Dyah Kustiara
Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi pendahuluan: analisis potensi penerapan pendidikan gizi di sekolah alam Bengawan Solo Dyah Kustiara
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.07 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37660

Abstract

Indonesia mengahadapi masalah gizi ganda. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan adaptasi kurikulum berwawasan kesehatan guna pengembangan sekolah ramah gizi. Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS) merupakan salah satu sekolah alam di Jawa Tengah yang sedang berkembang pesat. Sekolah ini memperkenalkan konsep pendidikan alternatif yang memanfaatkan alam sebagai tempat belajar, bahan ajar dan juga objek belajar. Studi pendahuluan dilakukan untuk mengetahui potensi penerapan pendidikan gizi di SABS dengan melihat aspek kebijakan, komitmen kepala sekolah, kegiatan belajar mengajar, dan lingkungan sekolah. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis isi artikel online tentang SABS yang terdapat dalam website resmi SABS, koran online serta blog institusi dan pribadi. Kebijakan yang diterapkan di SABS adalah terbuka terhadap gagasan pengembangan pendidikan serta aktif membangun mitra yang luas. Kepala sekolah berkomitmen menyelenggarakan pembelajaran yang membangun kesehatan fisik dan mental, melatih daya juang dan ketekunan, serta menumbuhkan nalar siswa. Komitmen ini didukung dengan kinerja para fasilitator. Kegiatan Belajar Mengajar di SABS memadukan materi pelajaran dan aktivitas fisik seperti berkebun, memasak, dan outbond. Bangunan kelas berupa saung terbuka dan bertingkat dengan lingkungan sekolah yang hijau serta terdapat alat permainan tradisional. SABS memiliki potensi besar dalam mengimplementasikan pendidikan gizi secara komprehensif. Studi ini mendorong penelitian lebih lanjut yang dapat berimplikasi pada pengembangan kurikulum pendidikan sekolah alam berbasis gizi dan kesehatan.
Potensi pengembangan riset filantropi gizi di Indonesia Dyah Kustiara
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.44887

Abstract

Latar belakang: Filantropi suatu kepedulian sosial yang diwujudkan dalam bentuk memberi baik harta, fasilitas, ilmu dan tenaga, dalam satu dekade ini banyak digaungkan oleh berbagai organisasi. Filantropi dinilai mampu mengatasi masalah berbagai sektor  termasuk gizi. Di Indonesia, Filantropi sebenarnya telah lama mengakar dalam kehidupan bermasyarakat.  Namun, penelitian ilmiah filantropi khususnya bidang gizi belum banyak diangkat. Penelitian dilakukan  untuk mengetahui potensi pengembangan riset filantropi gizi dengan mengeksplorasi praktik-praktik filantropi gizi di Indonesia. Metode: Jenis penelitian adalah kualitatif dengan menggunakan metode studi literatur yakni mengumpulkan berbagai referensi teori yang relevan dari buku, jurnal, laporan penelitian, dan situs-situs internet. Hasil: Terdapat tiga analisis pendekatan dalam filantropi yaitu karitas (charity approach), filantropi ilmiah (scientific philanthropy) dan  neo filantropi ilmiah (new scientific philanthropy). Peran filantropi dalam layanan, advokasi, budaya, kewarganegaraan dan terdepan telah dilakukan oleh berbagai pihak. Praktik secara individu dan komunitas seperti dibukanya “Restoran Fakir Miskin" dan “Warung Nasi Kuning” untuk kaum dhuafa dan fakir miskin, aksi sosial dan kampanye food sharingoleh komunitas Brotherfood , serta komunitas Slow Food mencatatkan beras Adan varietas hitam dan garam gunung Krayan (Tucu’) ke dalam Ark of Taste untuk melindungi pangan lokal. Adapun kepedulian sosial yang digerakkan lembaga diantaranya : upaya Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam mengatasi gizi buruk di Papua, upaya Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dalam advokasi budaya pangan nusantara, bantuan Dompet Dhuafa kepada desa adat Kasepuhan Sinar Resmi untuk memelihara tradisi menjaga benih unggul lokal. Program filantropi gizi yang dimotori oleh perusahaan yaitu : hibah penelitian seputar permasalahan gizi oleh Nutrifood, “Gerakan Nusantara” oleh PT Frisian Flag, “Warung Anak Sehat” oleh PT Sari Husada, serta  program “Kebun Gizi” dengan membangun green house sebagai pusat pelatihan masyarakat oleh Sharp Electronics Indonesia. Beberapa social enterprise  seperti Yayasan Cinta Anak Bangsa dan Kitabisa turut andil dalam filantropisme gizi. Simpulan: Ada banyak program filantropi gizi dan pangan yang sudah dilakukan oleh individu, komunitas, lembaga maupun perusahaan. Hal ini memberi ruang yang luas bagi peneliti Indonesia untuk mengembangkan riset kuantitatif ataupun kualitatif terkait topik filantropi gizi.