Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

REINTERPRETASI DAN REPRODUKSI CERITA ANAK SUMATERA UTARA Wahyu Wiji Astuti; Muhammad Anggi J Daulay; Muhammad Oki F Gafary; Muhammad Hafidz Assalam
BAHAS Vol 31, No 2 (2020): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v31i2.19001

Abstract

Proses perkembangan anak membutuhkan teladan yang baik sebab seorang anak adalah peniru ulung. Apa yang diamatinya akan begitu mudah untuk ditiru dan direkam dalam proses kehidupannya. Maka dari itu, perlu adanya penanaman nilai-nilai luhur pada anak yang salah satunya dapat dilakukan melalui karya sastra. Salah satu bentuk sastra anak adalah cerita anak, yang biasanya diambil dari cerita rakyat. Problematikanya adalah banyak cerita anak yang diambil dari cerita rakyat ternyata mengandung unsur-unsur yang tidak dapat diterima psikologi anak. Berbekal itu, maka cerita anak perlu direinterpretasi dan direproduksi untuk menghadirkan cerita yang layak anak. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi cerita anak 8 etnis Sumatera Utara yang tidak layak anak, 2) menghadirkan interpretasi baru terhadap cerita anak tersebut, 3) menghasilkan cerita anak dalam bentuk digital. Dalam langkah kerjanya, penelitian ini diawali dari observasi, interpretasi ulang dan reproduksi cerita anak ke dalam bentuk digital. Hasil penelitian ini adalah interpretasi baru cerita rakyat Legenda Danau Toba dan Legenda Lau Kawar di Sumatera Utara menjadi sastra anak dengan memperhatikan konten, struktur, nilai serta bentuk sastra yang sesuai dengan kognitif anak.  Selanjutnya reproduksi dilakukan dengan menggubah cerita rakyat Legenda Danau Toba dan Legenda Lau Kawar menjadi komik anak dalam bentuk digital. Komik digital tersebut merupakan aplikasi yang dapat dibaca dan diunduh melalui ponsel dari aplikasi playstore. Aplikasi ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara umum.
KONTRIBUSI MOTIVASI BELAJAR DAN LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA JURUSAN SENI RUPA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN Mesra Mesra; Adek Cerah Kurnia Azis; Wahyu Wiji Astuti
BAHAS Vol 27, No 3 (2016): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v27i3.5654

Abstract

Kos merupakan kondisi yang dapat ditemui dalam kehidupan mahasiswa, banyak mahasiswa yang tidak tahu dampak dari lingkungan sosial terhadap hasil belajar, karena lingkungan yang buruk akan membawa keburukan juga terhadap hasil belajar dan sebaliknya. Fenomena yang ada menggambarkan bahwa hasil belajar tidak hanya diikat oleh motivasi belajar yang tinggi saja namun juga dipengaruhi oleh kondisi tempat tinggal. Kekuatan yang ada di dalam diri seperti  motivasi belajar yang tinggi akan menjadi buruk jika sebuah lingkungan tempat tinggal membawanya ke dalam keburukan dan sebaliknya. Adapun hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah: (1) kontribusi motivasi belajar terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, (2) kontribusi lingkungan tempat tinggal terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa dan (3) kontribusi motivasi belajar dan lingkungan tempat tinggal secara bersama-sama terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Populasi dan sampel dalam penelitian ini seluruh mahasiswa Pendidikan Seni Rupa dari angkatan 2013 sampai dengan angkatan 2015. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 orang. Instrumen penelitian menggunakan angket model Skala Likert. Analisis data menggunakan komputer program SPSS versi 17. Hasil analisis data penelitian ini, menunjukkan bahwa motivasi belajar berkontribusi sebesar 44,56%, lingkungan tempat tinggal berkontribusi sebesar 40,97% dan motivasi belajar dan lingkungan tempat tinggal secara bersama-sama berkontribusi sebesar 27,47% terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Selanjutnya pencapaian skor variabel motivasi belajar terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa berada pada kategori cukup yaitu 79,99%, sedangkan variabel lingkungan tempat tinggal terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa berada pada kategori cukup juga yaitu 64,42% dari skor ideal.   Kata Kunci : Motivasi Belajar, Lingkungan Tempat Tinggal dan  Hasil Belajar
KOMPETENSI FONOLOGIS ANAK PENYANDANG DOWN SYNDROME USIA 11-14 TAHUN DI SEKOLAHLUAR BIASAABDI KASIH, KELURAHAN MARTUBUNG Okto Clarita Br Regar; Wahyu Wiji Astuti
JURNAL SASTRA INDONESIA (SASINDO) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL SASINDO
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.415 KB) | DOI: 10.24114/sasindo.v10i2.31146

