Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Komparasi Preservasi Cadaver ., Arif Wicaksono
Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.286 KB)

Abstract

Latar Belakang. Pembelajaran anatomi meliputi belajar secara teori dan praktek. Secara teori tentang tubuh manusia, dan praktek/ praktikum untuk lebih memahami anatomi. Dalam praktikum, terdapat beberapa alat bantu untuk mahasiswa antara lain cadaver, manikin, chart dan poster.Dari beberapa penelitian, tampak bahwa belajar menggunakan cadaver merupakan hal yang sangat diminati dan sengat nyata terhadap tubuh manusia oleh para mahasiswa maupun dokter dengan spesialis tertentu. cadaver merupakan mayat yang dipergunakan untuk kepentingan medis, pembelajaran bahkan riset. Selain kesulitan untuk mendapatkan cadaver yang baik, cara peservasi cadaver juga memiliki banyak metode dan permasalahan. FK Untan munggunakan formalin sebagai media peservasi cadaver. Metode. Penelitian ini merupakan studi literatur mengenai preservasi cadaver. Hasil. Preservasi cadaver dapat menggunakan metode alami, mumifikasi, plastinasi, pebalseman, dan zat kimiawi. Kesimpulan. Terdapat banyak metode dalam preservasi cadaver dan metode preservasi cadaver terbaik adalah dengan menggunakan lemari pendingin, tetapi biaya dan sumber daya sangat tinggi dan mahal. 
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Ujian Praktikum Anatomi pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FK Universitas Tanjungpura Arif Wicaksono
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/V8I1.11189

Abstract

 Salah satu metode untuk memahami  pembelajaran anatomi adalah melalui praktikum. Nilai ujian praktikum dapat sebagai masukan bagi pengajar mengenai faktor-faktor yang berpengaruh pada ujian tersebut. Dua puluh dua mahasiswa menjadi subjek penelitian, data dianalisis menggunakn uji t dan one way anova. Hasil didapatkan tidak terdapat hubungan bermakna antara persepsi mahasiswa terhadap nilai ujian, tidak terdapat hubungan bermakna antarasistem ujian terhadap nilai ujian dan tidak terdapat hubungan bermakna antara kecemasan terhadap nilai ujian.
Foot Arch and Plantar Pressure in the Age of 17-21 Years Arif Wicaksono; Sasanthy Kusumaningtyas; Angela BM Tulaar
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 21, No 2 (2021): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v21i2.10799

Abstract

Research on the plantar segment has not been widely carried out in Indonesia’s population, even though the plantar segment data will be essential in further research and therapy of plantar-related problems. Therefore, this research intends to describe the plantar profile: the foot arch and the plantar pressure difference between the right and left foot. This research applied a cross-sectional study. Subjects were recruited from the Faculty of Medicine students, Universitas Indonesia, class 2012, with inclusion criteria aged 17-21 years and normal gait. Meanwhile, the exclusion criteria consisted of having postural abnormalities, a history of neuromusculoskeletal disorders in the lower limbs, a history of fractures in the spine and legs, a history of surgery on the spine and legs, and refusing to participate in the study. Research subjects stood on a plantar scanner, conducted at the Anatomy Laboratory, the Faculty of Medicine, Universitas Indonesia. The Mann-Whitney test was then used to analyze the difference in plantar pressure between the right and left foot. The results revealed that a hundred research subjects had a proportion of a low foot arch of 4%, a normal foot arch of 89%, and a high foot arch of 7%. The median right plantar pressure was 273.5 KPa, while the median left plantar pressure was 253.5 KPa. The Mann-Whitney test showed a p-value of 0.954 for the pressure difference between right and left foot. There was no plantar pressure difference between the right and left foot.
The Antimalarial Activity of the Water Extract of Simpur (Dillenia Indica L) Leaves against Plasmodium Berghei in Mice Hafrizal Riza; Andhi Fahrurroji; Supriyanto Supriyanto; Arif Wicaksono
Majalah Obat Tradisional Vol 24, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4059.555 KB) | DOI: 10.22146/mot.38626

Abstract

Malaria, caused by the climate of the subtropical area and the forest with many rivers and immovable water, is a contagious disease that still becomes a health problem in West Kalimantan. Simpur is a plant that is used by the locals to cure malaria. Therefore, this research aims to study the antimalarial activity in vivo and the 50% inhibitory concentration (IC50) of the water extract of Simpur leaves (Dillenia indica L) against Plasmodium berghei. This research used Peter Test method that used 7 test groups based on the test solution namely positive control group that was given dihydroartemisinin+piperaquine (DHP), negative control that was given aquabidestilata and the test group that was given the water extract of  Simpur leaves with various doses of 20, 40, 60, 80 and 100 mg/Kg BB of mice, which each group was given the test solution for 3 days. The result shows that the water extract of Simpur leaves could lower the parasitemia count with IC50 19,22 mg/kg BB.
PENANGANGAN BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) DAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) LINGKUNGAN RUMAH TANGGA Andhi Fahrurroji; Arif Wicaksono; Suhaimi Fauzan; Agus Fitriangga; Faisal Kholid Fahdi; Siti Nani Nurbaeti
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 26, No 1 (2020): JANUARI - MARET
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v26i1.16820

