Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Menstruasi terhadap Akne Vulgaris Hartono, Lusiane M.; Kapantow, Marlyn G.; Kairupan, Tara S.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.2.2021.32734

Abstract

Abstract: Acne vulgaris is a common inflammatory condition of pilosebaceous follicles that affects 85-100% of the human population. Patients usually complain of the appearance of acne vulagaris on the predilection areas such as face and neck (99%), back (60%), chest, shoulders and upper arms (15%). One of the factors that influence or trigger acne vulgaris is hormonal factor. During menstruation there is an increase and hormonal changes that can trigger acne. This study was aimed to determine the effect of menstruation on acne vulgaris. This was a literature review study using three databases named PubMed, ClinicalKey and Google Scholar. Keywords used were “Menstruasi” DAN “Akne Vulgaris” (Indonesia), and “Menstruation” AND “Acne Vulgaris” (English). In this study, there were 12 literatures that match the inclusion and exclusion criteria. The result was dominated by samples stating that there was a connection between menstruation and the appearance of acne vulgaris. The effect of hormonal instability during menstruation was one of the causes of acne vulgaris in women, which showed the effect of menstruation on the emergence of acne vulgaris, mostly during pre-menstruation. In conclusion, menstruation influences the occurrence and the severity of acne vulgaris.Keywords: menstruation, acne vulgaris  Abstrak: Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu kondisi inflamasi umum pada folikel pilosebasea yang dialami oleh 85-100% populasi manusia. Penderita biasanya mengeluh kemunculan AV pada predileksi wajah dan leher (99%), punggung (60%), dada (15%) bahu, dan lengan bagian atas. Faktor yang memengaruhi atau mencetuskan akne vulgaris salah satunya ialah faktor hormonal. Saat menstruasi terjadi peningkatan dan perubahan hormon yang dapat memicu akne. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh menstruasi terhadap akne vulgaris. Penelitian ini berbentuk literature review. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan “Menstruasi” DAN “Akne Vulgaris” (Bahasa Indonesia) serta “Menstuation” AND “Acne Vulgaris” (Bahasa Inggris). Pada penelitian ini didapatkan 12 literatur yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian didominasi oleh sampel yang menyatakan adanya pengaruh antara menstruasi dengan munculnya AV. Pengaruh ketidakstabilan hormon (estrogen dan progesteron) saat menstruasi merupakan salah satu penyebab munculnya akne vulgaris pada perempuan yang menunjukan adanya pengaruh dari menstruasi terhadap kemunculan AV, terlebih pada saat pre-menstruasi. Simpulan penelitian ini ialah menstruasi memengaruhi kemunculan dan keparahan akne vulgaris.Kata kunci: menstruasi, akne vulgaris
Karakteristik Bercak Kulit yang Dicurigai Pitiriasis Versikolor pada Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tuminting Manado Ngantung, Hana N. E. N.; Kapantow, Marlyn G.; Kairupan, Tara S.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.55439

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor is a disease caused by the Malassezia fungus with general symptoms in the form of hypopigmented, hyperpigmented, or erythematous spots. Pityriasis versicolor is often found, especially in tropical areas. This study aimed to determine the characteristics of skin spots suspected of pityriasis versicolor in inmates at the Class IIA Tuminting Manado Correctional Institution. This was a descriptive study with a cross-sectional design using quantitative methods. The results obtained 30 male inmates who had skin spots and were suspected of pityriasis versicolor. Skin lesions were most common in those aged 25-44 years (37%), level of education, namely high school (40%), the residential capacity of the inmates did not meet the requirements of 5.4 m2/person, hypopigmented lesions (90%), without complaints of pruritus (63%). The location of the lesions occurred in the body area (57%), combined areas (23%), and extremities (10%). Based on Wood's lamp and microscope examination, the overall examination results were negative (100%). In conclusion, skin spots suspected of pityriasis versicolor in inmates were negatively tested, therefore, it was confirmed as not pityriasis versicolor. Keywords: pityriasis versicolor; skin spots; penitentiary; Wood's lamp    Abstrak: Pitiriasis versikolor adalah penyakit yang timbul disebabkan oleh jamur Malassezia dengan gejala umum berupa bercak hipopigmentasi, hiperpigmentasi atau eritamatosa. Pitiriasis versikolor sering ditemukan terutama di daerah tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bercak kulit yang dicurigai pitiriasis versikolor pada warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tuminting Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan metode kuantitatif. Hasil penelitian mendapatkan 30 orang warga binaan laki-laki yang mempunyai bercak kulit dicurigai pitiriasis versikolor. Bercak kulit terbanyak ditemukan pada warga binaan usia 25-44 tahun  (37%), memiliki tingkat pendidikan SMA (40%), kapasitas hunian warga binaan tidak memenuhi syarat 5,4 m2/orang, warna lesi hipopigmentasi (90%), tidak ada keluhan pruritus (63%). Lokasi lesi terjadi pada area badan (57%), area kombinasi (23%), dan ekstremitas (10%). Berdasarkan pemeriksaan lampu Wood dan mikroskop, hasil pemeriksaan keseluruhan negatif (100%). Simpulan penelitian ini ialah bercak kulit dicurigai pitiriasis versikolor pada warga binaan dengan hasil pemeriksaan negatif sehingga dinyatakan bukan pitiriasis versikolor.  Kata kunci: pitiriasis versikolor; bercak kulit; lembaga pemasyarakatan; lampu Wood
OVERVIEW OF THE LEVEL OF KNOWLEDGE, ATTITUDES, AND BEHAVIORS OF MOISTURISER USE IN STUDENTS Rawung, Toar T. J.; Kapantow, Marlyn G.; Mawu, Ferra O.
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i2.6299