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi fonologis dan perkembangan kognitif pada anak penyandang Down Syndrome berusia 11-14 tahun di Sekolah Luar Biasa Abdi Kasih Kelurahan Martubung. Diharapkan penelitian ini dapat membantu siswa penyandang Down Syndrome dan dapat membantu orang tua serta guru agar mampu membiasakan anak penyandang Down Syndrome tetap aktif dalam berinteraksi dengan orang lain dan mampu melatih mereka menggunakan bahasa yang benar dalam berkomunikasi. Adapun subjek yang di teliti adalah siswa penyandang Down Syndrome sebanyak 4 orang di Sekolah Luar Biasa Abdi Kasih Kelurahan Martubung. Teori yang digunakan yaitu teori Piaget (Jahja, 2013) dan teori Pemerolehan Fonologis (Simanjuntak dalam Agustien 2010). Metode penelitian yang digunakan adalah metode simak. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan dan observasi. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik sadap. Adapun teknik lanjutan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik rekam dan teknik catat. Kata Kunci : Fonologi, Kognitif, Down Syndrome
Feminine Metaphors and Archipelagic Ecological Narratives in Contemporary Indonesian Short Stories Assalam, Muhammad Hafidz; Wening Udasmoro; Aprinus Salam; Wahyu Wiji Astuti; Deswandito Dwi Saptanto
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 01 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i01.14633

Abstract

This study aims to explore recent Indonesian short stories written by women in their efforts to produce feminine metaphors as a form of resistance against the singular truth of masculinity. In narrating their short stories, female writers produce feminine metaphors shaped by the ecological conditions surrounding them. These feminine narratives are presented as an accentuation of women's defense against the ecological damage suffered by islands inhabited by humans. The patriarchal system combined with greedy capitalism and modernism has damaged the ecology of the islands where humans live. Through literary works, women carry out symbolic resistance by producing new metaphors as a representation of the mainstreaming of women in their involvement in creating an egalitarian relationship between humans and nature. This study uses the narrative theory approach from Helene Cixous which was then developed into feminine metaphors by Leslie Rabine. Based on an exploratory analysis of linguistic data in the short stories Mandi Mayah and Kesaksian di Titik Didih by Deasy Tirayoh, and Angin Berkabar Hujan by Dian Nangin, the results show that feminine metaphors are closely related to the ecological elements of the islands, including the sea, plantations, and agriculture. In this case, the sea, plantations, and agriculture are combined with efforts to resist patriarchy, capitalism, and modernism through the accentuation of symbolic and metaphorical language. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi cerita pendek Indonesia mutakhir yang ditulis oleh perempuan dalam upaya untuk menghasilkan metafora feminin sebagai bentuk perlawanan terhadap kebenaran tunggal maskulinitas. Dalam menarasikan cerpennya, penulis perempuan menghasilkan metafora feminin yang dibentuk dari kondisi ekologis di sekitar penulis sendiri. Narasi feminin ini disajikan sebagai penekanan pada pembelaan perempuan terhadap kerusakan ekologis yang diderita oleh pulau-pulau yang dihuni manusia. Sistem patriarki yang dikombinasikan dengan kapitalisme yang serakah dan modernisme telah merusak ekologi pulau-pulau tempat manusia tinggal. Melalui karya sastra, perempuan melakukan perlawanan simbolis dengan menghasilkan metafora baru sebagai representasi dari pengarusutamaan perempuan dalam keterlibatannya dalam menciptakan hubungan egaliter antara manusia dan alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori naratif dari Helene Cixous yang kemudian dikembangkan menjadi metafora feminin oleh Leslie Rabine. Berdasarkan analisis eksploratif data linguistik dalam cerita pendek Mandi Mayah dan Kesaksian di Titik Didih karya Deasy Tirayoh, dan Angin Berkabar Hujan karya Dian Nangin, hasil analis menunjukkan bahwa metafora feminin sangat terkait dengan unsur-unsur ekologis pulau, termasuk laut, perkebunan, dan pertanian. Dalam hal ini, laut, perkebunan, dan pertanian dikorelasikan dengan upaya untuk melawan patriarki, kapitalisme, dan modernisme melalui penekanan pada bahasa simbolis dan metaforis.