Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Bahasa Melayu terhadap Kesusastraan Aceh Ditinjau dari Naskah Akhbār al-Karīm Istiqamatunnisak, Istiqamatunnisak
Manuskripta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v2i1.380

Abstract

Artikel ini menegaskan besarnya pengaruh bahasa Melayu dalam tradisi kesusastraan Aceh sejak berabad-abad lalu. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa Bahasa Melayu saat itu merupakan lingua franca yang digunakan oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perantara untuk berkomunikasi antar berbagai suku dan bangsa-bangsa asing lainnya.Setelah Islam masuk ke Aceh, kebudayan Aceh mulai dari bidang ekonomi, sosial, dan seni budaya selalu mencerminkan nilai-nilai Islami. Masyarakat Aceh yang sangat religius dan mempunyai adat istiadat yang tinggi, dalam setiap kehidupannya mengacu kepada sistem budaya, dalam kesatuan sosial dalam masyarakat Aceh bersumber pada adat dan agama.Di antara bukti kuatnya pengaruh bahasa Melayu dalam kesusastraan Aceh adalah naskah Akhbar al-Karim, sebuah karya sastra berupa syair, yang di dalamnya terdapat juga sisipan-sisipan bahasa Aceh.
INTERKULTURALISME BAHASA MELAYU DALAM HIKAYAT RAJA- RAJA PASAI Istiqamatunnisak, Istiqamatunnisak
Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies Vol 4, No 2 (2017): Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies
Publisher : UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.678 KB) | DOI: 10.20859/jar.v4i2.147

Abstract

Penelitian ini mencoba mengkaji bagaimana bahasa melayu diterima dalam masyarakat Aceh  yang digunakan sebagai bahasa kerajaan dan sebagai bahasa internasional bahkan sebagai Lingua Pranca dalam masyarakat Aceh. Tujuan utama penulisan ini adalah untuk melihat pengaruh Hikayat Raja Pasai pada kemunculan bahasa melayu dalam kehidupan masyarakat Aceh pada masa itu, yang dikaji dengan menggunakan perspektif interkulturalisme. Interkulturalisme berbicara tentang dua atau lebih sebuah budaya yang saling berhadapan. Interaksinya berupa reaksi dan respon terhadap hadirnya budaya yang lain. Jadi interkulturalisme lebih mengacu pada munculnya pengaruh budaya luar dalam salah satu budaya lokal.
ANALISIS TERHADAP NILAI-NILAI ISLAM DALAM KESENIAN RAPAI GELENG Eka Srimulyani; Istiqamatunnisak Istiqamatunnisak
Islam Futura Vol 17, No 2 (2018): Jurnal Ilmiah Islam Futura
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jiif.v17i2.2887

Abstract

Tari Rapai Geleng adalah salah satu tari tradisional dalam masyarakat Aceh yang cukup popular di kalangan masrakat Aceh pesisir. Sebagai sebuah karya seni dari masyarakat yang sangat dekat dan lekat dengan nilai-nilai keislaman, tari Rapai Geleng juga memiliki dimensi keterpengaruhan dengan nilai-nilai keislaman yang dianut oleh masyarakat. Hal ini terefleksi dalam koreografi, pementasan, dan paling dominan dalam syair-syair yang dinyanyikan mengiringi gerak tari tersebut. Penelitian ini mencoba menggali sejarah dan dimensi yang dipengaruhi oleh ajaran Islam melalui kajian kepustakaan dan wawancara dengan para pelaku seni tari rapai geleng itu sendiri. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa dari aspek sejarahnya saja, rapai geleng ditengarai berasal dari tradisi dalail khairat yang berkembang dalam masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia. Sisi lainnya, dari syair yang dinyayikan mengiringi gerak tari, juga sarat dengan pesan-pesan yang diinspirasi dari nilai-nilai agama, dalam bentuk nasehat terkait aspek ketauhidan, ibadah, semangat untuk menuntut ilmu, dan anjuran pada nilai-nilai kebaikan.
Interkulturalisme Bahasa Melayu dalam Hikayat Raja- Raja Pasai Istiqamatunnisak Istiqamatunnisak
Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies Vol 4, No 2 (2017): Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.678 KB) | DOI: 10.22373/jar.v4i2.7560