Abstract

Kecelakaan bisa terjadi kapan pun, di mana pun dan dapat pula menimpa siapa saja. Umumnya, kecelakaan pun menjadi penyebab utama trauma yang kemudian menyebabkan kematian. cedera kecelakaan lalu lintas dan kematian yang terjadi sudah menjadi masalah sangat serius. Prevalensi cedera hasil Riskesdas 2013 meningkat dibandingkan Riskesdas 2007, penyebab akibat kecelakaan sepeda motor 40,6 persen, terbanyak pada laki-laki dan berusia 15-24 tahun. Proporsi cedera karena kecelakaan transportasi darat (sepeda motor dan kendaraan lain) meningkat dari 25,9 persen menjadi 47,7 persen. Dalam menghadapi kasus kecelakaan dengan kondisi kegawatdaruratan diperlukan suatu keterampilan usaha untuk mengembalikan dan mempertahankan fungsi vital organ pada korban kecelakaan atau biasa disebut bantuan hidup dasar. Adapun dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini dilakukan dengan tahapan melakukan kegiatan sosialisasi dengan kepala dan pegawai puskesmas, petugas kesehatan, beserta kader tentang pelatihan penanganan bantuan hidup dasar (BHD) dan k3 lingkungan rumah tangga, Pengidentifikasian kader kesehatan sebagai calon peserta tersebut lingkungan rumah tangga kepada kader dan evaluasi dan monitoring hasil kegiatan. Berdasarkan hasil pelatihan, pengetahuan kader tentang penanganan BHD dan K3 lingkungan rumah tangga meningkat. dalam hal ini pengetahuan yang didapatkan peserta yaitu mengenai teknik dalam memberikan bantuan hidup dasar khususnya resusitasi jantung paru (RJP).Kata Kunci : Kecelakaan; Bantuan Hidup Dasar; K3 Rumah Tangga; Resusitasi Jantung Paru.AbstractAccidents can happen anytime, anywhere and anyone. Generally, accidents also become the main cause of trauma which then causes death. Traffic accident injuries and deaths that occur have become very serious problems. The prevalence of injury results from Indonesia Basic Health Research (Riskesdas) 2013 increased compared to Riskesdas 2007. The proportion of injuries due to land transportation accidents (motorbikes and other vehicles) increased from 25.9 percent to 47.7 percent. In dealing with accident cases with emergency conditions, a skill is needed to restore and maintain the vital functions of organs in the accident commonly called basic life support (BLS). These activities are carried out with the stages of conducting socialization activities with the head and staff of the health center, health workers, and cadres on training in handling BLS and household safety, Identification of health cadres as prospective participants in BLS, and evaluation and monitoring of activity results. Based on the results of the training, knowledge of cadres about handling BLS and Health Safety in the household environment increased. In this case, the knowledge gained by participants namely about techniques in providing basic life support, especially cardiac pulmonary resuscitation (CPR).Keywords: Accident; Basic Life Support; Household Health Safety; Cardiac Pulmonary Resuscitation.
HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PROFESIONAL DOKTER DI AWAL PEMERIKSAAN DAN KEPUASAN PELAYANAN DOKTER Arif Wicaksono
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3305.849 KB)

Abstract

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PROFESIONAL DOKTER DI AWAL PEMERIKSAAN DAN KEPUASAN PELAYANAN DOKTER
EARLIER FORMAL ETHICS EDUCATION, THE IMPORTANCE OF MEICAL ETHICS AND EXPECTATION OF ETHICS DOCTOR IN FIRST GRADE MEDICAL STUDENTS OF MEDICAL FACULTY UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK Ita Armyanti; Mardhia Mardhia; Arif Wicaksono
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.022 KB)

