Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Emotional Intelligence and Self-Adjustment in Grade 8 Students of Junior High School State 1 Baturetno Muhammad Zulfa Alfaruqy
Jurnal Counseling Care Vol 7, No 1 (2023): Jurnal Counseling Care, [Terakreditasi Sinta 3] No:156/C/C3/KPT/2026
Publisher : Universitas PGRI SUMATERA BARAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jcc.2023.v7i1.6714

Abstract

Self-adjustment is needed for students, including at Sekolah Mengengah Pertama (SMP) Negeri 1 Baturetno, Wonogiri. Emotional intelligence is suspected to have a positive effect on students' self-adjustment. This research aimed to examine the relationship between emotional intelligence and adjustment and to review emotional intelligence and adjustment based on gender. This research tested three hypotheses. H1: There is a positive relationship between emotional intelligence and adjustment. H2: There are differences in emotional intelligence in terms of gender. H3: There are differences in adjustment in terms of gender. The total population was 256 students in grade 8. Based on the simple random sampling technique, 161 students were involved. The measurements used the Emotional Intelligence Scale (11 items, α = 0.860) and the Self-Adjustment Scale (14 items, α = 0.844). The results showed that there was a significant positive relationship between emotional intelligence and self-adjustment. Statistical analysis showed a correlation coefficient of 0.836 with a significance of 0.000 (p<0.05). Emotional intelligence makes an effective contribution of 68.8% to adjustment maturity. The study also found that in terms of gender, there were differences in emotional intelligence (male = 34.43, female = 36.68, p = 0.000) and differences in adjustment (male = 45.12, female = 47.75, p = 0.001). This research has implications for the urgency of optimizing emotional intelligence to cloud students' self-adjustment for schools and the state education department. Keywords: emotional intelligence; junior high school; self-adjustment; student
Emotional Intelligence and Self-Adjustment in Grade 8 Students of Junior High School State 1 Baturetno Muhammad Zulfa Alfaruqy
Jurnal Counseling Care Vol 7, No 1 (2023): Jurnal Counseling Care, [Terakreditasi Sinta 4] No: 225/E/KPT/2022
Publisher : Universitas PGRI SUMATERA BARAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jcc.2023.v7i1.6714

Abstract

Self-adjustment is needed for students, including at Sekolah Mengengah Pertama (SMP) Negeri 1 Baturetno, Wonogiri. Emotional intelligence is suspected to have a positive effect on students' self-adjustment. This research aimed to examine the relationship between emotional intelligence and adjustment and to review emotional intelligence and adjustment based on gender. This research tested three hypotheses. H1: There is a positive relationship between emotional intelligence and adjustment. H2: There are differences in emotional intelligence in terms of gender. H3: There are differences in adjustment in terms of gender. The total population was 256 students in grade 8. Based on the simple random sampling technique, 161 students were involved. The measurements used the Emotional Intelligence Scale (11 items, α = 0.860) and the Self-Adjustment Scale (14 items, α = 0.844). The results showed that there was a significant positive relationship between emotional intelligence and self-adjustment. Statistical analysis showed a correlation coefficient of 0.836 with a significance of 0.000 (p<0.05). Emotional intelligence makes an effective contribution of 68.8% to adjustment maturity. The study also found that in terms of gender, there were differences in emotional intelligence (male = 34.43, female = 36.68, p = 0.000) and differences in adjustment (male = 45.12, female = 47.75, p = 0.001). This research has implications for the urgency of optimizing emotional intelligence to cloud students' self-adjustment for schools and the state education department. Keywords: emotional intelligence; junior high school; self-adjustment; student
PENGUATAN GENERASI ANTI-STUNTING DI KOTA SEMARANG Hastaning Sakti; Diana Rusmawati; Muhammad Zulfa Alfaruqy
RESWARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v4i2.2544