Abstract

Penelitian ini mencoba mengkaji bagaimana bahasa melayu diterima dalam masyarakat Aceh yang digunakan sebagai bahasa kerajaan dan sebagai bahasa internasional bahkan sebagai Lingua Pranca dalam masyarakat Aceh. Tujuan utama penulisan ini adalah untuk melihat pengaruh Hikayat Raja Pasai pada kemunculan bahasa melayu dalam kehidupan masyarakat Aceh pada masa itu, yang dikaji dengan menggunakan perspektif interkulturalisme. Interkulturalisme berbicara tentang dua atau lebih sebuah budaya yang saling berhadapan. Interaksinya berupa reaksi dan respon terhadap hadirnya budaya yang lain. Jadi interkulturalisme lebih mengacu pada munculnya pengaruh budaya luar dalam salah satu budaya lokal
Pengaruh Bahasa Melayu terhadap Kesusastraan Aceh Ditinjau dari Naskah Akhbār al-Karīm Istiqamatunnisak Istiqamatunnisak
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.772 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.24

Abstract

Artikel ini menegaskan besarnya pengaruh bahasa Melayu dalam tradisi kesusastraan Aceh sejak berabad-abad lalu. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa Bahasa Melayu saat itu merupakan lingua franca yang digunakan oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perantara untuk berkomunikasi antar berbagai suku dan bangsa-bangsa asing lainnya. Setelah Islam masuk ke Aceh, kebudayan Aceh mulai dari bidang ekonomi, sosial, dan seni budaya selalu mencerminkan nilai-nilai Islami. Masyarakat Aceh yang sangat religius dan mempunyai adat istiadat yang tinggi, dalam setiap kehidupannya mengacu kepada sistem budaya, dalam kesatuan sosial dalam masyarakat Aceh bersumber pada adat dan agama. Di antara bukti kuatnya pengaruh bahasa Melayu dalam kesusastraan Aceh adalah naskah Akhbār al-Karīm, sebuah karya sastra berupa syair, yang di dalamnya terdapat juga sisipan-sisipan bahasa Aceh.
Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Belanda Dalam Karya Sastra Aceh Hikayat Teungku Di Meukek: Tinjauan Poskolonial Istiqamatunnisak Istiqamatunnisak
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 3, No 2 (2012): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.194 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v3i2.414

Abstract

Hikayat Teungku di Meukek adalah sebuah teks sastra Aceh yang menukilkan berbagai peristiwa sejarah dan penuh dengan pesan sosial dan politik. Wacana yang diungkapkan cukup relevan kepada para pembaca kolonial yang berpegang kepada perspektif orientalisme, dan juga pada pembaca pribumi kini yang berpegang pada perspektif poskolonialisme. Tulisan ini menjelaskan tentang pengaruh kolonial dalam hikayat tersebut. Naskah Hikayat Teungku di Meukek ini merupakan salah satu naskah lama yang isinya menggambarkan perlawanan rakyat yang digerakkan oleh seorang pemimpin agama terhadap Uleebalang di daerah Meulaboh yang didukung oleh Belanda. Hikayat ini ditulis untuk mengabadikan persengkataan antara kedua belah pihak tersebut, dan untuk melihat bagaimana perlawanan masyarakat terhadap pihak kolonial. Dari karya sastra tersebut bisa kita lihat adanya pengaruh kekuasaan dalam hikayat ini pada masyarakat Aceh dulu. Dalam tulisan ini dapat dilihat adanya pendekatan poskolonial dalam pengkajian sastra, karena kritik poskolonial menganalisis karya-karya yang diproduksi oleh masyarakat dan budaya sebagai respon terhadap dominasi kolonial dari masa kolonialisme sampai sekarang.