Abstract

AbstractHealth care decisions are based not only on clinical and technical grounds, but also onethical grounds. Although we carefully weigh the clinical and technical aspects, ethical issuesinvolved may be overlooked. A legal framework or code of conduct governing doctor's decisionsand behaviour may help overcome this problem but they often provide rigid guidelines for alimited number of situations. Earlier education in ethics might have some advantages to build agood medical character. The perception of the importance of medical ethics could also had aneffect to the expectation of a good medical doctor should be. This research was a cross sectionalstudy in first grade medical students of medical faculty Universitas Tanjungpura Pontianak,conducted in the last week of April, 2014. All of first grade medical students participated in thisstudy. This subjects given questionaire contained several questions : did they ever get a lessonof ethics in their Senior high schcol, how important the medical ethics and after studied medicalethics, what were their expectation ?. 86 subjects participated, 3'1 (36,05%) subjects are maleand 55(63,95%) subjects are female. The Age range from 16-20 years old, median 1B years oldand mode 1B years old. The subject came from 39 senior high school, was spread from papua,java dan kalimantan. Only 10(25,64%) senior high school had been given ethics in theircurriculum and this'1C school all located in Kalinrantan. One subject (1,16%)stated that ethicsjust a common lesson while 35 (40,7A %)subjects stated ihat ethics was inrportani and most ofthe subjects, 50(58,14%) subjects stated that ethics was very important lesson. The expectationafter studying medical ethics are : 39(45,35 o/o) subjects: respect and emphatize the other people,17 (19.77%) subjeets : be a betier person, 14(16,28o/c) subjeets: hospitable docior, 11 (12,79o/o)sub;ects :Apply the basic principle of bioethics and 5 (5,81%) sublects :treat the other like we'dlike to be treated. Twenty five point sixtyfour percent of the prirhary school of first year medicalstudent gave ethics lesson. Most of Subject stated that medical ethics is a very important lesson.The expectation after studying medical ethics varies: respect and emphatize the other people, bea better person, hospitable doctor, Apply the basic principle of bioethics and treat the other likewe'd like to be treated.Affiliasi Penulis: l.Departement of Pharmacology, Medical Faculty Universitas Tanjungpura,2.Depa(ement oftr4icrobiology Medical Faculty Universitas Tanjungpura, 3. Departement of Anatomy Medical Faculty UniversitasTanjungpura, Korespcndensi :Arif Wicaksono, email :drarii,vicaksono@gmail.com.*@TEilSupplen-ren Majalah Kedokteran Andalas' Vol' 37' No Supl'1' Maret 2014ETIKoLEGAL,SEcoNDoPINIONDENGANSENGKETAMEDISNoorman HerryadiKorespondensi : Noorman Herryadi' email : noormanherryadi@yahoo'com'oortr"lu,,.anini mencoba mengetengahkan hubungan antara second opinion dengan sengketamedis dari aspek Etikolegal Kedokteran, kaitannya dengan perlindungan bagi dokter dan bagipasien. Second Opinion Jdatan hak pasien dan kewajiban dokter untuk melaksanakannya dalammenjalankan profesi r"oort","nnya. Dalam kenyataan banyak sengketa medis, dimana pasienatau keluarga/ahli warisnya melakukan fenuntutan hukum kepada dokter atau Rumah Sakityang merawatnya, v*g olr"nabkan oten-reterangan atau opini dokter lain atau pihak lain yangdianggap berkompeten-untuf memberi keterangan atau opini'r{nkrar - nerlindunoarKata kunci: second opinion - sengketa medis - perlindungan dokter perlindungan paslen
Cadaver dalam Pembelajaran Anatomi pada Mahasiswa Kedokteran Arif Wicaksono
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 12, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik12112

