Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemberian Madu Rambutan (Nephelium lappaceum) Menurunkan Luas Luka dan Kadar Malondialdehid Tikus Diabetes Melitus Euis Reni Yuslianti; Afifah B. Sutjiatmo; Dita Septiani
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 10, No 1 (2021): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v10i1.8245

Abstract

Diabetes melitus merupakan kelainan metabolik yang disebabkan oleh kenaikan kadar gula darah. Luka pada penderita diabetes dapat menjadi ulkus yang melibatkan radikal bebas. Madu rambutan mengandung tinggi antioksidan yang berfungsi sebagai penyembuhan luka. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh madu rambutan terhadap luas luka dan kadar Malondialdehid (MDA) mukosa mulut tikus Wistar diabetes melitus. Metode penelitian adalah eksperimental laboratoris. Sampel penelitian menggunakan 36 ekor tikus jantan galur Wistar. Semua tikus diinduksi aloksan untuk mendapatkan keadaan diabetes, kecuali kelompok kontrol negatif. Semua tikus diberi perlukaan dengan menggunakan punch biopsy berdiameter 4 mm pada palatum dalam kelompok kontrol positif, kontrol negatif, dan kelompok madu rambutan. Terminasi dilakukan pada hari ke-0, ke3, ke-7, dan ke-14 sebanyak 3 ekor tikus pada setiap kelompok serta dilakukan pengukuran luas luka dan pembacaan MDA jaringan. Uji analisis statistik menggunakan uji One Way ANOVA dan uji Kruskall Wallis (p 0,05). Hasil penelitian menunjukkan madu rambutan dapat menurunkan luas luka pada hari ketujuh dan keempat belas serta menurunkan kadar radikal bebas MDA luka diabetes melitus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian madu rambutan dengan kandungan antioksidan dapat menurunkan luas luka dan kadar radikal bebas malondialdehid plasma darah tikus diabetes sehingga berpotensi untuk obat penyembuh luka rongga mulut manusia dengan diabetes melitus.
GENOTOKSISITAS CHLOREXIDINE DITA SEPTIANI
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 10 No 1 (2020): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/IJLFS.2020.v10.i01.p06

Abstract

Chlorexidine is a mouthwash that is chosen by many dentists as an antiseptic and antibacterial. CHX has bactericidal properties in gram-positive and negative bacteria and fungi. Chlorhexidine causes damage to the permeability of bacterial cell membranes so that cytoplasmic fluid in bacterial cells and other cell components with lower molecular weight from inside the cell penetrates out through the cell membrane, causing the bacteria to die. Much research has been done to study the biocompatibility of composite resins, especially cytotoxicity and genotoxicity testing. Genotoxicity tests that are often done are comet tests to see DNA damage and micronuclei tests to see genome damage. CHX increases Fe-dependent lipid peroxidation by splitting oxygen bonds with iron ions in Fentonlike reactions, producing alkoxyl radicals. The ROS reaction of unsaturated lipids on cell membranes and plasma lipoproteins results in the formation of lipid peroxide (malondialdehyde) which can chemically alter proteins and bases nucleic acid. The content of chlorexidine can have genotoxic effects. Keyword: Genotoxic, Chlorexidine, comet assay, micronuclei assay