Gumson Joshua Tampubolon
Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Potensi risiko kejadian luar biasa pada kegiatan ziarah makam: pembelajaran dari infeksi Escherichia coli di Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo Nurjanna Nurjanna; Gumson Joshua Tampubolon; Iffa Karina Permatasari; Theodola Baning Rahayujati; Titiek Hidayati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2395.147 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39810

Abstract

Tujuan: Kegiatan ziarah makam atau biasa disebut “Nyadranan” merupakan bentuk alkulturasi islam dengan budaya jawa yang biasa dilakukan menjelang bulan puasa Ramadhan. Terdapat ritual minum air gentong yang dianggap berkah dalam kegiatan ziarah tersebut. Padahal higienitas air gentong tidak terjamin karena berupa air mentah yang belum diolah. Tulisan ini disusun untuk menggambarkan potensi resiko KLB pada kegiatan ziarah makam dan upaya pencegahan kejadian serupa di masa akan datang. Konten: Kasus KLB pernah terjadi pada 2 rombongan warga Dusun Kradenan Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo yang melakukan kegiatan ziarah makam ke Gunungpring Magelang tahun 2018. Penyebab KLB adalah konsumsi air gentong yang mengandung mikroba patogen Escherichia coli. Air gentong terkontaminasi diduga karena kontak langsung dari tangan peziarah ke air gentong, tercemarnya peralatan minum dan distribusi air, kondisi gentong berukuran besar yang sulit dibersihkan dan adanya toilet dalam kompleks makam.Resiko KLB pada kegiatan ziarah makam dapat terulang kembali jika pihak terkait tidak memberikan perhatian. Peningkatan resiko ini didukung oleh banyaknya lokasi ziarah makam yang tersebar di berbagai daerah terutama di pulau jawa serta banyaknya jumlah peziarah yang datang dari berbagai daerah ke lokasi ziarah.Upaya pencegahan dapat dilakukan oleh pengelola makam dengan meningkatkan higienitas lingkungan dan air di lokasi ziarah makam, seperti pencucian peralatan minum secara berkala dan ada jadwal tertentu untuk menguras/membersihkan gentong. Pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan atau puskesmas juga dapat melakukan inspeksi/pemeriksaan secara berkala pada sumber air yang digunakan di lokasi ziarah dan bila terbukti mengandung mikroba patogen dapat dilakukan desinfeksi. Selain itu peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi pada warga untuk tidak mengkonsumsi air mentah tanpa pengolahan terlebih dahulu seperti memasak air sampai mendidih dan mencuci tangan pakai sabun setelah buang air besar  merupakan langkah awal untuk pencegahan kejadian serupa.