Abstract

Peterongan merupakan salah satu kelurahan di Kota Semarang yang membutuhkan penanganan dan pencegahan stunting. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ialah menguatkan generasi anti-stunting di Kelurahan Peterongan, Kota Semarang. Pengabdian terdiri dari tiga program yang saling berkaitan. Pertama, program peningkatan asupan gizi berupa pemberian telur kepada 234 balita selama tujuh bulan. Kedua, program pelatihan pemberdayaan perempuan kepada 27 kader. Ketiga, program pelatihan kesehatan mental kepada 36 remaja. Hasil menunjukkan bahwa pemberian telur pada balita sebagai penanganan sekaligus pencegahan stunting telah meningkatan berat badan dan tinggi badan balita. Perempuan kader pemberdayaan memperoleh wawasan tentang peran perempuan dalam pengasuhan positif di keluarga. Remaja sebagai generasi muda yang kelak akan membentuk keluarga menjadi lebih sadar urgensi merawat kesehatan fisik dan mental guna pencegahan stunting sejak dini. Efek positif dari pengabdian kepada masyarakat dapat dikembangkan secara lebih luas dalam bentuk kebijakan publik
Dinamika psikologis dan harapan mahasiswa sebagai generasi digital Muhammad Zulfa Alfaruqy; Isnaeni Anggun Sari
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol 9, No 2 (2023): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020232084

Abstract

Pandemi COVID-19 mempengaruhi berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Mahasiswa menjalani perubahan dari pembelajaran luring menjadi pembelajaran daring selama dua tahun terakhir. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dinamika psikologis, adaptasi, dan harapan pemuda generasi digital yang telah mengikuti pembelajaran daring (dalam jaringan) selama dua tahun. Penelitian didesain dengan pendekatan kualitatif eksploratif. Penelitian melibatkan 1114 orang generasi digital yang berstatus sebagai mahasiswa dan telah mengikuti pembelajaran daring selama dua tahun. Penggalian data memakai kuesioner open-ended. Analisis data menggunakan analisis konten dengan tiga tahap koding yaitu open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa generasi digital telah merasa nyaman, senang, dan mampu beradaptasi dengan pembelajaran daring, meskipun kadang diliputi rasa bosan, lelah, demotivasi, dan sulit memahami materi. Mayoritas mahasiswa (73,3%) merasa bahwa kondisi psikologis saat ini lebih baik daripada kondisi saat awal pandemi. Hal tersebut terjadi karena kemampuan adaptasi generasi digital yang didukung oleh fasilitas yang memadai, dukungan sosial, regulasi diri, sistem pembelajaran, dan lingkungan yang kondusif. Mahasiswa dominan (61,94%) berharap penyelenggaraan pembelajaran tatap muka dibandingkan pembelajaran daring. Optimalisasi proses belajar, kebutuhan interaksi sosial dan akses fasilitas kampus, serta kejenuhan atas pembelajaran daring menjadi alasannya. Penelitian berimplikasi pada urgensi keterampilan adaptasi generasi digital dalam situasi perubahan yang begitu cepat dan tidak pasti. Kebijakan publik yang mendukung pembelajaran tatap muka perlu diperhatikan dengan baik ketika pandemi COVID-19 telah terkendali.
Political Efficacy and Political Engagement in College Students Muhammad Zulfa Alfaruqy
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 2 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i2.10880

