Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

UJI AKTIVITAS PENANGKAP RADIKAL BEBAS DAN PENETAPAN KADAR FENOLIK TOTAL EKSTRAK ETANOL TIGA RIMPANG GENUS CURCUMA DAN RIMPANG TEMU KUNCI (Boesenbergia pandurata) Muhammad Da'i
Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/pharmacon.v12i1.47

Abstract

Radikal bebas bersifat sangat reaktif sehingga sangat mudah menyerang sel- sel sehat di dalam tubuh yang berujung pada timbulnya suatu penyakit. Tubuh memerlukan antioksidan dari luar untuk melindungi tubuh dari serangan radikal bebas. Beberapa jenis curcuma dan rimpang temu kunci mengandung senyawa fenolik yang mempunyai aktivitas antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara aktivitas penangkap radikal bebas dan kadar fenolik yang terdapat dalam rimpang kunyit (Curcuma domestica), rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza), rimpang temu putih (Curcuma zedoaria) dan rimpang temu kunci (Boesenbergia pandurata). Penentuan potensi aktivitas penangkap radikal bebas menggunakan metode DPPH dengan pembanding vitamin E. Kadar fenolik total diukur sebagai GAE menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu. Besarnya korelasi dihitung menggunakan persamaan regresi linear dan dilihat nilai R2. Aktivitas penangkap radikal bebas (IC50) ekstrak etanol rimpang kunyit (29,64 µg/mL) memiliki aktivitas paling tinggi, tetapi lebih rendah dari vitamin E (12,55 µg/mL). Kadar fenolik total (GAE) tertinggi adalah ekstrak etanol rimpang rimpang kunyit (179,71 mg/g). Terdapat korelasi positif antara aktivitas penangkap radikal bebas dan kadar fenolik total dalam empat ekstrak tersebut dengan koefisien korelasi R2 = 79,56 %. Kata kunci: antioksidan, fenolik total, DPPH, korelasi.
SINTESIS SENYAWA ANALOG KURKUMIN 3,5-BIS-(4’-HIDROKSI-3’-METOKSI BENZILIDIN)-PIPERIDIN 4-ON (MONOHIDRAT HIDROKLORIDA) DENGAN KATALIS HCl Muhammad Da'i
Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/pharmacon.v11i1.67

Abstract

Kurkumin merupakan senyawa yang mempunyai aktivitas biologis sebagai antialzheimer, antiinflamasi, antioksidan, antikanker dan anti-HIV. Stabilitas kurkumin dipengaruhi oleh pH lingkungan dan cahaya karena ada gugus metilen aktif pada β-diketon. Oleh karena itu, dibutuhkan modifikasi gugus β-diketon menjadi gugus monoketon untuk menghilangkan gugus metilen aktif sehingga dapat meningkatkan stabilitas dari analog kurkumin. Berdasar analisis tersebut dapat dikembangkan sintesis analog kurkumin 3,5-bis-(4׳-hidroksi-3׳-metoksi-benzilidin)-piperidin-4-on monohidrat hidroklorida dari reaksi kondensasi aldol antara starting material vanilin dan piperidin 4-on monohidrat hidroklorida dengan katalis asam (HCl). Metode sintesis dioptimasi dari perbandingan perubahan suhu dan pH sedangkan analisis senyawa hasil sintesis dilakukan secara kualitatif. Analisis tersebut antara lain, perubahan warna, KLT-densitometri, spektrofotometri UV-Vis, dan LC-ESI-MS. Hasil penelitian menunjukkan pada metode sintesis refluks dengan suhu 80-90 oC, perbandingan mol 2:1 (mmol), dan pH 2 dapat disintesis senyawa analog kurkumin 3,5-bis-(4׳-hidroksi-3׳-metoksi-benzilidin)-piperidin-4-on monohidrat hidroklorida. Identifikasi senyawa tersebut diperoleh dari perubahan warna menjadi orange, hasil KLT terdapat spot baru yang berfluorosensi, hasil spektrofotometri UV-Vis terjadi batochromic shift, dan hasil LC-ESI-MS terdapat ion molekul yang sama dengan BM molekul target.  Kata kunci: analog kurkumin 3,5-bis-(4’-hidroksi-3’-metoksi-benzilidin) piperidin 4-on monohidrat hidroklorida, katalis HCl, kondensasi aldol, spektrofometri UV-Vis,  LC-ESI-MS
UJI AKTIVITAS PENANGKAP RADIKAL DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) ISOLAT ALFA MANGOSTIN KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) Muhammad Da'i
Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/pharmacon.v11i2.54

