute from tropical to subtropical waters. This species can be found in the Atlantic, Indian and Pacific Oceans. Genetic information in fish with long distance migration such as tuna is very important for sustainable use. This study aims to obtain information on genetic diversity and population structure exploited and kinship of yellowfin tuna populations in Indonesian waters. Genetic sampling of yellowfin tuna was conducted in three locations in Indonesian waters in western Sumatra, southern Bali and North Sulawesi waters. The methods used was microsatellite analysis which consist of extraction, purification, polymerase chain reaction (PCR) amplification and electrophoresis. The result of 3 microsatellite DNA locus analysis showed that the level of kinship between the three sample groups in Indonesian waters was relatively close, ranging from 0.132 to 0.206. This shows that yellowfin tuna population in Indonesian waters is a single stock and random copulation. However, as a highly migratory species that migrate across the nations, yellowfin tuna management also requires good cooperation among countries incorporated in regional tuna fisheries management organizations.
PENGARUH LAMA WAKTU TEBAR PANCING DAN PERENDAMAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN ALBAKORA (Thunnus alalunga Bonnaterre, 1788) DI SAMUDRA HINDIA BAGIAN TIMUR Irwan Jatmiko; Fathur Rochman; Zulkarnaen Fahmi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.487 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.3.2018.209-216

Abstract

Albakora (Thunnus alalunga) merupakan salah satu hasil tangkapan ikan ekonomis penting bagi nelayan rawai tuna di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu tebar pancing dan perendaman rawai tuna terhadap hasil tangkapan albakora. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan oleh observer pada armada rawai tuna yang berfungsi di Samudra Hindia, dilakukan dari bulan Agustus 2005 hingga Agustus 2016. Lama waktu tebar pancing rawai tuna berkisar antara 2-9 jam dengan lama waktu perendaman 1-14 jam atau rata-rata 5 jam. Analisis sidik ragam satu arah menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata pada lama waktu tebar pancing dan perendaman terhadap hasil tangkapan albakora (F9,1020=5,72; p<0,05). Uji Tukey menunjukkan bahwa lama waktu tebar pancing dan perendaman terbaik untuk menangkap albakora adalah masing-masing selama 4 & 5 jam dengan rata-rata laju tangkap sebesar 0,37/100 mata pancing. Nelayan armada rawai tuna disarankan untuk mengurangi lama waktu tebar pancing menjadi 4 jam dan tetap mempertahankan lama waktu perendaman 5 jam untuk memperoleh hasil tangkapan albokora secara maksimal.Albacore tuna (Thunnus alalunga) is one of the important economic catches for tuna longline fishermen in Indonesia. The objective of this research is to investigate the effect of length of set and soak time of tuna longline vessels to the catch of albacore tuna. The research data was collected by scientific observer on the Indonesian tuna longline vessels and conducted from August 2005 to August 2016. In general, the length of set time on tuna longline vessels ranges from 2-9 hours with the length of soak time from 1-14 hours with average of 5 hours. One way Anova analysis showed that there was a significant difference on the length of set and soak time to the catch of albacore tuna (F9,1020=5,72; p<0,05). Tukey test showed that the best length of set and soak time to catch albacore tuna was 4 & 5 hours, respectively, with hook rates of 0.37/100 hooks. Fishermen of longline tuna vessels are suggested to reduce the length of set time into 4 hours and to maintain 5 hours of soak time to obtain maximum catch of albacore tuna.