Abstract

Anatomy courses must be obtained by all medical students. Anatomy is a very important basic subject in medical learning for students, clinical clerks and doctors. In learning anatomy, there are several tools to facilitate student understanding, one of which is cadaver. Various ethical problems and the large number of new anatomical learning aids raise the question of whether the use of cadaver is still necessary. This research was a quantitative descriptive study conducted on second-level medical students, Medical Education Study Program, Faculty of Medicine, Tanjungpura University regarding learning methods, learning aids and reasons for choosing these aids. A total of 75 students participated in the research, and most of them stated that the best anatomy learning method was through practicum (58.67%), then lectures (36%) and others (5.33%). The most learning choice was the combination of using cadaver and manikin (89.33%), cadaver (8%) and manikin (2.67%). The reason for the wet preparation is that it is very clear and distinct, distinguishable from one tissue to another. Cadavers play an important role in learning anatomy because they are very real, with a combination of other preparations to help students understand anatomy.Keywords: anatomy; learning; cadaver ABSTRAK Mata kuliah anatomi pasti didapatkan oleh semua mahasiswa kedokteran. Anatomi merupakan mata kuliah dasar yang sangat penting dalam pembelajaran kedokteran bagi mahasiswa, peserta kepaniteraan klinik dan dokter. Dalam pembelajaran anatomi, terdapat beberapa alat bantu untuk memudahkan pemahaman mahasiswa, salah satunya adalah cadaver. Berbagai problema etik dan banyaknya alat bantu pembelajaran anatomi baru, memunculkan pertanyaan apakah penggunaan cadaver masih diperlukan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan pada mahasiswa kedokteran tingkat II, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura mengenai metode pembelajaran, alat bantu pembelajaran dan alasan memilih alat bantu tersebut. Sebanyak 75 mahasiswa mengikuti penelitian, dan sebagian besar  dari mereka menyatakan bahwa metode pembelajaran anatomi terbaik adalah melalui praktikum (58,67%), kemudian  urutan berikutnya adalah kuliah (36%) dan lainnya (5,33%). Pilihan belajar terbanyak adalah kombinasi penggunaan cadaver dan manikin (89,33%), cadaver (8%) dan manikin (2,67%). Alasan untuk sediaan basah adalah karena sangat jelas dan nyata, bisa dibedakan antara satu jarigan dan jaringan lainnya. Cadaver berperan penting dalam pembelajaran anatomi karena sangat nyata, dengan kombinasi sediaan lainnya untuk membantu mahasiswa memahami anatomi.Kata kunci: anatomi; pembelajaran; cadaver
Korelasi Lingkar Pinggang dan Lingkar Leher terhadap Indeks Massa Tubuh pada Dewasa Muda Giovanni Lawira; Arif Wicaksono; Muhammad In'am Ilmiawan
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Faculty of Medicine and Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkk.17.2.110-119

Abstract

Obesitas merupakan masalah kesehatan yang prevalensi dan komorbiditasnya terus meningkat di seluruh dunia. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan indikator status gizi namun tidak menggambarkan status gizi orang dengan disabilitas fisik. Lingkar pinggang (LP) dan lingkar leher (LL) berpotensi menjadi alternatif dalam menentukan status gizi orang dengan disabilitas fisik. Oleh karena itu, perlu diketahui korelasi antara LP dan LL terhadap IMT pada orang normal serta nilai LP dan untuk tiap kategori IMT. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui korelasi LP dan LL terhadap IMT pada partisipan dewasa muda. Penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura pada bulan Mei 2019. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi yaitu uji Pearson dengan uji alternatif Spearman. Partisipan terdiri dari 20 orang laki-laki dan 40 orang perempuan yang berusia antara 19-23 tahun. Rerata LP dan LL seluruh partisipan, laki-laki dan perempuan adalah 83,60 cm, 84,62 cm dan 83,09 cm; 32,78 cm, 36,86 cm dan 30,74 cm. LP dan LL terhadap IMT memiliki korelasi positif bermakna (p=0,000) pada setiap kategori jenis kelamin dengan kekuatan korelasi sedang hingga sangat kuat (r=0,595~0,984). LP dan LL terhadap IMT pada partisipan dewasa muda memiliki korelasi positif bermakna untuk setiap kelompok jenis kelamin.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Ujian Keterampilan Klinik Dasar Modul Gastrointestinal Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Angkatan 2008 Arif Wicaksono
Jurnal Visi Ilmu Pendidikan Vol 9, No 3 (2012): Volume 9 Nomor 3 Edisi Agustus 2012
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.969 KB) | DOI: 10.26418/jvip.v9i3.426

Abstract

Latar belakang. Visi menghasilkan sarjana dan profesional kedokteran yang berkualitas tinggi dan kompetitif di tingkat regional, nasional dan internasional untuk mewujudkan Kalimantan Barat sehat pada tahun 2020 merupakan hal yang cukup menantang bagi PSPD FK Untan. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki adalah keterampilan klinik dasar yang dapat menjadi bekal penting pada para mahasiswa. Tujuan. Penelitian ini mencari hubungan antara faktor-faktor yang dicurigai berpengaruh terhadap nilai ujian keterampilan klinik dasar nodul gastrointestinal pada mahasiswa PSPD angkatan 2008. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross sectional dengan instrumen kuesioner. Uji yang digunakan adalah uji korelasi dan regresi berganda. Hasil. Sebanyak 69 mahasiswa mengikuti penelitian ini. Tidak terdapat hubungan bermakna antara faktor materi dan nilai ujian KKD(p=0,136), tidak terdapat hubungan bermakna antara faktor penunjang dan nilai ujian KKD(p=0,465), tidak terdapat hubungan bermakna antara faktor mahasiswa dan nilai ujian KKD(p=0,087) serta tidak ada hubungan bermakna diantara faktor materi, penunjang dan mahasiswa terhadap nilai ujian KKD(p>0,05).