This Author published in this journals
All Journal Jurnal Humaniora
Ari Iswanto
STKIP PGRI Pacitan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERBANDINGAN METODE SIRKUIT DAN METODE PLYOMETRIK TERHADAP PENINGKATAN WALL BOUNCE DALAM PERMAINAN BOLA BASKET DI STKIP PGRI PACITAN Ari Iswanto; Budi Dermawan
Jurnal Humaniora Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Humaniora
Publisher : LPPM Press STKIP PGRI Pacitan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbandingan latihan menggunakan metode sirkuit dan metode plyometrik terhadap peningkatan wall bounce dalam permainan bola basket di STKIP PGRI Pacitan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Prodi PJKR STKIP PGRI Pacitan. Sampel yang diambil adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan angkatan 2015. Pembagian kelompok dengan menggunakan ordinal pairing. Tehnik sampling menggunakan population sampling. Sampel dikelompokkan menjadi dua kelompok, tiap kelompok 11 mahasiswa sebagai kelompok A dan kelompok B. Kelompok A diberi latihan dengan menggunakan metode Sirkuit sedangkan kelompok B diberi latihan dengan menggunakan metode plyometrik. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan test dan pengukuran yaitu ketepatan wall bounce sesuai dengan standar test dan pengukuran Sekolah Tinggi Olahraga. Persyaratan analisis data menggunakan uji normalitas dan homogenitas. Teknik analisis data menggunakan Uji-t, validitas yang digunakan sebesar 0,666 dengan reliabilitas sebesar 0,791. Berdasarkan hasil analisis uji-t diketahui bahwa rerata pretest kelompok A (sirkuit) adalah 21,82 dan rerata postest adalah 24,91 dan di dapat thitung sebesar 7,089 dengan signifikansi 0,000. Nilai ttabel dengan db= 9 pada taraf signifikansi 5% adalah 2,262, oleh karena thitung > dari ttabel (7,089>2,262) hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest wall bounce yang dilatih dengan metode sirkuit. Rerata pretest pada kelompok B (plyometrik) adalah 21,00 dan rerata postest adalah 22,900 dan di dapat thitung sebesar 2,923 dengan signifikansi 0,015. Nilai ttabel dengan db= 9 pada taraf signifikan 5% adalah 2,262, oleh karena nilai thitung > ttabel (2,923>2,262), hal ini terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan postest wall bounce yang dilatih dengan metode plyometrik. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil nilai thitung sebesar 2,166 dengan signifikansi 0,040 nilai rata-rata latihan wall bounce dengan menggunakan metode sirkuit sebesar 24,909 dan rata-rata latihan menggunakan metode plyometrik sebesar 22,909. Hal ini dapat disimpulkan bahwa metode sirkuit lebih efektif dari pada metode plyometrik untuk meningkatkan wall bounce dalam permainan bola basket.
KREATIVITAS PELATIH BOLA VOLI DI KLUB BOLA VOLI SE-KABUPATEN PACITAN DALAM MENYIKAPI KETERBATASAN ALAT DAN FASILITAS Budi Dermawan; Ari Iswanto
Jurnal Humaniora Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Humaniora
Publisher : LPPM Press STKIP PGRI Pacitan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membantu memberi gambaran secara empiris dan ingin mengetahui kreativitas pelatih bola voli di Pacitan dalam menyikapi keterbatasan alat dan fasilitas. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode survei dan instrumen angket. Populasi dalam penelitian ini adalah Populasi dalam penelitian ini adalah pelatih bola voli yang melatih di perkumpulan atau klub bola voli di Kabupaten Pacitan sebanyak 32 pelatih. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh populasi (sampel populasi). Data tentang kreativitas pelatih pada penelitian ini mencakup kemampuan melihat masalah, kemampuan pelatih dalam menciptakan ide, serta sikap terbuka terhadap hal-hal baru. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif kuantitatif dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kreativitas pelatih bola voli se-Kabupaten Pacitan dalam menyikapi keterbatasan alat dan fasilitas masuk kategori tinggi. Secara rinci, kreativitas pelatih bola voli se-Kabupaten Pacitan dalam menyikapi keterbatasan alat dan fasilitas yaitu: (1) Kemampuan dalam melihat masalah yang berhubungan dengan alat dan fasilitas masuk kategori sangat tinggi, (2) Kemampuan pelatih dalam menciptakan ide untuk memecahkan masalah masuk kategori tinggi, (3) Sikap terbuka dan menerima hal-hal baru masuk kategori tinggi.
PENGARUH LATIHAN IMAGERY RELAXATION DAN SELF TALK TERHADAP KONSENTRASI DAN KEBERHASILAN 3 POINT SHOOT Ari Iswanto; Budi Dermawan
Jurnal Humaniora Vol 4 No 1 (2016): Jurnal Humaniora
Publisher : LPPM Press STKIP PGRI Pacitan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada pengaruh latihan imageryrelaxation dan selftalk yang bertujuan untuk melatih konsentrasi dan keberhasilan 3 point shoot bolabasket pada mahasiswa putra program studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan rekreasi STKIP PGRI Pacitan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan dua kelompok yang memperoleh perlakuan yang berbeda, dengan two group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh seluruh mahasiswa putra program studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan rekreasi STKIP PGRI Pacitan angkatan 2014, yang berjumlah 50 orang. Pembagian kelompok pada penelitian ini menggunakan Matched Subjek Ordinal Pairing. Data diambil dengan teknik tes, yaitu tes konsentrasi dan tes ketrampilan 3 point shoot. Analisis data digunakan uji-t amatan ulangan (paired t-test) dan uji T2 Hotteling’s, kemudian uji lanjut dengan uji-t antar kelompok (independent t-test), yang terlebih dahulu data diuji normalitas dan homogenitasnya. Hasil analisis pada data post test atau setelah perlakuan, diperoleh thitung sebesar 3,402 dengan p<0,05 dan dinyatakan signifikan. Hal ini membuktikan bahwa sesudah perlakuan, dinyatakan terdapat perbedaan yang signifikan keberhasilan 3 point shoot antara kelompok perlakuan menggunakan self talk dengan kelompok perlakuan menggunakan imagery relaxation. Dilihat dari rerata akhir, keberhasilan 3 point shoot pada kelompok perlakuan dengan self talk lebih tinggi dibandingkan dengan rerata pada kelompok imagery relaxation (45,86>35,84).