Gabe Gusmi Aprilla
Faculty of Public Health, Universitas Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Studi Kasus Analisa Beban Kerja Pelayanan Gizi Menurut Patton dan Sawicki di UPT Puskesmas Beji Kota Depok Provinsi Jawa Barat Tahun 2019 Gabe Gusmi Aprilla
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 36, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.776 KB) | DOI: 10.22146/bkm.51661

Abstract

Latar belakang: Tujuan: Untuk menganalisa upaya pelayanan gizi yang ada di UPT Puskesmas Beji Kota Depok Provinsi Jawa Barat Tahun 2019.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui wawacara mendalam pada 4 orang yaitu Kepala Puskesmas, Kepala Tata Usaha, Penanggung Jawab Mutu dan Tenaga Gizi.Hasil: Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap petugas gizi UPT Puskesmas Beji Kota Depok diperoleh informasi pelayanan konseling gizi di dalam gedung tidak dapat dilakukan setiap hari pada saat jam kerja Puskesmas dikarenakan petugas gizi melakukan kunjungan rutin tiap bulan terjadwal ke 32 posyandu. Walaupun terjadwal petugas tidak dapat melakukan kunjungan ke seluruh posyandu dalam 1 bulan. Dikarenakan terbatasnya waktu dan tenaga mendistribusikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT)  bagi Balita gizi kurang dan gizi buruk serta PMT bagi ibu hamil KEK  dan  memantau balita gizi kurang dan gizi buruk di wilayah Kecamatan Beji yang padat penduduk, sehingga pendistribusian dan pemantauannya dibantu oleh kader. Adanya dua aplikasi pencatatan  dan pelaporan  yang berbeda yaitu Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) dari Kementerian Kesehatan dan aplikasi  lokal dari Dinas Kesehatan Kota Depok, sehingga menyita waktu dan tenaga. Sarana dan prasarana perangkat komputer dan fasilitas internet yang tidak memadai  serta tidak lengkapnya data penduduk berupa Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor Hand phone (HP) yang merupakan variabel yang harus dimasukkan pada saat input data menggunakan aplikasi e-PPGBM dari Kementerian Kesehatan menyebabkan waktu dan tenaga menjadi tersita banyak. Kendala lain tidak kooperatifnya keluarga yang memiliki balita gizi buruk dan sering menolak dirujuk ke Puskesmas TFC (Therapeutic Feeding Center), sehingga menambah beban kerja petugas gizi untuk melakukan pelayanan gizi rawat jalan dengan pemberian konsultasi diit dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sesuai dengan Tata Laksana Gizi Buruk serta Audit Kasus Gizi Buruk untuk dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Depok.Kesimpulan: Upaya pelayanan gizi baik di dalam gedung dan di luar gedung kurang optimal karena pelayanan gizi hanya dilakukan oleh petugas gizi, sehingga agar pelayanan gizi di luar gedung berjalan optimal petugas mesti memberdayakan kader masyarakat dalam rangka meningkatkan pelayanan gizi.Kata kunci: beban kerja, pemberdayaan, kader, pelayanan gizi