Agus Suharto
Bagian Ilmu Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Ekspresi p53 dengan Prognosis Hasil Terapi Radiasi pada Karsinoma Nasofaring Ario Tejosukmono; Agus Suharto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1029

Abstract

Pada karsinoma terjadi peningkatan proliferasi sel dibanding dengan apoptosis sel, sehingga sel akan tumbuh lebih banyak dari jumlah normalnya. Pada kondisi homeostasis, untuk dapat mengatur jumlah sel pada tubuh manusia, mekanisme utama tubuh adalah dengan menghasilkan p53. Protein p53 sebagai protein penghambat tumor mengaktifkan pembentukan p21 yang berperan untuk aktivasi beberapa komplek kinase tergantung siklin dan memutus siklus pembelahan sel. Tujuan penelitian ini untuk analisis hubungan ekspresi p53 terhadap prognosis radioterapi pada karsinoma nasofaring dengan metode retrospektif. Ekspresi p53 telah dicat imunohistokimia dan dianggap positif bila jumlah sel tumor positif lebih dari 10% dan dianalisis hubungan ekspresi p53 dengan prognosis pada pasien karsinoma nasofaring dengan radioterapi. Hasil penelitian menunjukkan dari 43 Pasien karsinoma nasofaring dengan terapi radiasi terdapat 8 orang (18,6%) meninggal selama perawatan. Berdasarkan jenis kelamin, 74,42% pasien adalah laki-laki dan 25,58% wanita. Kelompok usia 51 sd 60 tahun adalah yang terbanyak yaitu sebesar 14 kasus (32,56%). Terdapat hubungan yang bermakna antara ekspresi p53 dengan prognosis hasil terapi radiasi pada karsinoma nasofaring p = 0,000 (p0,05). Disimpulkan bahwa ekspresi p53 yang positif akan memberikan prognosis yang lebih baik terhadap hasil terapi radiasi pada karsinoma nasofaring. In the cancer condition, there is increasing of cell proliferation than apoptosis, so cell will grow rapidly than normal. In normal homeostatic, to set the amount of the cells in human body, the primary body mechanism is producing gene p53. The p53 as protein cancer suppressor activate p21 that role to activate some of complex kinase  based on cyclin and cut mitosis cycle. The aims of this research to analyze relation p53 expression with prognosis of radiotherapy in nasofaringeal carcinoma using retrospective method. P53 expression strained by imunohistochemistry and considered positive if we find greater than 10% positif cell tumor then analyzed relation p53 expression with prognosis of radiotherapy in nasofaringeal carcinoma. The result shows from 43 patient nasofaringeal carcinoma with radiotherapy there are 8 patient (18,6%) died. 74,42% patient are male and 25,58% are female. 51-60 years old group is 14 cases (32,56%). There was significant correlation between prognosis and p53 expression p= 0,000 (p0,05). The conclusion is that positive p53 expression will give a better prognostic for nasofaringeal carcinoma with radiotherapy.
Hubungan antara Penggunaan Kontrasepsi dengan Gambaran Hasil Papsmear pada PSK dan Ibu Rumah Tangga di Yogyakarta Lincah Angger Wismo Asih; Agus Suharto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1 (s).1623

Abstract

Pap smear is one of method for screening abnormality in cervix cell. Abnormality in cervix can change into malignancy that influenced by some factor, for example contraception and lifestyle factor that include first sexual intercourse in young age, multiple sexual partners, high parity, smoking, history for prostitute woman, vaginal hygiene, and history for abortions. Researchers sure that some of cancer depend on naturally by hormone to its growth and development. This research is trying to find the correlation between contraceptive use with Pap smear result in prostitute woman and housewife. This is an observational research with cross-sectional design. The research subjects are prostitute woman and housewife in Yogyakarta. Respondent fill the questioners and then take a pap smear sample, the result of pap smear sample compare with the risk factor that had by subject. Statistic analytic in this research is chi square. The significant result in this research is influence of contraception in prostitute woman (p 0.001), and for influence of contraception in housewife does not give a significant result (p 0,809)Pap smear merupakan salah satu metode skrining kelainan pada sel leher rahim. Adanya kelainan ini dapat mengarah pada keganasan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu penggunaan kontrasepsi dan faktor gaya hidup yang meliputi hubungan seksual di usia muda, berganti-ganti pasangan seksual, angka paritas yang tinggi, merokok, lama bekerja sebagai Penjaja Seks Komersial (PSK), penggunaan pembersih wanita serta riwayat aborsi. Para peneliti menyakini bahwa beberapa jenis kanker tergantung secara alami pada hormon untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan kontrasepsi dengan gambaran hasil pap smear pada PSK dan ibu rumah tangga. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain cross-sectional. Subyek penelitian adalah PSK di jalan Pasar Kembang dan ibu rumah tangga di Sewon, Bantul. Responden mengisi kuisioner kemudian dilakukan pemeriksaan pap smear, lalu hasil pap smear dibandingkan dengan faktor resiko yang dimiliki subyek yaitu penggunaan kontrasepsi. Analisis statistik yang digunakan adalah chi square. Hasil penelitian mengenai pengaruh penggunaan kontrasepsi pada PSK menunjukkan hasil signifikan (p 0,000), sedangkan penggunaan kontrasepsi pada ibu rumah tangga tidak memberikan hasil yang signifikan (p 0,809).