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan sumber senyawa ksanton yang memiliti potensi sebagai penangkap radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi isolat aktif sebagai antiradikal dari isolat alfa mangostin kulit buah manggis. Kulit buah manggis sejumlah    850 g dimaserasi berulang menggunakan pelarut heksan (2,5 L selama dua hari)  dan diisolasi dengan metode partisi menggunakan metanol hangat dan  aquades (20:1). Analisis isolat yang didapat menggunakan Kromatografi lapis Tipis (KLT) dan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Aktivitas penangkap radikal ditentukan dengan menggunakan pereaksi DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) kemudian dihitung nilai Inhibitory Concentration (IC50), Efficiency Concentration (EC50), dan Antiradikal Power (ARP). Hasil ekstraksi diperoleh rendemen 0,41%, sedangkan hasil isolasi diperoleh rendemen 0,33%. Konfirmasi senyawa dengan KLT dan HPLC menunjukkan isolat belum murni.  Pengukuran aktivitas penangkapan radikal DPPH diketahui bahwa isolat alfa mangostin memiliki aktivitas yang tinggi sebagai penangkap radikal DPPH dengan nilai IC50 13,68 µg/ml, namun aktivitas penangkap radikalnya lebih kecil bila dibandingkan dengan vitamin E (IC50 12,50 µg/ml). Alfa mangostin dapat diisolasi dengan metode partisi metanol hangat : aquades (20:1).  Kata kunci: Manggis (Garcinia mangostana L.), Penangkap Radikal, DPPH -language:AR-SA' Tanah, Tanaman kangkung (Ipomoea aquatica), kadar Pb, kadar Cd, Bioaccumulation Factor (BAF).
PROGRAM EDUKASI BIJAK MEMILIH OBAT TRADISIONAL MENGGALI POTENSI HERBAL UNTUK MENGHINDARI RISIKO EFEK SAMPING Muhammad Nurul Fadel; Eko Retnowati; Nurlena Ikawati; Hidayah Karuniawati; Muhammad Da'i; Emma Jayanti Besan
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 7, No 2 (2025): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v7i2.3037

Abstract

Penggunaan obat tradisional masih tinggi di masyarakat, namun sebagian besar didasarkan pada informasi empiris tanpa pengetahuan ilmiah yang memadai. Hal ini berpotensi menimbulkan penggunaan yang tidak rasional dan risiko efek samping. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terkait pemilihan dan penggunaan obat tradisional secara aman dan berbasis bukti ilmiah. Pengabdian dilaksanakan di Desa Sanggrahan, Kecamatan Potronayan, Nogosari, Boyolali pada 15 Juni 2025 dengan sasaran 52 Ibu-ibu PKK. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi, serta evaluasi pre-test dan post-test menggunakan kuesioner. Materi mencakup pengenalan jenis obat tradisional (jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka), kandungan kimia tanaman obat seperti kurkuminoid, xanthorrhizol, dan andrographolide, manfaat dan risiko penggunaannya, serta cara mengenali produk herbal legal dan ilegal. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata nilai pengetahuan dari 55,3 (pre-test) menjadi 85,7 (post-test) atau naik 30,4 poin. Peserta antusias dan mampu membedakan produk herbal aman serta memahami pentingnya izin edar BPOM. Sebanyak 92% peserta merasa kegiatan ini bermanfaat dan berharap ada edukasi lanjutan. Kegiatan ini efektif meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih obat tradisional dan mendorong perilaku penggunaan herbal yang aman dan rasional. Edukasi berbasis komunitas direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dan diperluas ke wilayah lain.. AbstractThe use of traditional medicines remains high in the community, but most practices are based on empirical information without adequate scientific knowledge. This may lead to irrational use and potential adverse effects. This community service activity aimed to improve public health literacy on the safe and evidence-based use of traditional medicines. The program was conducted in Sanggrahan Village, Potronayan Subdistrict, Nogosari, Boyolali, on June 15, 2025, targeting 52 PKK (Family Welfare Movement) women. The methods included interactive lectures, discussions, demonstrations, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The materials covered the classification of  traditional medicines (jamu, standardized herbal medicines, phytopharmaceuticals), chemical constituents of medicinal plants such as curcuminoids, xanthorrhizol, and andrographolide, their benefits and risks, as well as how to identify legal and illegal herbal products. The results showed an increase in the average knowledge score from 55.3 (pre-test) to 85.7 (post-test), with a 30.4-point improvement. Participants were enthusiastic and able to distinguish safe herbal products and understand the importance of BPOM (Indonesian FDA) registration. About 92% of participants stated that this activity was beneficial and expected further education on the proper use of traditional medicines. This program effectively increased public awareness to be more selective in choosing traditional medicines and encouraged safe and rational herbal use. Community-based health education is recommended to be implemented sustainably and expanded to other areas.