Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH KOMBINASI FITOHORMON DAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN Chlorella sp. Erlangga Erlangga; Zulfikar Zulfikar; Muhammad Anggi
Berkala Perikanan Terubuk Vol 46, No 2 (2018): JULI 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.415 KB) | DOI: 10.31258/terubuk.46.2.80-88

Abstract

This study aims to determine the dosage of phytohormone and the appropriate growth regulator in Chlorella sp culture to increase the growth of Chlorella sp.The method used in this study was the experimental method with fitohormon as a factor A which were cytokines (0,02 gr/l), auksin (0,065 gr/l) and the growth regulator (PGR) as a factor B which were TSP (0,03 gr/l), NPK (0,04 gr/l). the treatment would be undertaken for the treatment of hormone auxin A (0,065 gr/l) anf TSP (0,03 gr/l) B.The result is the hormone cytokinins (0,02 gr/l) and NPK (0,04 gr/l) the highest growth of Chlorella sp cells was in the treatment D cytokinins (0,02 gr/l) and NPK (0,04 gr/l), then it was followed by treatment B hormone auxin (0,065 gr/l) and NPK (0,04 gr/l), C hormone cytokinins (0,02 gr/l) and TSP (0,03 gr/l) and A auxin (0,065 gr/l) anf TSP (0,03 gr/l). population peak of chlorella cell in each treatment were : D D (2041.67 x 103 sel/ml), B (1610.67 x 103 sel/ml), C (1592.67 x 103 sel/ml), treatment A showed the lowest value which was (1589.33 x 103 sel/ml). water quality parameters strongly supported theprocess of cell proliferation or growth of Chlorella sp with pH 7.0-7.3, salinity 27-30 ppt, and temperature of 22.4-25 0C.
Analisis Perilaku Pengemis Agresif di Lampu Merah Kota Pekanbaru dan Implikasi pada Ketertiban Umum Azzila Fernelia; Febi Rahman Syafira; Hambali Hambali; Hapidatul Zakiyah Rizky; Dinda Sarmita Harahap; Tabitha Freya Kalila Eugenia; Wellya Putri; Wilanda Zahra; Zulfikar Zulfikar
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 3 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i2.7482

Abstract

Perilaku pengemis di lampu merah mencerminkan ketimpangan sosial dan ekonomi di kawasan perkotaan yang dipicu oleh kemiskinan, pengangguran, urbanisasi, serta keterbatasan akses pendidikan dan pekerjaan. Aktivitas mengemis ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga menimbulkan gangguan ketertiban lalu lintas, risiko keselamatan, dan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan. Selain itu, keberadaan pengemis memengaruhi persepsi masyarakat terhadap ruang publik dan menimbulkan dilema antara penegakan hukum dan rasa empati sosial. Pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi melalui kebijakan sosial dan penegakan hukum yang manusiawi untuk mengatasi masalah pengemis sambil menjaga ketertiban. Pendekatan ini harus mengedepankan program pembinaan dan pemberdayaan agar pengemis dapat keluar dari kemiskinan dan mengurangi dampak sosial yang negatif di lingkungan perkotaan. Dengan demikian, penanganan fenomena ini menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan masyarakat kota.