Sitanggang, Rena Saputri Hilaria
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS HUBUNGAN KETINGGIAN TEMPAT DENGAN JENIS DAN KLASIFIKASI FLORA DI WILAYAH HUTAN SIBOLANGIT Rena Saputri Hilaria Sitanggang; Khairul Wahyudi; Pastuti Tafonao
Tunas Geografi Vol 6, No 2 (2017): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v6i2.8570

Abstract

Daerah penelitian adalah Cagar Alam Sibolangit yang merupakan bagian dari Tahura (taman hutan raya) di sumatera utara. cagar alam sibolangit ini memiliki luas 85,15 Ha. Tujuan penelitian ini adalah 1)mengetahui bagaimana ciri fisik vegetasi flora yang ada di hutan sibolangit, 2) menganalisis klasifikasi jenis flora yang tumbuh dengan suhu dan ketinggian tempat yang berbeda di hutan sibolangit. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode survey lapangan. Survey lapangan digunakan untuk mendapatkan data valid terkait ciri fisik flora untuk klasifikasi flora tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis flora yang tumbuh di hutan sibolangit sangat beragam dan diklasifikasikan ke dalam 3 filum yaitu: filum spermatophyta, herydophita, dan byrophita. Ketiga jenis filum ini mendominasi pada ketinggian berbeda. Pada ketinggian 700m – 900m filum yang mendominasi adalah spermatophyta dengan kelas Gymnospermae dan  angyospermae, ptherophyta, ricciocarpus sp, lycophyta, pada ketinggian 900m – 1100m didominasi filum pheryophyta dengan kelas Pherophyta dan sphenphyta serta lycophyta, angyospermae, bryophyta, hepatophyta dan pada ketinggian 1100m – 1300m, didominasi filum byrophyta dengan kelas Bryophyta dan hepatophyta serta rthocerophyta (mendominasi), ptheropchyta, sphenophyta, lycophyta, angyosmpermae.  Kata kunci : Ketinggian tempat, Klasifikasi flora , Filum, Kelas. AbstractThe research area is Sibolangit Nature Reserve which is part of Tahura (forest park) in north sumatera. sibolangit nature reserve has an area of 85.15 Ha. The objectives of this research are 1) to know how the physical characteristics of flora vegetation present in the sibolangite forest, 2) to analyze the classification of flora species that grow with the temperature and height of different places in the sibolangite forest. Data collection techniques in this study using field survey methods. A field survey was used to obtain valid data related to the physical characteristics of the flora for the classification of the florate. The results showed that the type of flora that grows in the forest sibolangit very diverse. And classified into 3 phyla namely: phylum spermatophyta, herydophita, and byrophita. These three types of phyla dominate at different heights. At the height of 700m - 900m the dominant phylum is spermatophyta with class Gymnospermae and angyospermae, ptherophyta, ricciocarpus sp, lycophyta, at an altitude of 900m - 1100m dominated pheryophyta phyla with class Pherophyta and sphenphyta as well as lycophyta, angyospermae, bryophyta, hepatophyta and at an altitude of 1100m - 1300m , dominated byumhyyta phyla by class Bryophyta and hepatophyta and rthocerophyta (dominate), ptheropchyta, sphenophyta, lycophyta, angyosmpermae.Keywords: Elevation of places, Classification of flora, Phylum, Class. 
Benang Emas Flobamorata: Sinergi Quintuple Helix Mengangkat Tenun Ikat NTT sebagai Penggerak Produksi, Ekonomi dan Bisnis Kreatif Sitanggang, Rena Saputri Hilaria; Sihombing, Midian Immanuel; Simanjuntak, Olaf Tri Wilopo
The World of Financial Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wfaj.v7i2.2431

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sinergi antaraktor dalam kerangka Quintuple Helix—pemerintah, bisnis, akademisi, komunitas/media, dan lingkungan—dalam pemberitaan mengenai tenun ikat Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai penggerak produksi, ekonomi, dan bisnis kreatif. Pendekatan yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif terhadap 50 berita daring dari berbagai media lokal dan nasional yang terbit antara Januari 2021 hingga September 2025. Data dikodekan secara biner (1 = ada peran, 0 = tidak ada peran) untuk mengukur visibilitas setiap unsur helix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa helix pemerintah (96 %), komunitas (94 %), dan bisnis (90 %) mendominasi pemberitaan, sementara akademisi (54 %) dan lingkungan (24 %) masih kurang terlibat. Pola kolaborasi yang terbentuk cenderung top-down dan bersifat seremonial, belum sepenuhnya berorientasi pada inovasi berkelanjutan. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan peran akademisi dan lingkungan melalui riset-desain terapan, inovasi hijau, dan digitalisasi pemasaran. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan literatur tentang penerapan model Quintuple Helix dalam konteks ekonomi kreatif berbasis budaya di Indonesia serta menawarkan pendekatan metodologis baru melalui pemetaan visibilitas aktor berbasis media sebagai dasar rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Kata kunci: Quintuple Helix, tenun ikat, ekonomi kreatif, analisis isi, Nusa Tenggara Timur   Abstract This study aims to analyze the synergy among actors within the Quintuple Helix framework—government, business, academia, community/media, and the environment—in news coverage of tenun ikat (traditional woven fabric) from East Nusa Tenggara (NTT), Indonesia, as a driver of production, economy, and creative business. A quantitative content analysis was conducted on 50 online news articles published between January 2021 and September 2025 by local and national media outlets. Data were coded using a binary scale (1 = presence of role; 0 = absence of role) to measure the visibility of each helix element. The findings reveal that government (96 %), community (94 %), and business (90 %) actors dominate the coverage, while academia (54 %) and the environment (24 %) remain underrepresented. The collaboration pattern tends to be top-down and ceremonial rather than innovation-oriented. These results highlight the need to strengthen the roles of academia and environmental actors through applied research, green innovation, and digital marketing integration. This study contributes to the growing literature on the Quintuple Helix innovation model in culture-based creative economies and introduces a novel methodological approach—media-based visibility mapping—to inform evidence-based regional creative economy policy. Keywords: Quintuple Helix, tenun ikat, creative economy, content analysis, East Nusa Tenggara