Herdiana Mutmainah
Research institute of coastal resources and vulnerability, Ministry of marine affairs and fisheries

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Spatial Distribution of Dissolved Heavy Metals (Hg, Cd, Cu, Pb, Zn) on the Surface Waters of Pare Bay, South Sulawesi Ulung Jantama Wisha; Aida Heriati; Muhammad Ramdhan; Eva Mustikasari; Herdiana Mutmainah; Ilham Ilham
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.606 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.23.4.199-206

Abstract

Pare bay is one of the areas of significance which is utilized for port services, stevedoring, oil distribution, regional industrial development, aquaculture, cultivation and settlement systems. Pare Bay potentially has a good prospect for a gigantic development. Whilst, a very dangerous threat is pollution, especially heavy metal pollution and water quality degradation. This study aims to determine the current condition of heavy metal concentrations and its distribution on surface waters of Pare Bay. Heavy metals were analyzed using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) in which it has a minimum detection limit reached 0.001 ppm so that the heavy metal concentration can be well-determined. Hg concentration is higher in the surface ranged 0.01-0.1 mg.l-1. Cd concentration ranged from 0.018-0.083 mg.l-1. Cu concentration ranged from 0.043-0.078 mg.l-1. Pb concentration ranged from 0.111-2.692 mg.l-1. Zn concentration ranged from 0.004 - 0.112 mg.l-1. Heavy metals content in Pare Bay exceeds the standard quality established by Ministry of Environment. It potentially harms the marine life which indirectly reduces the function value of Pare Bay as a center of maritime in the South Sulawesi. Water quality condition play a role in inducing the toxicity level of heavy metals in the Pare Bay. So that this area need to be monitored the water quality sustainably.
Analisa Tumpahan Crude Palm Oil (CPO) di Teluk Bayur Sumatera Barat, 28 September 2017 Herdiana Mutmainah; Ilham Ilham; Try Altanto; Hadi -; Rizki Anggoro Adi
Jurnal Kelautan Nasional Vol 15, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.333 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v15i1.7853

Abstract

Degradasi kualitas perairan dapat disebabkan oleh berbagai hal salah satunya tumpahan minyak. Walaupun merupakan minyak nabati, tumpahan Crude Palm Oil (CPO) atau minyak mentah kelapa sawit pada beberapa kasus di Indonesia menimbulkan degradasi kualitas air laut yang cukup signifikan dan berdampak buruk terhadap biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan peristiwa terjadinya tumpahan CPO di Teluk Bayur pada 28 September 2017 pkl. 09.30 WIB dan langkah-langkah yang dilakukan oleh seluruh pihak baik masyarakat, perusahaan dan beberapa instansi terkait dalam menangani tumpahan CPO serta menganalisa dampak tumpahan CPO terhadap perairan dan pulau-pulau kecil sekitarnya disertai alternatif solusi. Metode yang digunakan wawancara, survey literatur, dan survey primer berupa pengamatan sebaran tumpahan CPO dengan GPS dan drone; serta pengukuran kualitas air laut baik menggunakan alat WQC TOAA maupun pengukuran di laboratorium. Hasil analisa menunjukkan tumpahan Crude Palm Oil (CPO) di Teluk Bayur telah menyebabkan degradasi kualitas lingkungan perairan pada beberapa parameter seperti temperatur permukaan laut 30,5°C; pH: 5,7; DO: 0,55-3,89 mg/L; BOD: 0,39-0,48 mg/L; COD: 121-180 mg/L dan minyak lemak: 1,4-6,6 mg/L. Karakteristik CPO berwarna jingga seperti mentega, tekstur licin. CPO yang bercampur air laut dan pasir memiliki berat jenis 3,75 gr/cm3. Pada beberapa kasus, selain naiknya temperatur dan pH tetapi juga BOD, COD dan turbiditas serta menurunkan DO dan TDS. Tumpahan CPO berdampak negatif pada ekosistem dan biota laut seperti Mangrove, udang Windu, kepiting, coral dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena gumpalan dan lapisan CPO menutupi permukaan perairan sehingga mengganggu penetrasi sinar matahari dan proses respirasi dan fotosintesis tanaman laut. Diperlukan kewaspadaan dan mitigasi bencana tumpahan minyak untuk mengurangi resiko degradasi lingkungan. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar minyak atau tumpahan CPO seperti Oil Boom, Oil sponge, tanaman air Azolla folliculoid hingga bakteri tertentu jenis Bacillus dan Geobacillus.