Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Implementation Analysis of Clinical Governance by the Medical Committee at Deli Serdang Hospital Ratna Wulandari; Zulfendri; Surya Utama
Britain International of Humanities and Social Sciences (BIoHS) Journal Vol 2 No 1 (2020): Britain International of Humanities and Social Sciences, February
Publisher : Britain International for Academic Research (BIAR) Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/biohs.v2i1.169

Abstract

Clinical governance aims to maintain and improve the quality of medical services for patients and protect patients from the risk of unexpected events as regulated in Law Number 44 of 2009 concerning Hospitals and Minister of Health Regulation Number 755 / MENKES / PER / IV / 2011 regarding the implementation medical committee at the hospital. The medical committee is one of the hospital's instruments that has an important role in implementing clinical governance so that the medical staff at the hospital is maintained professionally. In implementing clinical governance in hospitals, it is done by carrying out credentials, monitoring the quality of the medical profession, and maintaining the ethics and discipline of the medical profession. This type of research is qualitative in-depth interviews. Informants were selected using a purposive technique. The subjects in this study were informants relating to the medical committee. The results showed that the implementation of clinical governance in Deli Serdang Hospital was not going well. This can be seen from the implementation of medical committee activities that are not in accordance with the Minister of Health Regulation No. 755 / MENKES / PER / IV / 2011 concerning the implementation of medical committees in hospitals. The work program carried out by the medical committee at Deli Serdang Hospital is deemed not in accordance with the expected target. This is due to the lack of planning and budget that supports the implementation of clinical governance in Deli Serdang Hospital. The implementation of clinical governance by the medical committee in medical services at Deli Serdang Hospital has not been running well. Thus, good planning and budgeting is needed to strengthen the activities of the medical committee in achieving good clinical governance in Deli Serdang Hospital.
The Determinants of Filariasis Prevention (Elephantiasis Disease) in Lumut Maju Village, Lumut Sub-district, Central Tapanuli Regency Lasmarida Br Silalahi; Zulfendri; Surya Utama
Britain International of Exact Sciences (BIoEx) Journal Vol 2 No 1 (2020): Britain International of Exact Sciences Journal, January
Publisher : Britain International for Academic Research (BIAR) Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/bioex.v2i1.142

Abstract

This research deals with the determinants of filariasis prevention (elephantiasis disease) in Lumut Maju Village, Lumut Sub-district, Central Tapanuli Regency. This research is a qualitative type of research with domain analysis. The study was conducted in Lumut Maju Village, Lumut Sub-district, Central Tapanuli Regency and work units related to the research problem. The results shows that In the context of filariasis prevention, the local government has not coordinated and established networks with relevant SKPDs and in partnership with relevant NGOs and academics. Handling of patients that aims to prevent and limit disability by providing care training to patients and families has not been done to the maximum. Control of risk factors does not work well because the patient is not maximally netted.
Pengaruh Karakteristik Organisasi Terhadap Pemanfaatan Posbindu Penyakit Tidak Menular Di Wilayah Puskesmas Helvetia Riri Astika Indriani; Zulfendri Zulfendri; Surya Utama
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 9 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.271 KB) | DOI: 10.22146/bkm.35009

Abstract

Effect of organization characteristics to the utilization of posbindu non communicable disease in Helvetia Public Health Center Purpose: The purpose of this research is to explain the influence of organizational characteristic (behavior of health officer, cadre behavior, service facility, Posbindu PTM activity) to the utilization of POSBINDU PTM in Helvetia Public Health Center.Methods: The type of research is survey research with explanatory research type. Sample amounted to 100 people taken with Proportionate Stratified Random Sampling technique. Primary data was obtained through direct interview using questionnaire. Data were analyzed by multiple linear regression test at the level of real test α = 5%.Results: The results showed that health officer behavior, cadre behavior, service facility influence PT Posbindu utilization, while PTM Posbindu activity utilization Posbindu PTM. It is estimated that the behavior of health workers has the greatest contribution (0.636) to the utilization of POSBINDU PTM. Ability of health officer behavior variable, cadre behavior and service facility to explain the utilization of POSBINDU PTM by 91%. In general, the utilization of POSBINDU PTM will increase if health officer behavior, cadre behavior and service facility are improved.Conclusions: Suggested in increasing prevention effort and overcoming PTM to form Posbindu PTM in every village in Helvetia health center area, health officer expected to be more friendly, alert, attention in serving community in Posbindu PTM, giving training to cadre Posbindu PTM, equip facilities and infrastructure to support implementation Posbindu PTM and implement a five-table system for Posbindu PTM activities can run more regularly and efficiently.
PENGARUH KARAKTERISTIK ORGANISASI TERHADAP PEMANFAATAN POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI WILAYAH PUSKESMAS HELVETIA MEDAN Riri Astika Indriani; Zulfendri Zulfendri; Surya Utama
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.507 KB) | DOI: 10.22146/bkm.35600