Abstract

Skin care is essential for health and appearance, particularly among students. The skin, as the largest organ, protects the body from external threats; however, in North Sulawesi, the tropical climate can lead to issues such as dry skin. Dry skin affects approximately 3% of adolescents and up to 85% of individuals aged 35-44, potentially resulting in infections and depression. Although moisturizers are a common solution for this issue, many medical students lack understanding of their importance, which can negatively impact their skin health. To assess the level of knowledge, attitude, and behavior regarding moisturizer use among students of the Medical Education Program at Sam Ratulangi University. This study employs a descriptive design with a cross-sectional approach. Sampling was conducted through total purposive sampling. Primary data collected were analyzed univariately using various statistical programs. The level of knowledge regarding moisturizer use was categorized as sufficient (77.84%), the attitude towards moisturizer use was categorized as good (89.17%), and the behavior regarding moisturizer use was categorized as sufficient (71.70%). The depiction of knowledge, attitude, and behavior regarding moisturizer use among students of the Medical Education Program at Sam Ratulangi University falls into the sufficient category.
Pengaruh Pajanan Sinar Matahari terhadap Penuaan Kulit Wajah Berdasarkan Penilaian Skin Analyzer pada Perempuan Minahasa di Sulawesi Utara Kairupan, Tara S.; Kapantow, Marlyn G.; Niode, Nurdjannah J.; Kapantow, Nova H.
Medical Scope Journal Vol. 8 No. 1 (2026): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v8i1.66243

Abstract

Abstract: Sun exposure is considered the predominant extrinsic contributor to skin aging. This was an observational analytical study with a cross-sectional design involving 177 Minahasan women aged 30-69 years residing in Manado City, Tomohon City, and Minahasa Regency, North Sulawesi Province, Indonesia. Participants were categorized into low sun exposure group (≤2 hours per day; n = 82) and high sun exposure group (≥5 hours per day; n = 95), based on the average daily exposure over the past ten years. Demographic data and sun exposure status were obtained through interviews and structured questionnaires. Facial skin aging was assessed using a skin analyzer, evaluating pores, wrinkles, pigmentation, and facial sebum. The results demonstrated that, overall, participants with high sun exposure had higher scores for pores, wrinkles, pigmentation, and U-area sebum than those with low sun exposure (all p<0.001), whereas no significant difference was observed in the T-area sebum (p=0.075). Age-stratified analysis showed consistent differences for wrinkles and U-area sebum across all age groups, while differences in pores and pigmentation were more pronounced in younger age groups. In conclusion, sun exposure contributes to facial skin aging and underscore the importance of photoprotection as a preventive strategy. Keywords: skin aging; skin analyzer; sun exposure    Abstrak: Pajanan sinar matahari merupakan faktor ekstrinsik utama yang berkontribusi pada penuaan kulit. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang yang melibatkan 177 perempuan suku Minahasa berusia 30-69 tahun yang berdomisili di Kota Manado, Kota Tomohon, dan Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Subjek dikelompokkan menjadi kelompok pajanan rendah (≤ 2 jam per hari; n = 82) dan kelompok pajanan tinggi (≥ 5 jam per hari; n = 95), berdasarkan rerata pajanan harian selama 10 tahun terakhir. Data demografik dan status pajanan sinar matahari diperoleh melalui wawancara dan kuesioner terstruktur. Penuaan kulit wajah dinilai menggunakan skin analyzer dengan parameter pori, kerutan, pigmentasi, dan sebum wajah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan, subjek dengan pajanan tinggi sinar matahari memiliki skor pori, kerutan, pigmentasi, dan sebum area-U yang lebih tinggi dibandingkan dengan subjek dengan pajanan rendah (seluruhnya p<0,001), sedangkan pada sebum area-T tidak ditemukan perbedaan yang bermakna (p=0,075). Analisis berdasarkan kelompok usia memperlihatkan bahwa perbedaan pada komponen kerutan dan sebum area-U konsisten ditemukan di semua kelompok usia, sedangkan perbedaan pada komponen pori dan pigmentasi lebih menonjol pada kelompok usia yang lebih muda. Simpulan penelitian ini ialah pajanan sinar matahari berkontribusi terhadap penuaan kulit wajah dan menegaskan pentingnya fotoproteksi sebagai strategi pencegahan. Kata kunci: penuaan kulit; skin analyzer; pajanan sinar matahari