Rido Illahi Ayef Eka Putra
Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tantangan Sistem Surveilans Pencegahan Kejadian Luar Biasa Pasca Bencana Di Puskesmas Batusuya Kecamatan Sindue Tombusabora Kabupaten Donggala Tahun 2018 Rido Illahi Ayef Eka Putra; Vira Faisal
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2656.492 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40470

Abstract

Tujuan: Bencana alam yang terjadi di Propinsi Sulawesi Tenggah pada tanggal 28 September 2018 yang lalu menimbulkan banyak korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan melumpuhkan sistem pemerintahan.  Salah satu daerah yang terkena dampak bencana adalah kecamatan Sindue Tombusabora di Kabupaten Donggala. fasilitas kesehatan yang tersedia di kecamatan Sindue Tombusabora adalah Puskesmas Batusuya. Puskesmas Batusuya merupakan satu-satunya Puskesmas tempat pelayanan kesehatan yang memiliki wilayah kerja meliputi desa Batusuya go, desa Batusuya, desa Kaliburu, desa Kaliburu Kata dan desa Tibo. Sebagai fasilitas kesehatan yang utama di tingkat kecamatan puskesmas Batusuya memiliki peranan yang sangat penting untuk pengobatan dan perawatan pasca bencana. Tulisan ini disusun untuk menjelaskan tantangan dan kendala pengoperasian kembali (pengaktifan kembali)  dan pembuatan sistem surveilan penyakit pasca bencana. Konten: Gempa Bumi yang terjadi tanggal 28 September 2018 melumpuhkan sistem surveilans dan pelayanan kesehatan Puskesmas Batusuya. Selama 2 minggu semenjak kejadian gempa bumi puskesmas Batusuya tidak beroperasi sebagaimana mestinya, karena tidak adanya petugas kesehatan dan ruangan rawat inap yang tidak memenuhi kriteria yang aman.. Dari hasil kunjungan lapangan ke petugas kesehatan puskesmas ditemukan bahwa petugas kesehatan trauma untuk pergi bertugas ke puskesmas karena dikhawatirkan akan ada gempa susulan dan letak geografis puskesmas Batusuya yang berada 200 meter dari bibir pantai. Selain kekhawatiran tenaga kesehatan terhadap gempa susulan, juga dipenggaruhi oleh ketidakhadiran  kepala Puskesmas sebagai pimpinan puskesmas Batusuya dalam mengelola dan mengarahkan bawahannya untuk bertindak. Untuk bisa menghidupkan sistem surveilans Puskesmas, langkah awal yang dilakukan adalah menghidupkan pelayanan kesehatan di puskesmas terlebih dahulu. Untuk itu dilakukan advokasi kepada kepala Puskesmas dan tenaga kesehatan (perawat, bidan) agar dapat melakukan kembali tugasnya di puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan.  Setelah pelayanan kesehatan di puskesmas berjalan diambil laporan surveilan puskesmas dari registrasi pengobatan dan laporan registrasi di bidan desa dari setiap desa di wilayah kerja puskesmas Batusuya.
Diphteri outbreak investigation in restricted islamic boarding school Boyolali district, Central Java province, Indonesia 2018 Rido Illahi Ayef Eka Putra; Teguh Tri Kuncoro; Dibyo Pramono
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.388 KB) | DOI: 10.22146/bkm.45154

Abstract

Background: On May 13, 2018 at 10.08 a.m, Boyolali District Surveillance Officer (DSO) was informed by the Head of the Boyolali Health Office Disease Control  Division via the WhatsApp group (WA), that there was found one diphtheria-suspected patient from El-Abror Islamic Boarding School in Candi,  Ampel sub-district. Suspected patien was referred from Sumber Waras Health Clinic to Pandan Arang Public Hospital (RSUPA) in Boyolali district, Central Java province to be isolated in an isolation room. Investigation aims to explore  the information regarding the spread of risk factors of diphtheria in the El-Abror Islamic boarding school. Methods: Data were collected through interviews and field observations to all male students, female students, teachers and residents living in the El-Abror Islamic boarding school 147 in total. The criteria for the cases used are those diagnosed with fever of more than 37C who live in the El-Abror boarding school from April 10, 2018 to May 24, 2018. Results: The index case in this diphtheria outbreak was 2 female students who were diagnosed with symptoms of fever, tonsillitis, pseudomembrane who treated at the Pandan Arang Hospital (RSPA) in Boyolali district. during the investigation had found 20 diphtheria-suspect in total. Attack rate (AR) based on sex,female group (55%) was higher in comparing to  male group (31.03%). Attack rate (AR) based on age, most suspects were found in the 11-15 year age group (63.15%). There were no cases of death in this diphtheria outbreak (CFR = 0%). Risk factors for transmission are immunization status and lighting conditions and ventilation that did not meet the healthy home criteria. Conclusions: ORI (Outbreak Response Immunization) has done as intervention for tackling this outbreak. Sustainability of surveilance system should be developed for primary health worker to monitor and evaluate immunization program. DSO (District Surveilance Officer) should engange community to develop immunization program by increasing health promotion in Islamic Boarding School.