Nurlienda Hasanah
UGM

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gerakan Organisasi Filantropi pada Praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak saat Banjir Bandung Selatan Tahun 2014-2016 Nurlienda Hasanah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1238.254 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37000

Abstract

Pendahuluan: Kematian bayi akibat diare merupakan kasus tertinggi pada situasi bencana. Pemberian makan bayi dan anak (PMBA) berperan dalam mengatasi hal tersebut.Tujuan: Untuk menggambarkan gerakan organisasi filantropi dalam pemberian makan bayi dan anak, penyintas Banjir Bandung Selatan.Metode: Penelitian menggunakan metode kualitatif dan desain studi kasus. Penelitian ini mengulas partisipasi organisasi filantropi pada pemberian makan bayi dan anak pasca bencana banjir di Bandung Selatan Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitin ini disajikan dalam bentuk naratif.Hasil: Terdapat tiga organisasi filantropi yang berpartisipasi pada pemberian makan bayi dan anak pasca bencana banjir di Bandung Selatan yaitu Kidzsmile Foundation, Dompet Dhuafa dan Healthy Homemade Baby Food (HHBF). Organisasi tersebut berperan membantu penyintas berupa meningkatkan kesadaran masyarakat, menyediakan makanan lokal yang sesuai untuk makanan bayi dan anak, konseling menyusui dan pendidikan gizi. Salah satu organisasi (Kidzsmile Foundation) juga  mengembangkan jaringan dan melakukan advokasi pada Forum Pengurangan Risiko Bencana Jawa Barat (FPRB) terkait pemberian makan bayi dan anak saat banjir guna menghasilkan kebijakan PMBA bagi organisasi-organisasi filantropi. FPRB Jabar berperan penting dalam koordinasi dan distribusi pengganti ASI (breast-milk subtitutes) bagi penyintas saat terjadi bencana. Organisasi filantropi menjadi wadah masyarakat untuk menjembatani adanya gap dalam penanganan penyintas pasca bencana. Pedoman kegiatan gizi dalam penanggulangan bencana belum optimal. Sehingga keterlibatan sektor pemerintah terkait PMBA perlu mendapatkan perhatian serius.Kesimpulan: Koordinasi organisasi filantropi dan sektor pemerintah berperan penting dalam mempromosikan praktik pemberian makan bayi dan anak pada situasi bencana.
Studi Kasus Potensi WhatsApp Group dalam Edukasi Gizi Seimbang Melalui Penyusunan Menu Keluarga Nurlienda Hasanah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2681.145 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37927

Abstract

Latar Belakang : Perkembangan teknologi memberikan kemudahan berinteraksi dan berbagi  informasi satu sama lain. Era sosial media dapat digunakan oleh tenaga kesehatan untuk mengedukasi masyarakat secara online, salah satunya dengan optimasi layanan WhatsApp group. Kesehatan keluarga merupakan inti dari kesehatan masyarakat. Sajian menu dalam keluarga menjadi dasar pemenuhan gizi terutama pada anak dan keluarga inti lainnya.  Tujuan : Untuk mengetahui potensi WhatsApp group dalam pemberian edukasi gizi seimbang melalui penyusunan menu keluarga.Metode : In-depth interview terhadap 2 ahli gizi pengelola WhatsApp Group yang memberikan edukasi gizi online dan survey sebagai data pendukung.Hasil : Berdasarkan hasil survey diketahui bahwa para ibu ingin menyajikan menu yang bergizi, lezat dan tidak membosankan. Sedangkan In-depth interview yang dilakukan mengenai edukasi gizi seimbang melalui WhatsApp Group diperoleh bahwa durasi edukasi yang paling kondusif sekitar 2 jam dengan waktu yang sudah dijadwalkan. Aktivitas edukasi ini memperoleh respon positif dalam penerimaan pesan edukasi gizi seimbang melalui penyusunan menu keluarga. Jumlah anggota WhatsApp Group ini bervariasi mulai dari  30 hingga 90 orang. Metode pemberian materi awal sebelum berjalannya sesi tanya jawab seminggu sebelumnya terlihat lebih efektif dibandingkan pemberian materi pada saat diskusi online yang bersamaan dengan sesi tanya jawab. Sistem mendaftar mandiri dengan adanya investasi sebagai syarat bergabung dalam WhatsApp Group membuat peserta lebih antusias saat mengikuti edukasi dibandingkan WhatsApp Group tanpa berbayar. Pemberian tugas untuk menyusun menu keluarga selama 1 minggu dengan pendampingan konsultasi jika ada kesulitan terbukti lebih mudah dipahami dan dipraktekkan oleh peserta WhatsApp Group.Kesimpulan : WhatsApp group berpotensi digunakan untuk edukasi gizi seimbang pada tataran keluarga.