Abstract

College students are agents of change who are expected to participate and contribute to the nation and state. Students with their idealism are required to be actively engaged in influencing the process and making political decisions that have an impact on public policy. This study aims to examine the relationship between political efficacy and political engagement in college students, and to understand the motivation for political engagement. This study uses a mixed method consisting of quantitative comparison and qualitative description. This study involved 345 students from the cluster of Science and Technology at Diponegoro University to fill out the instruments, of which 3 students were assigned in the interview process. The first stage is data collection using the Political Efficacy Scale (α = 0.852, 11 items) and the Political Engagement Scale (α = 0.862, 16 items). Afterward, the second stage is data collection using in-depth interviews. The results of the study show that there is a significant positive relationship between political efficacy and political engagement in students. The correlation coefficient is 0.456 with a significance of 0.000 (p-value <0.05). Political efficacy makes an effective contribution of 20.8% to political engagement. The motivation for political engagement is personal awareness, perceived political effects, reinforcement from social environment, and uncertainty avoidance. This research has implications for the urgency of student awareness and the role of the social environment of students in fostering political engagement.Mahasiswa merupakan agen perubahan yang diharapkan turut serta berkontribusi bagi bangsa dan negara. Mahasiswa dengan idealismenya dituntut terlibat aktif dalam mempengaruhi proses dan pengambilan keputusan politik yang berdampak pada kebijakan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara efikasi politik dengan keterlibatan politik pada mahasiswa, serta memahami motivasi keterlibatan politiknya. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed method) yang terdiri dari kuantitatif komparatif dan kualitatif deskriptif. Penelitian melibatkan 345 mahasiswa dari rumpun ilmu sains dan teknologi (saintek) Universitas Diponegoro dalam pengisian skala, di mana 3 mahasiswa di antaranya dilibatkan dalam proses wawancara. Tahap pertama, penggalian data menggunakan Skala Efikasi Politik (α= 0,852, 11 aitem) dan Skala Keterlibatan Politik (α= 0,862, 16 aitem). Tahap kedua, penggalian data menggunakan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara efikasi politik dengan keterlibatan politik pada mahasiswa. Koefisien korelasi sebesar 0.456 dengan signifikansi 0.000 (p < 0.05) Efikasi politik memberi sumbangan efektif sebesar 20,8% terhadap keterlibatan politik. Motivasi keterlibatan politik adalah kesadaran personal, efek politik yang dirasakan, penguatan lingkungan sosial, dan pengindaran ketidakpastian. Penelitian ini berimplikasi pada urgensi kesadaran mahasiswa dan peran lingkungan sosial mahasiswa dalam menumbuhkan keterlibatan politik.
Peringatan Darurat: Political Engagement of Indonesian University Students amid Political Uncertainty Muhammad Zulfa Alfaruqy; Isnaeni Anggun Sari
Journal of Social and Industrial Psychology Vol. 14 No. 2 (2025): Journal of Social and Industrial Psychology
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sip.v14i2.39398

Abstract

Manuver elite politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah memicu lahirnya gerakan Peringatan Darurat yang melibatkan partisipasi publik secara luas, termasuk mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana keterlibatan politik (political engagement) mahasiswa dalam Peringatan Darurat yang penuh ketidakpastian politik. Penelitian kualitatif eksploratif ini menggunakan desain survei dengan melibatkan 500 mahasiswa sebagai partisipan. Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif untuk mengidentifikasi frekuensi dan persentase bentuk keterlibatan, serta analisis tematik untuk menggali makna atas Peringatan Darurat dan alasan yang melatarbelakangi setiap bentuk keterlibatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memaknai Peringatan Darurat sebagai simbol politik yang merepresentasikan situasi politik yang dipersepsikan genting, terutama terkait ancaman terhadap demokrasi dan supremasi hukum di mana terdapat upaya untuk melanggengkan politik dinasti serta menyalahgunakan kekuasaan. Namun, pemaknaan ini tidak bersifat tunggal. Sebagian mahasiswa memandang Peringatan Darurat sebagai pemicu meningkatnya kesadaran dan partisipasi politik, sementara sebagian lainnya menunjukkan kebingungan bahkan menilai gerakan ini secara negatif. Dalam merespons Peringatan Darurat, mahasiswa menampilkan bentuk political engagement yang beragam, dengan dominasi pada keterlibatan secara digital seperti pencarian informasi dan aktivisme di media sosial, sedangkan keterlibatan secara luring seperti demonstrasi relatif terbatas. Dengan menggunakan kerangka Uncertainty–Identity Theory, penelitian ini menunjukkan bahwa political engagement mahasiswa berfungsi sebagai strategi identitas untuk menavigasi ketidakpastian politik di era demokrasi digital, sekaligus menantang asumsi normatif yang menyamakan rendahnya mobilisasi massa dengan lemahnya political engagement.