Agus Salim Arsyad
Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemetaan daerah kerawanan penyakit leptospirosis melalui metode geographically weighted zero inflated poisson regression Agus Salim Arsyad; Hari Kusnanto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 7 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1089.128 KB) | DOI: 10.22146/bkm.35050

Abstract

Mapping leptospirosis vulnerable areas through a geographically weighted zero-inflated poisson regressionPurpose: Gunung Kidul Health Office reported an increase of leptospirosis cases in 2017. There are many zero values in the data count, so the mean and variance values must not be met. Zero-Inflated Poisson regression is used for modeling data counts that are mostly zero. The study aims to map leptospirosis vulnerable areas.Method: A total of 144 villages were analyzed. The independent variables were percentages in paddy fields, residential land, settlement distance to rivers, population density, soil texture, altitude, and rainfall. The dependent variable was the number of leptospirosis cases in each village from 2011 to 2017.Results: The average of leptospirosis cases was 0.6 and the variance was 3.4. Observation data with value of zero was 81%. The Geographically Weighted Zero-Inflated Poisson Regression test was better than Zero-Inflated Poisson multivariate regression in mapping of leptospirosis vulnerable areas. The model brought up local variables in the percentage of paddy fields, percentage of residential land, percentage of settlement distance to river, place height, and rainfall and global variables in the form of population density and soil texture (R-Square = 55.9%). This vulnerability modeling was appropriate based on disease distribution and level of vulnerability. Only 5.5% of leptospirosis cases in the area were not vulnerable.Conclusion: The sentinel leptospirosis surveillance system should be applied in areas prone to early detection of leptospirosis cases.
Evaluasi program pengendalian leptospirosis di kabupaten Gunungkidul 2017 Agus Salim Arsyad
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.56 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37619

Abstract

Tujuan: Leptospirosis adalah suatu infeksi zoonosis global yang disebarkan melalui air yang disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira. Data surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menunjukkan peningkatan kasus leptospirosis pada tahun 2017 dibandingkan dengan tahun 2016. Pada Januari-April 2017 terdapat 54 kasus leptospirosis yang tersebar di delapan kecamatan. Dari 56 kasus terdapat 16 kasus yang meninggal dan Case Fatality Rate (CFR) 26,78 %. Evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui gambaran dan permasalahan pelaksanaan program pengendalian leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul. Metode: Ini adalah penelitian deskriptif yang berfokus pada input, process dan output dari program pengendalian leptospirosis. Data dikumpulkan dengan mewawancarai petugas leptospirosis di Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul dan sebelas puskesmas yang memiliki kasus leptospirosis pada tahun 2017 dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Peneltian dilakukan selama bulan Mei sampai September 2017. Hasil: Program pengendalian leptospirosis merupakan bagian dari program zoonosis yang baru dibentuk pada bulan Maret 2017. Hasil evaluasi pada aspek input, semua petugas zoonosis sudah mendapatkan pelatihan walaupun didapatkan setelah puncak kasus pada bulan Januari-April tahun 2017; Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul sudah mengusahakan dengan optimal ketersediaan Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk puskesmas yang ada kasus leptospirosis. Pada aspek process, belum adanya perencanaan untuk kegiatan pengendalian leptospirosis karena merupakan program baru, kegiatan penyuluhan dilakukan pada saat Penyelidikan Epidemiologi (PE). Pada aspek output, semua kasus sudah dilakukan PE dan tercatat, hanya ada satu puskesmas yang tidak melakukan PE terhadap semua kasus leptospirosis, hal ini terjadi karena adanya tugas ganda dan kurangnya koordinasi petugas zoonosis dengan petugas surveilans di puskesmas. Simpulan: Program zoonosis terutama pengendalian leptospirosis telah dilaksanakan di Kabupaten Gunungkidul walaupun ada beberapa kelemahan pada input, prosess, dan output. Berdasarkan evaluasi, perlu dibuat perencanaan yang tepat untuk program pengendalian leptospirosis pada tahun 2018, keseragaman dalam pelaporan, dan peraturan yang baku dalam program pengendalian leptospirosis yang melibatkan program lintas sektoral.