Abstract

Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) menjadi salah satu strategi penting dalam mengendalikan trend penyakit tidak menular yang terus meningkat. Puskesmas Helvetia merupakan salah satu puskesmas di Kota Medan dengan persentase kelurahan yang menjalankan Posbindu PTM terendah yaitu sebesar 28,57%. Pada tahun 2016, cakupan kegiatan Posbindu PTM di wilayah Puskesmas Helvetia sangat rendah yaitu dibawah 1%. Tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan pengaruh karakteristik organisasi (perilaku petugas kesehatan, perilaku kader, fasilitas pelayanan, kegiatan Posbindu PTM) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM di wilayah Puskesmas Helvetia.Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Helvetia Tengah dan Helvetia Timur Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan. Jenis penelitian adalah penelitian survai dengan tipe explanatory research. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat berusia 15 tahun keatas. Sampel berjumlah 100 orang yang diambil dengan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku petugas kesehatan (p value= 0,000), perilaku kader (p value= 0,000), fasilitas pelayanan (p value= 0,000) berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM, sedangkan kegiatan Posbindu PTM (p value= 0,413) tidak berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM. Diperkirakan perilaku petugas kesehatan mempunyai kontribusi yang paling besar (0,636) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM. Kemampuan variabel perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan untuk menjelaskan pemanfaatan POSBINDU PTM sebesar 91%. Secara umum pemanfaatan POSBINDU PTM akan semakin meningkat apabila perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan ditingkatkan. Disarankan dalam peningkatan upaya pencegahan dan penanggulangan PTM agar membentuk Posbindu PTM di setiap kelurahan di wilayah puskesmas Helvetia, petugas kesehatan diharapkan lebih ramah, sigap, perhatian dalam melayani masyarakat di Posbindu PTM, memberikan pelatihan terhadap kader Posbindu PTM, melengkapi sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan Posbindu PTM dan menerapkan sistem lima meja agar kegiatan Posbindu PTM dapat berjalan lebih teratur dan efisien.
Peranan Kader dalam Menemukan Kasus TB di Kabupaten Deli Serdang Tukiman Tukiman; Surya Utama; Abdul Jalil
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.247 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40631

Abstract

Indonesia menempati posisi kedua jumlah kasus TB terbesar di dunia dengan insiden dan  prevalensi, angka kematian serta TB dan co/infeksinya cukup mengkhawatirkan. Meskipun sudah banyak program yang dijalankan namun kasus tetap tinggi karena permasalahannya TB sangat kompleks. Penelitian pada negara-negara  berkembang menunjukkan bahwa peer support merupakan faktor penopang keberlanjutan program berbasis masyarakat. Untuk itu penelitian ini : 1). Diperoleh pengetahuan kader tentang TBC  paru 2). Diperolehnya sikap kader mengenai TB Paru 3) Penemuan kasus TBC Paru dan 4) Peranan kader dalam penanggulangan TB Paru. Rancangan penelitian ini cross sectional studi dengan pendekatan kuantitatif  di 3 lokasi kabupaten Deli Serdang yakni kecamatan Percut Sei Tuan, kecamatan Tanjung Morawa dan Kecamatan Pancur Batu dipilih secara Purpossive yang mewakili kasus TB Paru tertinggi, sedang dan rendah.Jumlah sampel sebanyak 45 kader TBC Paru. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan kader tentang TBC paru sudah cukup baik (84,4%). Kader masih banyak belum tahu tugas PMOyang berkaitan dengan mendampingi,  periksa dahak dan memberikan penyuluhan tentang TB kepada keluarganya. Pada umumnya sikap kader kategori baik (86,7%). Kader tidak setuju kalau penyakit TBC paru  penyakit keturunan (95,6%),tidak setuju pencegahan TBC paru hanya tanggung jawab puskesmas (84,4%). Untuk penemuan kasus dalam kategori kurang (64,4%), belum menemukan dan merujuk ke fasilitas kesehatan (93,3%).Peran kader dalam penanggulangan TBC paru kategori kurang (71,1%) kader belum aktif  memberikan penyuluhan tentang TBC paru(73,3%). Kader menganjurkan  ke pelayanan kesehatan jika sudah batuk lebih  2 minggu (84,4%) , menganjurkan penderita dicurigai TBC  paru berobat ke puskesmas sampai sembuh (82,2%).  Diperlukan upaya edukasi kader tentang tugas PMO, mendorong kader memberikan penyuluhan tentang TBC paru,  mencari orang yang dicurigai sakit TBC  paru.