Reny Chaidir
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN SALAM (SYZYGIUM POLYANTHUM) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT Aidaa Andriani; Reny Chaidir
Jurnal Ipteks Terapan Vol 10, No 2 (2016): JIT
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/jit.2016.v10i2.440

Abstract

Gout is a disease because of abnormalities purine metabolism (hyperuricemia). In gout treatment there are many different ways to lower uric acid levels one by utilizing existing natural vegetation. Plants or plants that can be used is the bay leaf (Syzygium polyanthum). Bay leaf contains flavonoids that can lower uric acid levels. This study intends to find out The Effect Of Water Decoction Bay Leaf (Syzygium polyanthum) The Decrease Uric Acid Levels In The Work Area Health Center Paninggahan Solok 2013.This research is the method of approach Preeksperimental pretest - posttest, using total sampling method with a sample size of 10 people. The data was collected directly to the respondents by interview, observation and measurement sheet uric acid levels and blood sugar.The research found that there are differences in uric acid levels before and after giving the water decoction bay leaf. Based on the result test T there are differences in uric acid levels before and after giving the water decoction of bay leaf. Where the average uric acid levels before was 7.16 mg / dl, and after the uric acid level was 5.76 mg / dl. Then obtained p value = 0.000. Based on the results of this study concluded that consuming the water decoction of bay leaf can lower uric acid levels, because leaves contains flavanoid . For that gout sufferers is recommended to consume the water decoction of bay leaf  to control uric acid levels in the body. it is required to research more about the side effects and benefits of bay leaf.Penyakit asam urat merupakan suatu penyakit karena kelainan metabolisme purin (hiperurisemia). Untuk menurunkan kadar asam urat salah satunya dengan memanfaatkan tumbuhan alami yang ada. Tumbuhan atau tanaman yang dapat digunakan adalah daun salam. Daun salam memiliki kandungan flavonoid yang mampu menurunkan kadar asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya Pengaruh Pemberian Air Rebusan Daun Salam Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat .Jenis penelitian ini adalah Pre eksperimental dengan metode pendekatan Pretest – Posttest. dengan menggunakan metode total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 10 orang. Pengumpulan data dilakukan secara langsung terhadap responden dengan wawancara, lembar observasi dan pengukuran kadar asam urat dan gula darah. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat perbedaan kadar asam urat sebelum dan sesudah pemberian air rebusan daun salam. Berdasarkan hasil Uji T terdapat perbedaan kadar asam urat sebelum dan sesudah pemberian air rebusan daun salam. Dimana rata- rata kadar asam urat sebelum adalah 7,16 mg/dl, dan kadar asam urat sesudah adalah 5,76 mg/dl. Maka didapatkan nilai p= 0,000.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mengkonsumsi air rebusan daun salam dapat menurunkan kadar asam urat, karena flavanoid yang terkandung dalam daun salam. Untuk itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang efek samping dan manfaat lain dari daun salam.
Hubungan Interdialytic Weight Gain (IDWG) dengan Tingkat Kelelahan Pada Pasien Hemodialisis RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2025 Khairi, Dwiki; Reny Chaidir; Amelia, Dona
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/f3h5gh13

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) adalah kondisi yang memerlukan hemodialisis jangka panjang, dan kelelahan fisik merupakan salah satu komplikasi yang umum dialami pasien. Salah satu faktor penyebabnya adalah Interdialytic Weight Gain (IDWG), yaitu peningkatan berat badan antara dua sesi dialisis, yang berpengaruh pada kepatuhan terapi dan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara IDWG dan tingkat kelelahan pada pasien GGK di Unit Hemodialisa RS Achmad Mochtar Bukittinggi. Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik dan pendekatan cross‑sectional. Populasi berjumlah 133 pasien yang menjalani hemodialisis rutin pada April 2025, dan seluruhnya diambil sebagai sampel (total sampling), sehingga diperoleh 102 subjek yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. IDWG dihitung menggunakan rumus IDWG%, sedangkan kelelahan diukur dengan kuesioner FACIT‑F. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank menunjukkan hasil sebagai berikut: pada pasien dengan IDWG ringan, 84,4 % mengalami kelelahan ringan; IDWG sedang, 71,1 % mengalami kelelahan berat; dan IDWG berat, 88 % mengalami kelelahan berat. Nilai p = 0,000 dan koefisien korelasi 0,567 menandakan adanya hubungan positif yang signifikan dengan kekuatan sedang antara IDWG dan tingkat kelelahan. Disarankan agar perawat hemodialisis secara aktif memantau IDWG melalui pencatatan intake–output dan penimbangan, memberikan edukasi pembatasan cairan terkait kelelahan, serta berkolaborasi dengan tim interdisipliner untuk intervensi komprehensif.    Chronic kidney disease (CKD) patients undergoing long‑term hemodialysis often suffer from physical fatigue, which negatively impacts their therapy adherence and overall quality of life. A principal contributor to this fatigue is Interdialytic Weight Gain (IDWG)—namely, weight gained between two dialysis sessions. This cross‑sectional analytical study at the Hemodialysis Unit of Achmad Mochtar Hospital Bukittinggi involved 133 patients undergoing routine hemodialysis in April 2025, with 102 subjekts meeting inclusion and exclusion criteria. IDWG was calculated using the IDWG% formula and fatigue levels were measured via the validated FACIT‑F questionnaire. Data analysis using the Spearman rank correlation revealed that among patients with mild IDWG, 84.4% experienced mild fatigue; in the moderate IDWG group, 71.1% suffered severe fatigue; and in the severe IDWG group, 88.0% endured severe fatigue. The test yielded a p‑value of 0.000 and a correlation coefficient of 0.567, signifying a statistically significant, moderate, and positive association between higher IDWG and more severe fatigue. These findings align with prior studies demonstrating the physiological link between fluid overload and fatigue in hemodialysis patients. As a result, hemodialysis nurses are advised to actively monitor IDWG through intake–output tracking and regular weighing, educate patients on the importance of fluid restriction to reduce fatigue, and collaborate with interdisciplinary teams to implement comprehensive interventions aimed at improving patient outcomes